Fragmentasi Habitat Rusak Ketahanan Genetik Satwa

Penulis : Aryo Bhawono

Satwa

Rabu, 06 Mei 2026

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Pembukaan lahan dan fragmentasi habitat satwa mengancam ketahanan genetik satwa hingga perburuan satwa ilegal. Estimasi kerugian negara akibat hal ini mencapai Rp 9-12 triliun per tahun. 

Pembukaan lahan dan fragmentasi habitat satwa tidak hanya memicu degradasi lingkungan dan konflik ruang antara manusia dan satwa. Pelemahan pengawasan memperparah perdagangan spesies ilegal dengan estimasi kerugian negara mencapai 9-12 triliun rupiah per tahun. 

Terputusnya koridor alami akibat fragmentasi habitat juga memicu inbreeding depression atau perkawinan sekerabat yang mengancam ketahanan genetik fauna nusantara jangka panjang.

Dekan Fakultas Biologi UGM, Budi Setiadi Daryono, menekankan tanggung jawab menjaga megabiodiversitas dari ancaman degradasi lingkungan dan fragmentasi habitat yang semakin masif. Jika tidak diantisipasi maka dapat berujung pada kelangkaan satwa bahkan terjadi perkawinan sekerabat. Menurutnya pendekatan antroposentris selama ini telah merusak harmoni alam. 

Orangutan betina bersama anaknya terpaksa diselamatkan dan dievakuasi oleh BKSDA Kaltim dari sekitar jalan poros Sangatta-Simpang Perdau-Muara Wahau. Foto: CAN

“Kita sering membanggakan diri sebagai negara megabiodiversitas. Namun pendekatan antroposentrik sangat mengancam keseimbangan alam,” ungkap seperti dikutip dari website UGM pada Sabtu (2/5/2026).

Ia menekankan pentingnya meluruskan stigma hukum rimba yang sering disalahartikan oleh publik. Sebelum campur tangan manusia, hutan rimba berjalan di atas hukum alam yang penuh keharmonisan dan keseimbangan. 

“Hutan rimba sebelum datangnya manusia yang tidak bertanggung jawab itu berjalan dengan hukum alam yang harmoni. Justru akibat aktivitas manusia, hutan-hutan kita hilang dan keseimbangan tersebut rusak, yang dampaknya kini mulai kita rasakan sendiri,” kata dia..

Konservator dari Centre for Orangutan Protection (COP), Indira Nurul, menyebutkan upaya membangun konservasi habitat bagi satwa liar dalam koridor fisik, tidak bisa dilakukan secara serampangan tanpa dasar saintifik yang kuat. Aspek teritorial dan ruang jelajah satwa harus menjadi acuan utama sebelum infrastruktur tersebut dibangun. 

“Jika habitat satwa terpisah oleh jalan, canopy bridge memang bisa membantu agar satwa tetap menyeberang dengan aman. Namun, harus ada kajian ekologi yang mendalam. Kita perlu memastikan titik persis ketika satwa melintas sehingga koridor betul-betul berfungsi,” ucapnya.

Selain satwa liar, perhatian terhadap biodiversitas akuatik juga menjadi prioritas dalam upaya menjaga keseimbangan alam. Dosen Laboratorium Struktur dan Perkembangan Hewan, Fakultas Biologi UGM, Luthfi Nurhidayat, menjelaskan penurunan populasi ikan lokal, seperti wader pari salah satunya dipicu oleh pembangunan bendungan yang menghambat migrasi satwa akuatik. Kondisi ini diperparah oleh pemisahan populasi yang memicu risiko malformasi atau kecacatan genetik dan hilangnya ikan lokal. 

“Fragmentasi menyebabkan pemisahan populasi sehingga berpotensi mengalami malformasi, misalnya ikan yang tidak memiliki ekor atau kepalanya aneh. Tentu ini dapat berpotensi menurunkan populasi. Belum lagi dipengaruhi pencemaran air yang membuat ikan lokal hilang tersisa ikan invasif luar,” ujarnya.

Program konservasi in situ melalui mekanisme restocking ikan wader di Sungai Baros dan Sungai Gandok di Yogyakarta. Berbeda dengan pelepasan ikan pada umumnya program ini mengedepankan beberapa tahapan saintifik, mulai dari asesmen habitat, uji mutu genetik, hingga pemantauan populasi secara berkala. 

“Kita lakukan restocking untuk menaikkan kemampuan recovery. Dalam restocking ini, kami juga memasukkan genetik baru sehingga individu yang dihasilkan akan lebih bagus ketimbang yang sebelumnya terfragmentasi,” katanya.