Kamis, 05 November 2020

Y. Y. Akhmadi

BETAHITA.ID - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jakarta Selatan mengingatkan potensi negatif masker medis yang dapat merusak lingkungan karena sulit terurai. "Masker medis ini membutuhkan waktu puluhan tahun agar bisa terurai secara sempurna di dalam tanah, bahkan ada literatur yang mengatakan bisa lebih dari 100 tahun," kata Ketua IDI Jakarta Selatan M Yadi Permana, kepada ANTARA di Jakarta, Rabu, 4 November 2020.

Baca juga Penelitian Baru: Masker Sutera Lebih Efektif Cegah Virus Corona

Limbah masker medis yang dibuang tanpa ada pengolahan yang benar sangat berbahaya. Karena itu masker medis sekali pakai yang digunakan masyarakat, hendaknya tidak dibuang sembarangan.

"Masker madis setelah digunakan langsung kita rusak karena takut disalahgunakan, kan ada liputan di beberapa stasiun televisi, bahwa masker medis ini didaur ulang secara sembrono, tidak melalui mekanisme yang benar, itu dikumpulkan untuk dipakai lagi," katanya.

Menurut dia, masker medis sekali pakai sesuai saran organisasi kesehatan dunia (WHO) hanya digunakan oleh tenaga kesehatan. Masker medis yang digunakan tenaga medis akan diolah sebagai limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).

Baca juga: Limbah Masker dan Sarung Tangan Meningkat, DKI: Sampah Berbahaya

IDI Jakarta Selatan mengimbau masyarakat untuk tidak menggunakan masker medis. Masyarakat disarankan menggunakan masker kain dua lapis dan bisa dicuci berkali-kali yang kini tersedia bebas di pasaran. "Masker kain dua lapis digunakan oleh orang yang sehat dengan rentang usia di bawah 60 tahun," kata Yadi.

Masker kain aman

Ilustrasi masker medis (cdn.pixabay.com)

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Universitas Cambridge dan Universitas Northwestern menyimpulkan bahwa masker kain terbukti efektif dalam mencegah penyebaran virus korona.

Para peneliti mengungkap bahwa sebagian besar kain yang biasa digunakan untuk masker wajah non-medis efektif dalam menyaring partikel ultrafine yang mungkin mengandung virus seperti SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19, demikian dimuat Independent (29/10/2020).

Para peneliti menguji semua sampel mulai dari bahan kaus, kaus kaki hingga jins dan kantung vakum untuk mengungkap jenis bahan masker mana yang paling efektif dalam menyaring partikel dengan kecepatan tinggi sekaligus mencerminkan bagaimana mereka bekerja jika seseorang batuk atau bernapas dengan berat saat menggunakan masker.

Mereka juga memeriksa efektivitas N95 dan masker bedah, yang lebih umum dipakai oleh profesional perawatan kesehatan. Masker N95 terbukti sangat efektif, namun kantong vakum HEPA yang dapat digunakan kembali sebenarnya melebihi kinerja N95 dalam beberapa pengujian.

Saat melihat masker kain buatan sendiri, peneliti menemukan bahwa secara umum, masker yang dibuat dari beberapa lapisan kain paling efektif. Selain itu, menggabungkan interfacing atau teknik yang digunakan untuk menguatkan kerah, ternyata lebih efektif meskipun lebih sulit untuk bernapas.

Para peneliti juga menguji seberapa efektif masker kain saat lembap dan setelah dicuci. Mereka menemukan bahwa masker kain bekerja dengan baik saat lembab dan juga bekerja dengan cukup baik setelah satu siklus pencucian.

TEMPO.CO | TERAS.ID