Gerakan Bersihkan Indonesia Dorong Energi Terbarukan

Penulis : Redaksi Betahita

Energi

Kamis, 20 September 2018

Editor : Redaksi Betahita

Betahita.id - Sejumlah organisasi masyarakat sipil pemerhati lingkungan hidup dan energi bersih meluncurkan Gerakan Bersihkan Indonesia (#BersihkanIndonesia) di Jakarta, Rabu (19/9). Gerakan ini merupakan gerakan nonpartisan yang secara spesifik menantang kedua calon presiden dan wakil presiden (capres dan cawapres) untuk menyuarakan kedaulatan energi menjelang Pemilu 2019.

Menurut gerakan ini, Indonesia tidak memiliki komitmen yang kuat dalam melakukan transisi energi yang bersih dan berkeadilan. Bisa dilihat dari minimnya isu tersebut dari kedua capres dan cawapres yang akan berlaga tahun depan.

"Hingga saat ini, kami belum melihat adanya diskursus mengenai energi bersih dan penyelamatan lingkungan hidup dalam visi dan misi kedua capres dan cawapres," kata Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Merah Johansyah dalam konferensi pers di Jakarta Pusat.

Merah mengatakan saat ini Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil, terutama minyak dan batu bara. Hingga saat ini, lebih dari 60 persen produksi listrik Indonesia didominasi oleh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara. Pada 2017 saja, Indonesia membakar 97 juta ton batu bara, sebagian besar digunakan untuk kebutuhan PLTU. Jumlah ini diperkirakan terus meningkat seiring dengan perencanaan pembangunan PLTU batu bara di sejumlah provinsi di Indonesia.

Koalisi #Bersihkanindonesia

"Padahal batu bara berdampak negatif di berbagai sektor. Mulai dari kesehatan, lanskap, dan lingkungan hidup. Karena itu pula, Indonesia harus mulai meninggalkan fosil. Dan memulai transisi ke energi baru terbarukan," kata Merah.

Verena Puspawardani dari Koaksi Indonesia mengatakan kedaulatan energi bisa dicapai dengan energi bersih. "Saat ini ada sistem yang memungkinkan energi terbarukan lebih murah. Negara seperti Cina dan India sudah memulai langkah awal untuk energi terbarukan. Ini momentum yang strategis bagi Indonesia untuk transisi ke energi terbarukan."

Verena melanjutkan energi bersih bisa dicapai dengan melakukan terobosan kebijakan, teknologi, peningkatan sumber daya manusia, dan pendanaan. Dengan begitu, kapasitas pembangkit listrik yang bersumber dari energi terbarukan pada 2025 dapat meningkat.

"Untuk mewujudkan hal ini, harus ada insentif fiskal dan kebijakan yang berpihak pada energi terbarukan yang didukung alokasi anggaran yang memadai."

Selain dua hal di atas, Gerakan Bersihkan Indonesia juga mendesak pemerintah untuk memperbaiki tata kelola energi dan ketenagalistrikan yang masih rawan korupsi serta melaksanakan pemulihan ekologis dan penegakan keadilan bagi masyarakat yang dilanggar haknya.