[{"fotoId":"23","fotoUserId":"15","fotoEccaId":null,"fotoTitle":"Jelaga Beracun di Langit Holtekamp","fotoDetail":"

BETAHITA.ID - <\/strong> PEMANFAATAN batu bara sebagai sumber energi telah menjadi sejarah panjang dalam perkembangan industri modern, salah satunya yaitu penggunaan batu bara sebagai bahan bakar dalam industri Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Meskipun PLTU ini bisa memberikan beberapa dampak yang positif untuk masyarakat, namun seperti halnya dengan banyak sumber energi tak terbarukan lainnya, justru penggunaan industri berbahan batu bara banyak memiliki dampak negatif yang terbilang sangat signifikan dan berbahaya. Dampak negatif yang muncul berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat sekitar, mulai dari segi lingkungan, mata pencaharian, sampai pada persoalan yang menyangkut dengan kesehatan masyarakat.<\/span><\/p>\n

Di Kampung Holtekamp, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, terdapat industri PLTU yang sudah beroperasi sejak tahun 2014 silam sampai sekarang. Menurut Mongabay (2017), PLTU yang berkapasitas 2x10 MW ini akan menghabiskan batu bara 10.000 metrik ton per bulan. Bukan hanya letaknya yang berada tepat di tepi bibir pantai, PLTU ini juga berdekatan langsung dengan pemukiman masyarakat Kampung Holtekamp, terkhususnya di RW 3.<\/span><\/p>\n

Batu bara mengandung berbagai jenis unsur racun, termasuk logam berat dan radioaktif. Penggunaan batu bara sebagai bahan bakar untuk PLTU juga berpotensi menimbulkan berbagai macam racun dan bahaya lainnya. Hasil dari pembakaran batu bara PLTU bisa menghasilkan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA), dan ketika batu bara di bakar di PLTU maka racun yang terkandung di dalam batu bara akan terkonsentrasi pada hasil pembakarannya, berupa abu terbang dan abu padat (FABA). Polusi dan FABA yang dihasilkan dapat mencemari lingkungan secara keseluruhan termasuk laut, hal ini bisa mengancam segala macam ekosistem di perairan dan ketersediaan air bersih. Polutan berbahaya seperti arsenik dan bahan kimia beracun lainnya dapat mengendap dalam air, tanah, dan bisa mengancam kesehatan masyarakat.<\/span><\/p>\n

Di balik dampak yang muncul akibat dari aktivitas industri PLTU di Kampung Holtekamp itu, terselip narasi perubahan, kegelisahan, geliat, kekuatan, serta relasi-relasi yang kompleks tetapi saling terkait dari Kampung Holtekam, Jayapura.<\/span><\/p>\n

<\/p>\n

JELAGA SEJAK 2014.<\/strong> Lokasi PLTU dan tempat penampungan batu bara terlihat jelas di Kampung Holtekamp Distrik Muara Tami (Foto: Mega Puspita, Papua Sista Leadership).<\/p>\n


\n

<\/p>\n

FUNGSI LAIN KELAMBU.<\/strong> Bukan hanya di kamar, kelambu juga dipasang di halaman rumah di Holtekamp. Kelambu ini digunakan untuk menutupi sumur air, agar bisa menahan pecahan maupun partikel batu bara yang jatuh dan beterbangan (Foto: Wangi Tafakur<\/span>, <\/span>Papua Sista Leadership).<\/span><\/p>\n


\n

<\/p>\n

10 GALON PER TIGA BULAN PER RUMAH, CUKUP?<\/strong> Hampir setiap rumah di RW 3 memiliki tong besar di dapur untuk menampung air bersih. Nampak seorang anak Holtekamp sedang memperlihatkan tempat penampungan air bersih mereka. Biasanya pihak PLTU memberikan sebanyak 10 galon air bersih tiap 3 bulan per rumah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi air bersih (Foto: Wangi Tafakur<\/span>, <\/span>Papua Sista Leadership).<\/span><\/p>\n


\n

<\/p>\n

RUANG HIDUP YANG HILANG BERNAMA TERAS.<\/strong> sebuah ayunan bayi berwarna putih, biru, merah tergantung lepas di teras rumah warga Holtekamp. Ketika sedang tidak ada pembakaran batu bara, masyarakat berkesempatan beraktivitas di teras rumah mereka (Foto: Wangi Tafakur<\/span>, <\/span>Papua Sista Leadership)<\/span>.<\/p>\n


