Kawasan Saleh-Moyo-Tambora dan Togean Tojo Una-Una Jadi Cagar Biosfer Dunia

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Betahita.id – Kawasan Saleh-Moyo-Tambora di Nusa Tenggara Barat dan Togean Tojo Una-Una di Sulawesi Tengah masuk dalam daftar Cagar Biosfer Dunia. Keputusan itu diambil dalam pertemuan Program Manusia dan Biosfer (MAB) UNESCO, yang digelar di Paris, Rabu, 19 Juni 2019.

Baca juga: Kisah BKSDA Riau Musnahkan Kebun Sawit Ilegal di Cagar Biosfer

Selain Saleh-Moyo-Tambora dan Togean Tojo Una-Una, 16 cagar biosfer di 11 negara juga ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Dunia. Saat ini, terdapat 701 cagar biosfer di 124 negara di seluruh dunia.

Pertemuan Dewan Koordinasi Internasional Program Manusia dan Biosfer UNESCO (MAB-ICC), yang digelar di Paris, 17 – 21 Juni 2019, menyetujui penambahan ini bersama dengan perpanjangan delapan cagar biosfer yang ada.

Kerajaan Eswatini bergabung dengan Jaringan MAB tahun ini dengan situs pertamanya, Cagar Biosfer Lubombo. Masuknya Nordhordland menandai komitmen baru Norwegia untuk program biosfer, 22 tahun setelah pencoretan satu-satunya situs mereka, Cagar Biosfer Northeast Salvbard.

“Ada kebutuhan mendesak demi keanekaragaman hayati sebagai warisan lingkungan kita bersama. Setelah mendiagnosis masalah yang disorot oleh laporan Platform Kebijakan-Ilmu Antar Pemerintah tentang Layanan Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem (IPBES), vitalitas Jaringan Cagar Biosfer Dunia memberi kita harapan,” kata Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, seperti dimuat situs resmi UNESCO.

“Setiap cagar biosfer UNESCO adalah laboratorium langit terbuka untuk pembangunan berkelanjutan, untuk solusi nyata dan langgeng, untuk inovasi dan praktik yang baik. Mereka menyegel aliansi baru antara dunia sains dan pemuda, antara manusia dan lingkungan.”

Cagar Biosfer UNESCO berupaya merekonsiliasi aktivitas manusia dengan konservasi keanekaragaman hayati melalui penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Ini mencerminkan tujuan utama UNESCO dalam mendorong praktik-praktik pembangunan berkelanjutan yang inovatif dan memerangi hilangnya keanekaragaman hayati dengan mendampingi masyarakat dan negara anggota dalam  memahami, menghargai, dan menjaga lingkungan hidup.

Didirikan oleh UNESCO pada awal 1970-an, Program Manusia dan Biosfer adalah program ilmiah antar pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan antara manusia dan lingkungan alam mereka. Ini adalah inisiatif perintis  gagasan pembangunan berkelanjutan.

Cagar Biosfer Saleh-Moyo-Tambora “SAMOTA” (Indonesia), terletak di antara Cagar Biosfer Rinjani-Lombok dan Pulau Komodo, meliputi area seluas 724.631,52 hektar, terdiri dari lima ekosistem utama: pulau-pulau kecil, kawasan pantai bakau, pesisir, dataran rendah dan hutan gunung, serta sabana.

Baca juga: Cagar Biosfer: Teluk Saleh, Pulau Moyo, Taman Nasional Tambora

Cagar Biosfer ini dihuni 146.000 warga dari berbagai kelompok etnis. Daerah intinya memainkan peran penting dalam melestarikan keanekaragaman hayati di kawasan itu sementara zona penyangga dan daerah transisinya memiliki potensi pertanian untuk produksi buah dan sayuran, serta padi, kopi dan kakao, dan peternakan.

Keindahan Pegunungan Tambora memiliki potensi wisata, sementara masyarakat Pulau Sumba menarik wisata budaya.

Cagar Biosfer Togean Tojo Una-Una  meliputi area seluas 2.187.632 hektar di sebuah kepulauan dengan 483 pulau di Sulawesi Tengah, di jantung Segitiga Terumbu Karang, menampilkan keanekaragaman karang tertinggi di dunia, serta hutan bakau dan ekosistem pulau kecil.

Kepulauan Togean menampung 363 spesies tanaman, termasuk 33 spesies mangrove. Di sini juga ada spesies langka termasuk tarsius (Tarsius spectrum palengensis) dan monyet Togean (Macaca togeanus), serta babirusa Togean, kuskus, duyung, paus dan lumba-lumba.

Ikan terumbu karang berlimpah, dengan 596 spesies menghuni Taman Nasional Kepulauan Togean. Daerah ini juga merupakan tempat pemijahan penting bagi penyu dan ikan. Kawasan ini dihuni 149.214 orang dengan keanekaragaman budaya yang luar biasa.

Berita lain tentang cagar biosfer dan konservasi bisa Anda ikuti di Betahita.id.

TERAS.ID | TEMPO.CO

Habitat Dirusak, 12 Ekor Gajah Menyerang Pemukiman Warga
Tesso Nilo Jadi Kebun Sawit, 6 Gajah Ganggu Pemukiman
Share.

About Author

Leave A Reply