EIA: Sisik Trenggiling Masih Dipakai dalam Obat Paten Cina

Penulis : Kennial Laia

Satwa

Jumat, 26 Juni 2020

Editor : Y. Y. Akhmadi

BETAHITA.ID -  Environmental Investigative Agency, sebuah organisasi yang menyuarakan isu kejahatan lingkungan, melaporkan bahwa sisik trenggiling masih terdaftar sebagai bahan utama dalam berbagai obat paten di Republik Rakyat Cina. Temuan itu berlawanan dengan klaim Pemerintah RRT bahwa mereka melindungi satwa tersebut baru-baru ini.

Awal Juni lalu, Pemerintah Cina mendapat pujian dari berbagai pegiat konservasi karena mengumumkan telah menghapus sisik trenggiling dari bahan baku obat tradisional Cina (TCM) tahun 2020. Pemerintah Cina juga dilaporkan menaikkan status lindung spesies itu ke level tertinggi dan melarang perdagangannya. 

"Saat ini jelas sisik trenggiling masih terdapat di dalam daftar farmakope Cina. Seharusnya Pemerintah Cina melarang sepenuhnya penggunaan trenggiling secara tegas dan kredibel terkait penggunaannya dalam formula obat tradisional," kata Pengkampanye Senior EIA Chris Hamley di situs EIA, Selasa, 23 Juni 2020.

EIA memperoleh dokumen farmakope 2020 dan mengidentifikasi delapan jenis obat yang mengandung sisik trenggiling. Contohnya, Zaizao Wan (pil yang dipercaya melancarkan sirkulasi darah) dan Awei Huapi Gao yang berfungsi meredakan nyeri perut.

Karung berisi sisik trenggiling yang disita di Medan, Sumatera Utara. Foto: Paul Hilton/WCS Indonesia

Trenggiling merupakan spesies mamalia yang paling banyak diperdagangkan di seluruh dunia. Indonesia termasuk negara importir trenggiling ke Cina. Padahal, tiga dari empat jenis trenggiling Asia masuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature, dengan status terancam punah. 

Trenggiling juga diduga sebagai satwa perantara yang menularkan virus Sars-Cov-2, yang menyebabkan pandemi Covid-19 di seluruh dunia.

Menurut Hamley, langkah Cina menaikkan status lindung trenggiling patut diapresiasi, namun dibutuhkan aksi total dan komprehensif untuk menghentikan siklus perdagangan satwa itu. 

“Pemerintah Cina harus seluruhnya menghapus sisik trenggiling dari daftar farmakope, mengakhiri lisensi produksi dan penjualan obat yang mengandung sisik trenggiling, dan menghancurkan pasokan sisiknya di negara tersebut,” jelas Hamley.

"Tanpa aksi komprehensif dalam mengeliminasi permintaan dari penggunaan sisik satwa itu, industri perdagangan trenggiling akan terus berlanjut,” pungkasnya.

Sisik trenggiling banyak digunakan dalam berbagai obat tradisional Cina dan dipercaya memberi manfaat kesehatan termasuk kesehatan seksual. Hal ini menjadi penyebab utama tingginya perdagangan ilegal satwa tersebut di seluruh Afrika dan Asia ke Cina.