\n

<\/p>\n

JELAGA DAN BENCANA ITU.<\/strong> Partikel debu halus berwarna hitam di telapak tangan yang dihasilkan dari proses pembakaran batu bara PLTU Holtekamp (Foto: Wangi Tafakur<\/span>, <\/span>Papua Sista Leadership)<\/span>. <\/p>\n


\n

<\/p>\n

BERTETANGGA DENGAN LIMBAH BERBAHAYA.<\/strong> Salah satu rumah panggung warga di samping kali yang berbatasan langsung dengan tempat penampungan batu bara (Foto: Mega Puspita, Papua Sista Leadership)<\/span>.<\/p>\n


\n

<\/p>\n

DARI DARAT KE LAUT.<\/strong> Sebuah gorong-gorong dengan air kehitaman. Gorong-gorong tersebut terhubung dengan selokan dekat pembakaran batu bara yang membawa air ke arah pantai (Feni F. Wenda, Papua Sista Leadership)<\/span>.<\/p>\n

<\/p>\n

PEREMPUAN BERSUARA.<\/strong> Salah satu tokoh perempuan yang tinggal di RW 3. Ia aktif menyuarakan dampak yang dirasakan oleh masyarakat akibat aktivitas PLTU di Holtekamp (Wangi Tafakur, Papua Sista Leadership)<\/span>.<\/p>\n

*) Papua Sista Leadership adalah platform jaringan kepemimpinan bagi perempuan muda Papua yang diinisiasi Papua Democratic Institute (PD-Institute) dan didukung oleh Yayasan Humanis.<\/em><\/p>","fotoSaved":"2024-11-13 10:18:48","fotoStatus":"1","ftimId":"24","ftimfotoId":"23","ftimArimId":"9296","ftimSaved":"2024-11-13 09:38:40","ftimStatus":"1","arimId":"9296","arimTitle":"Pecahan batu bara","arimCaption":"Pecahan batu bara yang menyebar di sekitar pemukiman masyarakat. Pecahan ini juga terkadang bisa ditemukan di sekitar pantai Holtekamp (Wangi Tafakur).","arimFileType":"jpg","arimUserIdSaved":"1","arimSaved":"2024-11-13 09:15:53","arimActive":"1","newsTitle":"Jelaga Beracun di Langit Holtekamp","newsExcerpt":"","link":"\/multimedia\/foto\/23\/jelaga-beracun-di-langit-holtekamp.html?v=1775813631","publish":"Rabu, 13 November 2024","image":"\/\/cdn.betahita.id\/9\/2\/9\/6\/9296.jpg"},{"fotoId":"22","fotoUserId":"8","fotoEccaId":null,"fotoTitle":"Buka Sasi Kapatcol di Laut Raja Ampat","fotoDetail":"

BETAHITA.ID - <\/strong> Kelompok Perempuan Waifuna, di Kampung Kapatcol, Misool Barat, Raja Ampat, Papua Barat Daya, merupakan kelompok perempuan pertama yang memperoleh wilayah kelola di laut. Mereka mengelola wilayah seluas 213 hektare, dan memberlakukan sasi selama setahun. Dalam periode ini, warga kampung tidak boleh mengambil biota laut. Tujuannya agar hasil laut bisa tumbuh dan berkembang lebih dahulu. Ini merupakan model ekonomi yang mengutamakan prinsip keberlanjutan seraya tetap memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. <\/p>\n

Seorang perempuan dari Kampung Kapatcol, Misool Barat, Raja Ampat, Papua Barat Daya, melakukan penyelaman untuk mengambil biota laut. Dok Adia Puja Pradana\/YKAN<\/em><\/span><\/p>\n

Generasi muda Kelompok Sasi Perempuan Waifuna, Yolanda Kacili (kiri) dan Yonance Hay (kanan), memperlihatkan hasil tangkapan pada buka sasi di Kampung Kapatcol, Misool Barat, Raja Ampat, Papua Barat Daya, Senin, 25 Maret 2024. Dok Adia Puja Pradana\/YKAN<\/em><\/span><\/p>\n

<\/em><\/span>Pencabutan papan sasi oleh Ketua Kelompok Sasi Perempuan Waifuna, Almina Kacili, didampingi tetua adat dan pemuka agama Kampung Kapatcol, Senin, 25 Maret 2024. Dok Adia Puja Pradana\/YKAN<\/em><\/span><\/p>\n

