Penghujung 2019, 4 Badak Lahir di Taman Nasional Ujung Kulon

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Betahita.id – Kabar baik datang dari Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), setelah diketahui dari rekaman video trap yang ditemukan per September 2019 terlihat 4 ekor anak badak jawa.

Anggodo, Kepala Balai TNUK  mengatakan bahwa ada 4 individu badak baru lahir. “Benar, ada 4 anak badak lahir terlihat dari video trap, tadinya 68 badak, lahir 4 ekor sepanjang 2019, jadi sekarang total  72 ekor Badak Jawa,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Jumat, 13 Desember 2019.

Baca juga: Dirjen KSDAE: Badak Jawa yang Mati Muda itu Bernama Manggala

Awal tahun, tepatnya 21 Maret lalu, ditemukan badak jawa terakhir sudah menjadi bangkai ditemukan tim patroli di wilayah hutan Citadahan, salah satu wilayah konsentrasi populasi badak Jawa di bagian selatan taman nasional pada 21 Maret 2019.

Menurut Anggodo, jumlah 72 badak di TNUK saat ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 1967, 1980, 1983, dan sampai 2007 yang berjumlah 64 ekor. “Mudah-mudahan aman dan terus berkembang, karena sebelumnya belum sampai angka 72 ekor ini,” katanya.

gilang helindro

Video trap menangkap pergerakan anak Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). foto istimewa/TNUK

 

Keempat individu badak ini lahir dari induk betina bernama Mantili, Srikandi, Suci dan Tiara. Diperkirakan anak badak masih berumur 1-2 bulan. “Anakan Badak belum kami beri nama, saat ini baru dilaporkan ke dirjen dan kementerian,” kata Anggodo.

Berdasarkan hasil monitoring badak, dari total 72 badak terdiri dari 38 badak jantan, 33 beina, dan 1 yang belum teridentifikasi. Sedangkan untuk kelas umur terdiri dari 15 individu anak, dan 57 berumur remaja dan dewasa.

Badak Jawa merupakan jenis terlangka dari lima jenis badak yang tersisa di dunia, dengan status Critically Endangered atau terancam punah, menurut daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Badak Jawa hanya terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.

Tantangan dan Harapan Badak Jawa

Menurut Ir Wiratno, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Dirjen KSDAE), TNUK memiliki sistem patroli yang kuat sehingga aman dari perburuan liar. Selain itu, saat ditemukan bangkai badak Jawa bernama Manggala awal tahun lalu itu masih utuh.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengindikasikan kematian seekor badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, baru-baru ini tidak disebabkan oleh perburuan liar.

Anggodo mengatakan TNUK mempunyai misi untuk menjamin kelestarian minimal 90 individu badak jawa hingga 2029. “Serta menyediakan second habitat yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi,” katanya.

gilang helindro

Video trap menangkap pergerakan anak Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). foto istimewa/TNUK

Masuknya renaksi second habitat dalam konservasi badak jawa, kata Anggodo, itu lantaran kekhawatiran para pakar dan peneliti akan potensi bencana. seperti halnya gempa bumi, tsunami dan letusan gunung anak krakatau.

“Kalau second habitat ini kan sebetulnya kekhawatiran dari pihak-pihak pakar, bahwa badak yang tinggal disemenjung ini akan semakin berkurang atau punah,” Meski begitu, Anggodo belum mengetahui secara pasti lokasi yang akan dipilih menjadi habitat kedua untuk satwa purba yang masuk dalam warisan dunia itu.

Selain second habitat, Anggodo memiliki empat strategi tujuan lainya yang disiapkan, diantaranya pengembangan wilayah dan sistem pengelolaan kawasan yang menjamin peningkatan populasi dan kualitas habitat badak jawa. Strategi keduanya, yakni mengembangkan sistem pengelolaan yang menjamin peningkatan kuantitas dan kualitas individu di TNUK.

Ketiga, kata Anggodo, membentuk metapopulasi badak jawa di second habitat. “Kini di TNUK telah memiliki Javan Rhino Sanctuary and Conservation Area (JRSCA),” ungkapnya.

Strategi itu disiapkan untuk menghadapi tantangan yang bakal dihadapi di masa mendatang. Tantangan itu berupa luas habitat efektif badak jawa diperkirakan hanya 60% dari luas semenanjung TNUK, ancaman bencana tsunami dan gempabumi, kegiatan ilegal, penyakit, dan sex ratio jantan dan betina yang tidak seimbang serta adanya potensi inbreeding atau kawin sedarah.

Dirjen KSDAE: Badak Jawa yang Mati Muda itu Bernama Manggala
Share.

Leave A Reply