Sabtu, 30 Mei 2026

            

Jebolnya Benteng Gajah di Aceh 

Aceh menjadi rumah bagi populasi gajah terbesar di Sumatera. Lanskap ini juga merupakan tempat terakhir di bumi di mana badak, gajah, harimau, dan orang utan sumatera hidup bersama di alam liar. Deforestasi dan tata ruang menjadi ancaman, yang berujung pada konflik, perburuan, dan angka kematian yang tinggi.


Kamis, 30 April 2026
Kawanan gajah sumatra di Aceh. Dok. WWF-Indonesia
Sorot

Simpang Siur Perangkat Regulasi Penyelamatan Gajah

Konservasi gajah membutuhkan keajaiban regulasi karena nihil strategi. Apakah Inpres Konservasi dan penyelamatan ala Prabowo dapat menyelamatkan gajah?


Selasa, 28 April 2026
Kelompok gajah sumatera yang terpantau di bentang alam Bukit Tigapuluh, Jambi. Foto: Geopix
Sorot

Nasib Gajah Sumatera: Nyawa Dihabisi, Rumah Dihancurkan

Hilangnya hutan alam di habitat gajah memperbesar potensi konflik antara satwa dan manusia. Menurut Status Deforestasi Indonesia (STADI) 2025, kehilangan hutan alam di habitat gajah sumatera sepanjang 2025 saja mencapai 25.301 hektare.


Senin, 27 April 2026
Tim medis tengah melakukan nekropsi atau bedah bangkai terhadap bangkai gajah mati di konsesi PT RAPP, pada Selasa (3/2/2026). Foto: Kemenhut.
Sorot

Black Out Sumatera: Rentannya Listrik Skala Besar

Padam listrik total yang berulang kali adalah tanda pembangunan infrastruktur kelistrikan skala besar memiliki kerentanan terhadap terjadinya disrupsi skala besar.

Senin, 25 Mei 2026
Ilustrasi jaringan listrik
Berita

Ancaman Udara Beracun PLTSa Tamalanrea

Rencana pembangunan PLTSa di Kota Makassar, Kecamatan Tamalanrea memendam ancaman udara beracun.

Minggu, 24 Mei 2026
Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Bantar Gebang. foto : bppt.go.id
Berita

Risiko Gigitan Ular Naik Seiring Adaptasi Terhadap Krisis Iklim

Krisis iklim dan perubahan lanskap mendorong sejumlah besar ular paling mematikan di dunia menyebar ke wilayah tempat populasi manusia berada.

Sabtu, 23 Mei 2026
Ular krait berpita di Asia. Menurut studi terbaru dari WHO, adaptasi reptilia ini terhadap perubahan iklim akan mendorongnya berpindah habitat ke wilayah yang tidak terlalu panas, sehingga meningkatkan frekuensi kontak dengan manusia. Dok. Ecology Asia
Berita