<\/em><\/span>Lola, salah satu hasil panen dari buka sasi oleh Kelompok Perempuan Waifuna, Kampung Kapatcol, Misool Barat, Raja Ampat, Papua Barat Daya, Senin, 25 Maret 2024. Dok Adia Puja Pradana\/YKAN<\/em><\/span><\/p>\n

<\/em><\/span><\/p>\n

Kelompok Sasi Perempuan Waifuna bersama hasil tangkapan laut pada upacara buka sasi di Kampung Kapatcol, Misool Barat, Raja Ampat, Papua Barat Daya, Senin, 25 Maret 2024. Dok Adia Puja Pradana\/YKAN<\/em><\/span><\/p>","fotoSaved":"2024-03-27 21:02:38","fotoStatus":"1","ftimId":"23","ftimfotoId":"22","ftimArimId":"8628","ftimSaved":"2024-03-27 21:02:38","ftimStatus":"1","arimId":"8628","arimTitle":"buka sasi kapatcol raja ampat","arimCaption":"Ketua Kelompok Sasi Perempuan Waifuna di Kapatcol, Raja Ampat, Almina Kacili, memegang teripang dan lola, hasil buka sasi yang dimulai pada Senin, 25 Maret 2024. Dok Adia Puja Pradana\/YKAN","arimFileType":"jpg","arimUserIdSaved":"1","arimSaved":"2024-03-27 20:47:48","arimActive":"1","newsTitle":"Buka Sasi Kapatcol di Laut Raja Ampat","newsExcerpt":"","link":"\/multimedia\/foto\/22\/buka-sasi-kapatcol-di-laut-raja-ampat.html?v=1775813631","publish":"Rabu, 27 Maret 2024","image":"\/\/cdn.betahita.id\/8\/6\/2\/8\/8628.jpg"},{"fotoId":"21","fotoUserId":"9","fotoEccaId":null,"fotoTitle":"Wilayah Kelola Rakyat Solusi Iklim di Kamojang","fotoDetail":"

BETAHITA.ID - <\/strong> Petani muda, bertani kopi di Desa Ibun, Kamojang. Berjuang untuk keadilan ruang dan keadilan ekologis di bentang alam pegunungan Kamojang. Foto: Walhi <\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

<\/p>\n

<\/p>\n

<\/span><\/p>","fotoSaved":"2023-03-29 12:49:10","fotoStatus":"1","ftimId":"22","ftimfotoId":"21","ftimArimId":"7669","ftimSaved":"2023-03-21 12:10:37","ftimStatus":"1","arimId":"7669","arimTitle":"Wilayah Kelola Rakyat Solusi Iklim di Kamojang","arimCaption":"Petani muda, bertani kopi di Desa Ibun, Kamojang. Berjuang untuk keadilan ruang dan keadilan ekologis di bentang alam pegunungan Kamojang.","arimFileType":"jpeg","arimUserIdSaved":"1","arimSaved":"2023-03-21 12:08:48","arimActive":"1","newsTitle":"Wilayah Kelola Rakyat Solusi Iklim di Kamojang","newsExcerpt":"","link":"\/multimedia\/foto\/21\/wilayah-kelola-rakyat-solusi-iklim-di-kamojang.html?v=1775813631","publish":"Rabu, 29 Maret 2023","image":"\/\/cdn.betahita.id\/7\/6\/6\/9\/7669.jpeg"},{"fotoId":"20","fotoUserId":"9","fotoEccaId":null,"fotoTitle":"Proyek PLTA Batang Toru","fotoDetail":"

BETAHITA.ID - <\/strong> Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru adalah proyek pembangkit listrik yang sedang dibangun yang berlokasi di sungai Batang Toru di Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara di Indonesia. Pembangkit listrik dijadwalkan akan beroperasi pada tahun 2022 dan dirancang untuk kapasitas 4x127,5 MW.<\/span><\/p>","fotoSaved":"2023-02-16 11:25:01","fotoStatus":"1","ftimId":"21","ftimfotoId":"20","ftimArimId":"7538","ftimSaved":"2023-02-16 11:25:01","ftimStatus":"1","arimId":"7538","arimTitle":"Proyek PLTA Batang Toru","arimCaption":"Pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Batang Toru dengan kapasitas 4\u00d7127,5 MW ini berlokasi di Sungai Batang Toru, Desa Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara.","arimFileType":"jpg","arimUserIdSaved":"1","arimSaved":"2023-02-16 11:14:03","arimActive":"1","newsTitle":"Proyek PLTA Batang Toru","newsExcerpt":"","link":"\/multimedia\/foto\/20\/proyek-plta-batang-toru.html?v=1775813631","publish":"Kamis, 16 Februari 2023","image":"\/\/cdn.betahita.id\/7\/5\/3\/8\/7538.jpg"},{"fotoId":"15","fotoUserId":"7","fotoEccaId":null,"fotoTitle":"Gajah-Gajah di Tempat Sampah","fotoDetail":"

