Mbah Sadiman, Pahlawan Penghijauan di Desanya yang Sempat Dikira Gila

Penulis : Redaksi Betahita

Konservasi

Selasa, 27 Agustus 2019

Editor : Redaksi Betahita

Sadiman sempat dikira gila, ketika ia lebih banyak menghijaukan  Desa   Geneng, Kecamatan Bulukerto, Wonogiri, Jawa Tengah, ketimbang bekerja di kebun sendiri.

Namun hasil kerja kerasnya terbukti berhasil mengantar desanya menjadi hijau dan tidak lagi kesulitan air, sehingga ia  mendapat penghargaan berupa Apresiasi Dukungan Insan Inspiratif.

Penghargaan tersebut diterimanya pada Minggu, 25 Agustus 2019. Informasi ini berdasarkan siaran pers Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB.

Pria yang akrab disapa Mbah Sadiman ini berperan dalam menanam dan merawat puluhan ribu pohon sebagai pengikat air penghidupan bagi warga desa. Berbagai tanaman, khususnya beringin, menjadikan desanya berlimpah air meskipun wilayah itu memasuki kemarau.

Sadiman, yang gigih menghijaukan Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, Wonogiri, Jawa Tengah, mendapat penghargaan Rp100 juta dari BRI. (Humas BNPB)

Sadiman memilih beringin karena bisa menjadi pencegah erosi. Selain itu, beringin yang ditanam sejak 1996 di bawahnya memunculkan mata air. Sekarang 340 keluarga di Desa Geneng di lereng Gunung Lawu sudah merasakan jerih payah Mbah Sadiman. Warga mendapatkan air secara gratis.

Atas upayanya tersebut, BNPB dan berbagai pihak memberikan Apresiasi Dukungan Insan Apresiatif. â€œApa yang telah dilakukan oleh Mbah Sadiman kiranya bisa menjadi contoh bagi kita semua dan bisa mengikut jejak langkah beliau dalam pelestarian lingkungan,” ujar Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga memberikan dukungan dan penghargaan kepada Sadiman sebagai tokoh penyelamat lingkungan yang gigih dan semangat tanpa pamrih meski sudah berusia lanjut. BRI mendukung gerakan menanam dan merawat pohon seperti yang dilakukan Sadiman selama 23 tahun terakhir ini. Wakil Pimpinan Wilayah BRI Yogyakarta Joko Sudarmo menyerahkan dana sejumlah Rp 100 juta kepada Sadiman atas kepedulian yang tinggi kepada lingkungan dan kemanusiaan.

Selama 20 tahun lebih, sejak tahun 1996, Sadiman telah mengabdikan diri sebagai pekerja senyap dalam memulihkan ekosistem di lereng Gunung Lawu. Sebelumnya, kebakaran hebat pernah melanda desa, kekeringan saat musim kemarau, banjir saat musim hujan, petani tidak cukup mendapat air untuk tanaman, dan warga kesulitan mendapatkan air.

Setidaknya lahan seluas 250 ha di Bukit Gendol dan Bukit Ampyang, lereng Gunung Lawu, telah ia tanami dengan 11 ribu tanaman. Ini bermula dari keresahannya akibat kerusakan lingkungan, penebangan dan penjarahan hutan yang dilakukan warga dan berimbas pada kehidupan warganya sendiri. Ia melakukan semuanya sendiri, tanpa bayaran dan tidak mengharapkan imbalan.

“Dulu, saya dianggap gila. Ketika (masyarakat) yang lain menanam tanaman pangan, saya malah menanam pohon beringin. Tapi sekarang, apa yang saya tanam itu bisa menghasilkan air untuk warga dan udara menjadi sejuk,” tutur Sadiman. 

Pada awal Agustus 2019, BNPB juga memberikan penghargaan sebagai tokoh inspiratif Reksa Utama Anindha (Penjaga Bumi yang Penuh Kebijakan). Pada kesempatan itu, Kepala BNPB Doni Monardo menyampaikan bahwa kita butuh ribuan orang seperti Mbah Sadiman.

“Meski usia sudah 68 tahun, beliau ini masih segar bugar dan semangat untuk menanam pohon. Bahkan alasan kenapa beringin yang ia tanam, antara lain selain kuat, penyuplai air dan udara, beringin juga dipercaya ada ‘penunggunya’, jadi warga desa tidak berani tebang. Ini unik dan menarik,” ujar Doni Monardo pada 1 Agusutus 2019 di Graha BNPB, Jakarta.

TERAS.ID | TEMPO.CO