BETAHITA.ID - <\/strong> Puluhan <\/span>gajah <\/span><\/a>liar dari hutan masuk ke tempat pembuangan sampah untuk mencari makan di Ampara, Sri Lanka. Kejadian ini sudah berlangsung lama.<\/span><\/p>\n

Laman Phys.org<\/a> <\/em>sudah menyiarkan kisah memilukan ini pada Mei 2018. Gajah-gajah ini kekurangan makan di habitatnya, sehingga menggelandang sampai di tempat pembuangan sampah. Mereka mencari sayuran busuk, tapi yang masuk ke mulut bisa apa saja termasuk sampah plastik. Akibatnya, beberapa di antaranya mati.<\/span><\/p>\n

Seorang fotografer Sri Lanka, Tharmaplan Tilaxan, kemudian membuat liputan dan dimuat di sejumlah laman Inggris termasuk Daily Mail<\/a>.<\/em> Semoga pemerintah Sri Lanka segera mencari solusi untuk mengayasi masalah ini.<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

(Dok.Tharmaplan Tilaxan)<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

(Dok. Phys.org)<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

(Dok. Phys.org)<\/span><\/p>","fotoSaved":"2020-11-26 19:31:41","fotoStatus":"1","ftimId":"16","ftimfotoId":"15","ftimArimId":"5868","ftimSaved":"2020-11-26 19:31:41","ftimStatus":"1","arimId":"5868","arimTitle":"Gajah di Tempat Sampah","arimCaption":"Puluhan gajah liar masuk ke tempat pembuangan sampah untuk mencari makan di Amphara, Sri Lanka, November 2020 (Phys.org)(Tharmaplan Tilaxan\/Daily Mail)","arimFileType":"jpg","arimUserIdSaved":"1","arimSaved":"2020-11-26 19:29:11","arimActive":"1","newsTitle":"Gajah-Gajah di Tempat Sampah","newsExcerpt":"","link":"\/multimedia\/foto\/15\/gajah-gajah-di-tempat-sampah.html?v=1775813631","publish":"Kamis, 26 November 2020","image":"\/\/cdn.betahita.id\/5\/8\/6\/8\/5868.jpg"},{"fotoId":"14","fotoUserId":"7","fotoEccaId":null,"fotoTitle":"Cerita Tragis Bayi Hiu Bermata Satu","fotoDetail":"

BETAHITA.ID - <\/strong> Satu individu bayi hiu ditemukan nelayan Dusun Jarukin, Desa Maekor, Kecamatan Aru Selatan Utara, Kepulauan Aru dalam perut induknya, yang terjerat jaring penangkap udang, pertengahan Okgtober 2020.<\/span><\/p>\n

Guru Besar Program Studi Budidaya Perairan, Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura Ambon, Prof. Jacobus W. Mosse mengatakan, ada dua kemungkinan yang menyebabkan bayi hiu hanya memiliki satu mata. Pertama, karena kegagalan perkembangan otak pada embrio saat masa-masa kehamilan hiu sehingga terbentuk satu bola mata saja. Ini disebut cyclophia atau cyclocepaly.<\/span><\/p>\n

Kedua, kemungkinan karena produksi protein yang dihambat atau dibatasi oleh faktor lingkungan. “Ini juga diduga seperti begitu. Tapi ini baru bersifat dugaan. Kita belum tahu apakah ini indikasi lingkungan perairan di Aru juga sudah tercemar atau tidak sehingga sumber-sumber protein alami yang sudah ada itu tidak mendukung pembentukan otak organisme terutama di hiu,” katanya kepada Terasmaluku.com<\/a>.<\/span><\/p>\n

Laut kita sudah tercemar parah. November 2018, seekor paus sperma<\/a> (Physeter macrocephalus) ditemukan tewas terdampar di Pulau Kapota, Sulawesi Tenggara. Perut bangkai paus berisi sampah plastik seberat 5,9 kg. <\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

Bayi hiu bertama satu ditemukan di Kepualan Aru (ViralPress\/The Sun)<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

Bayi hiu bertama satu ditemukan di Meksiko (Pisces Fleet Sportfishing \/The Sun)<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

Paus sperma yang ditemukan tewas di perairan Desa Kapota Kecamatan Wangiwangi Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, November 2018. Foto terbawah sampah plastik 5,9 kg di perut Paus sperma. (Dok. Rosniawati Fikri\/WWF)<\/span><\/p>","fotoSaved":"2020-10-27 10:53:17","fotoStatus":"1","ftimId":"15","ftimfotoId":"14","ftimArimId":"5811","ftimSaved":"2020-10-27 10:53:17","ftimStatus":"1","arimId":"5811","arimTitle":"Hiu Mata Satu","arimCaption":"Bayi hitu mata satu yang ditemukan di Maluku (Viralpress)","arimFileType":"jpg","arimUserIdSaved":"1","arimSaved":"2020-10-22 13:56:14","arimActive":"1","newsTitle":"Cerita Tragis Bayi Hiu Bermata Satu","newsExcerpt":"","link":"\/multimedia\/foto\/14\/cerita-tragis-bayi-hiu-bermata-satu.html?v=1775813631","publish":"Selasa, 27 Oktober 2020","image":"\/\/cdn.betahita.id\/5\/8\/1\/1\/5811.jpg"},{"fotoId":"13","fotoUserId":"7","fotoEccaId":null,"fotoTitle":"Jerat-Jerat Jahat","fotoDetail":"

BETAHITA.ID - <\/strong> Seekor harimau sumatera <\/a>muda terlihat makin lemah. Salah satu kakinya tidak dapat digerakkan lagi karena terikat jerat.<\/p>\n

BKSDA Aceh yang menerima laporan segera datang ke lokasi dan berhasil menyelamatkan satwa terancam punah itu, Senin (19\/10\/2020).<\/p>\n

Insiden di kebun warga di Desa Malelang Jaya, Kecamatan Terangun, Kabupaten Gayo Lues, terjadi akibat ulah pemburu liar yang menebar jerat untuk menangkap satwa seperti rusa atau babi rusa  di kawasan dekat hutan itu. <\/span><\/p>\n

Memang bukan harimau yang disasar, tapi acapkali satwa dilindungi ini yang menjadi korban. BKSDA Aceh sebelumnya juga pernah menyelamatkan anak gajah yang kakinya terkena jerat nilon itu.<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

Penyelamatan harimau sumatera yang terkena jerat<\/em><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

Anak gajah yang terkena jerat<\/em><\/p>\n

Foto: Dokumentasi BKSDA Aceh<\/span><\/p>","fotoSaved":"2020-10-20 07:09:34","fotoStatus":"1","ftimId":"14","ftimfotoId":"13","ftimArimId":"5805","ftimSaved":"2020-10-20 07:09:34","ftimStatus":"1","arimId":"5805","arimTitle":"Jerat Pemburu Liar","arimCaption":"Jerat yang dipasang pemburu liar untuk menangkap satwa di hutan di Desa Malelang Jaya, Kecamatan Terangun, Kabupaten Gayo Lues, Aceh.","arimFileType":"jpg","arimUserIdSaved":"1","arimSaved":"2020-10-20 06:56:40","arimActive":"1","newsTitle":"Jerat-Jerat Jahat","newsExcerpt":"","link":"\/multimedia\/foto\/13\/jerat-jerat-jahat.html?v=1775813631","publish":"Selasa, 20 Oktober 2020","image":"\/\/cdn.betahita.id\/5\/8\/0\/5\/5805.jpg"},{"fotoId":"12","fotoUserId":"7","fotoEccaId":null,"fotoTitle":"Kaavan, Gajah Paling Kesepian di Dunia","fotoDetail":"

BETAHITA.ID - <\/strong>Seekor <\/span>gajah <\/a>bernama Kaavan di Kebun Binatang Islamabad, Pakistan, disebut-sebut sebagai gajah paling kesepian di dunia. Satwa dilindungi ini bertahun-tahun hidup sendiri <\/span>di<\/span> <\/span>Kebun Binatang<\/a> <\/span>Islamabad di Pakistan.<\/span><\/p>\n

Lihat juga: Kaavan, Gajah Paling Kesepian di Dunia Dipindahkan dari Pakistan<\/a><\/span><\/p>\n

Gajah ini akhirnya akan dipindahkan ke hutan konservasi di Kamboja. Kaavan, yang berumur 35 tahun, berasal dari Sri Lanka. Semula ada 2 gajah di kebun binatang Islamabad, namu salah satunya mati pada 2012.<\/span><\/p>\n

Liha juga: Ratusan Gajah Botswana Mati Misterius<\/a><\/span><\/p>\n

Selain kesepian, Kaavan juga mengalami kurang gizi dan kegemukan. Pakistan merupakan negara di Asia yang tidak mempunyai gajah sebagai satwa endemik.

Foto: facebook.com\/friendsofislamabadzoo<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>","fotoSaved":"2020-09-07 11:09:20","fotoStatus":"1","ftimId":"13","ftimfotoId":"12","ftimArimId":"5702","ftimSaved":"2020-09-07 08:03:45","ftimStatus":"1","arimId":"5702","arimTitle":"Gajah Kaavan","arimCaption":"Gajah Kaavan (Facebook)","arimFileType":"jpg","arimUserIdSaved":"1","arimSaved":"2020-09-07 07:28:52","arimActive":"1","newsTitle":"Kaavan, Gajah Paling Kesepian di Dunia","newsExcerpt":"","link":"\/multimedia\/foto\/12\/kaavan-gajah-paling-kesepian-di-dunia.html?v=1775813631","publish":"Senin, 07 September 2020","image":"\/\/cdn.betahita.id\/5\/7\/0\/2\/5702.jpg"},{"fotoId":"10","fotoUserId":"7","fotoEccaId":null,"fotoTitle":"Ketika Kera Liar Singapura Lebih Asyik dengan Sampah Plastik","fotoDetail":"

BETAHITA.ID - <\/strong> Singapura selalu identik dengan kebersihan. Nyaris tidak ada orang yang membuang sampah sembarangan karena kesadaran tinggi atau juga takut dengan tindakan tegas pemerintah.<\/p>\n

Setiap tahun tidak kurang dari 3 juta ton sampah dibuang di Singapura, dengan 30 persen di antaranya adalah plastik. Sampah organik dibakar dan abunya untuk membentuk tanah reklamasi. Namun sampah plastik baru sekitar 6 persen didaur ulang. <\/p>\n

Jumlah sampah plastik terus meningkat. Menurut National Environment Agency, setiap warga Singapura membuang sampah plastik lebih banyak 20 persen dibanding 15 tahun lalu. <\/span><\/p>\n

Karena itu tidak mengherangkan melihat anak-anak kera liar yang ada di sekitar Old Upper Thomson Road sekarang lebih asyik bermain sampah plastik daripada bercanda dengan temannya.<\/span> Dua petugas konservasi Raffles Banded Langurs Working Group memergoki mereka ketika sedang observasi dan mengungggahnya di akun Facebook R<\/span>affles' Banded Langurs untuk mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah, terutama plastik, sembarangan.<\/p>\n

Foto: Amos Chua and Glendon Kee\/Facebook Raffles' Banded Langurs <\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

 <\/p>","fotoSaved":"2020-09-03 21:05:47","fotoStatus":"1","ftimId":"11","ftimfotoId":"10","ftimArimId":"5685","ftimSaved":"2020-09-01 15:14:27","ftimStatus":"1","arimId":"5685","arimTitle":"Kera Singapura","arimCaption":"Kera bermain dengan sampah plastik di Old Upper Thomson Road, Singapura (Facebook\/Raffles' Banded Langurs)","arimFileType":"jpg","arimUserIdSaved":"1","arimSaved":"2020-09-01 14:57:10","arimActive":"1","newsTitle":"Ketika Kera Liar Singapura Lebih Asyik dengan Sampah Plastik","newsExcerpt":"","link":"\/multimedia\/foto\/10\/ketika-kera-liar-singapura-lebih-asyik-dengan-sampah-plastik.html?v=1775813631","publish":"Kamis, 03 September 2020","image":"\/\/cdn.betahita.id\/5\/6\/8\/5\/5685.jpg"},{"fotoId":"11","fotoUserId":"1","fotoEccaId":null,"fotoTitle":"Lucunya Ulah Surya, Anak Harimau Sumatera yang Lahir di Polandia","fotoDetail":"

BETAHITA.ID - <\/strong>  Anak <\/span>harimau sumatera<\/a>, yang lahir di Kebun Binatang Wroclaw, Polandia, diberi nama Surya. Kelahiran satwa yang terancam punah ini dinilai sebagai peristiwa besar karena terjadi di luar habitat.<\/span><\/p>\n

Bayi harimau berjenis kelamin betina itu lahir di tengah pembatasan wilayah virus corona pada 20 Mei 2020. Ibunya, Nuri (7), dan ayahnya, Tengah (11), adalah bagian dari program global yang bertujuan menyelamatkan spesies itu dari kepunahan.

Foto: koleksi Kebun Binatang Wroclaw, Polandia<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

Bersama induknya<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

Memanjat pohon<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

Ekspresi Surya<\/span><\/p>\n

Surya dalam lindungan induknya, Nuri<\/span><\/p>","fotoSaved":"2020-09-02 11:34:27","fotoStatus":"1","ftimId":"12","ftimfotoId":"11","ftimArimId":"5692","ftimSaved":"2020-09-02 11:33:04","ftimStatus":"1","arimId":"5692","arimTitle":"Surya, Anak Harimau Sumatera","arimCaption":"Surya, Anak Harimau Sumatera kelahiran Polandia (dok.Kebun Binatang Wroc\u0142aw Rados\u0142aw Ratajszczak)","arimFileType":"jpg","arimUserIdSaved":"1","arimSaved":"2020-09-02 11:20:13","arimActive":"1","newsTitle":"Lucunya Ulah Surya, Anak Harimau Sumatera yang Lahir di Polandia","newsExcerpt":"","link":"\/multimedia\/foto\/11\/lucunya-ulah-surya-anak-harimau-sumatera-yang-lahir-di-polandia.html?v=1775813631","publish":"Rabu, 02 September 2020","image":"\/\/cdn.betahita.id\/5\/6\/9\/2\/5692.jpg"},{"fotoId":"9","fotoUserId":"7","fotoEccaId":null,"fotoTitle":"Bayi Orangutan Kembar Lahir di Taman Nasional Tanjung Puting","fotoDetail":"

<\/strong><\/p>\n

BETAHITA.ID - <\/strong> Bayi orangutan kembar lahir di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kotawaringin Barat, kalimantan Tengah. Orangutan betina yang melahirkan bayi kembar ini merupakan satwa liar bernama Linda.<\/p>\n

Individu ini beberapa kali terlihat berkeliaran di sekitar Resort Pesalat, Satuan Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) III Tanjung Harapan, TNTP. Kelahiran kembar orangutan ini diketahui saat Linda berkeliaran di hutan sekitar Resort Pesalat dengan membawa dua bayi pada Desember 2019.<\/p>\n

Anehnya, Linda seperti disingkirkan dari komunitasnya. Ia dan dua anaknya tidak bersama orangutan lain yang setiap hari datang di Feeding Station Resort Pesalat . Itu sebabnya, khusus bagi Linda dan kedua bayinya, petugas memberikan pakan di tempat terpisah. Kedua bayi orangutan kembar ini kondisinya terlihat sehat dan tumbuh dengan baik. <\/span><\/p>\n


<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

<\/span><\/p>\n

<\/p>\n


<\/span><\/p>\n

Foto: Dokumentasi TNTP<\/span><\/p>","fotoSaved":"2020-07-29 19:33:18","fotoStatus":"1","ftimId":"10","ftimfotoId":"9","ftimArimId":"5604","ftimSaved":"2020-07-29 19:31:52","ftimStatus":"1","arimId":"5604","arimTitle":"Linda dan dua bayi kembarnya 4","arimCaption":"Orangutan Linda bersama dua bayi kembar yang dilahirkannya berhasil didokumentasikan di TN Tanjung Puting.\/Foto: Efan Ekananda","arimFileType":"png","arimUserIdSaved":"1","arimSaved":"2020-07-28 15:56:02","arimActive":"1","newsTitle":"Bayi Orangutan Kembar Lahir di Taman Nasional Tanjung Puting","newsExcerpt":"","link":"\/multimedia\/foto\/9\/bayi-orangutan-kembar-lahir-di-taman-nasional-tanjung-puting.html?v=1775813631","publish":"Rabu, 29 Juli 2020","image":"\/\/cdn.betahita.id\/5\/6\/0\/4\/5604.png"},{"fotoId":"8","fotoUserId":"7","fotoEccaId":null,"fotoTitle":"Punahnya Smooth Handfish","fotoDetail":"

BETAHITA.ID - <\/strong>  Ikan bertangan (<\/span>Sympterichthys unipennis<\/em>) dengan ciri khas sirip mirip tangan dan merayap di dasar laut dengan siripnya, secara resmi dinyatakan punah oleh IUCN pada Maret 2020. Ikan yang lebih dikenal dengan sebutan<\/span> smooth handfish<\/a><\/span> <\/span>itu menjadi ikan pertama yang hidup di era modern ini yang punah. 

Ikan ini punah diperkirakan karena polusi dan pukat harimau.

\"Sulit dibayangkan kenapa oganisme mungil yang menempati secuil ruang di mana hanya sedikit manusia yang pernah mengunjunginya bisa sangat penting,\" kata Katie Matthews, ketua tim peneliti untuk kelompok konservasi nonprofit Oceana. Dia menambahkan, “Biodiversitas itu penting bahkan ketika Anda tak bisa melihat dengan mata kepala sendiri.\"

Spotted handfish, Brachionichthys hirsutus (Wikipedia)


Red Handfish (Getty)
<\/span><\/p>\n

<\/span>Striped anglerfish (Antennarius striatus) masih kerabat handfish. (Wikipedia)

<\/span><\/p>","fotoSaved":"2020-07-14 07:20:05","fotoStatus":"1","ftimId":"9","ftimfotoId":"8","ftimArimId":"5546","ftimSaved":"2020-07-14 07:16:24","ftimStatus":"1","arimId":"5546","arimTitle":"Smooth Handfish","arimCaption":"Ikan Smooth Handfish dinyatakan punah, Maret 2020. (Wikipedia)","arimFileType":"jpg","arimUserIdSaved":"1","arimSaved":"2020-07-13 11:41:26","arimActive":"1","newsTitle":"Punahnya Smooth Handfish","newsExcerpt":"","link":"\/multimedia\/foto\/8\/punahnya-smooth-handfish.html?v=1775813631","publish":"Selasa, 14 Juli 2020","image":"\/\/cdn.betahita.id\/5\/5\/4\/6\/5546.jpg"},{"fotoId":"7","fotoUserId":"7","fotoEccaId":null,"fotoTitle":"Ratusan Gajah Botswana Mati Misterius","fotoDetail":"

BETAHITA.ID - <\/strong> Lebih dari 350 ekor gajah <\/a>ditemukan mati di Botswana, negara di selatan Afrika. Kematian massal ini disebut ilmuwan sebagai bencana konservasi. Kematian <\/span>satwa<\/a> <\/span>itu pertama kali ditemukan di Delta Okavango pada awal Mei 2020, dengan jumlah 169 individu gajah. Pada pertengahan Juni 2020, jumlah kematian meningkat drastis, dengan 70% kematian ditemukan di sekitar sumber air. Sejauh ini belum diketahui penyebabnya.<\/p>\n

(Dok.National Park Rescue)

<\/em><\/span><\/p>\n

(Dok.National Park Rescue)



(Dok.National Park Rescue)


<\/em><\/span>(Dok.National Park Rescue)<\/em><\/span><\/p>","fotoSaved":"2020-07-06 08:11:15","fotoStatus":"1","ftimId":"8","ftimfotoId":"7","ftimArimId":"5517","ftimSaved":"2020-07-06 07:13:16","ftimStatus":"1","arimId":"5517","arimTitle":"gajah botswana","arimCaption":"Foto udara seekor gajah yang mati dalam kematian massal di Botswana. Foto: The Guardian","arimFileType":"jpg","arimUserIdSaved":"1","arimSaved":"2020-07-03 12:27:54","arimActive":"1","newsTitle":"Ratusan Gajah Botswana Mati Misterius","newsExcerpt":"","link":"\/multimedia\/foto\/7\/ratusan-gajah-botswana-mati-misterius.html?v=1775813631","publish":"Senin, 06 Juli 2020","image":"\/\/cdn.betahita.id\/5\/5\/1\/7\/5517.jpg"}]