KKP Nilai Indeks Kesehatan Laut Indonesia Buruk

Penulis : Tim Betahita

Satwa

Selasa, 13 April 2021

Editor :

BETAHITA.ID - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menilai rendahnya Indeks Kesehatan Laut (IKLI) menjadi salah satu penyebab banyaknya paus terdampar dan mati di pesisir pantai Indonesia. Salah satunya, dalam kasus 52 paus terdampar di Pantai Modung, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur pada 18 Febuari 2021 lalu.


Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP Tb. Haeru Rahayu mengungkapkan hingga saat ini IKLI masih berada di angka 65 persen atau masih di bawah standar yakni 100 persen.

"Artinya kalau dia (paus) sakit berarti kondisi lingkungannya belum bagus. IKLI kita berarti belum bagus. Ini tantangan buat kita ke depan bagaimana membuat indeks kesehatan laut meningkat. Banyak aspek harus dilakukan bukan hanya kami di Ditjen Pengelolaan Ruang Laut," ujarnya dalam konferensi pers di kantor KKP, Senin (12/4).

Ia juga menegaskan kematian paus yang terdampar di pesisir Indonesia harus menjadi pemantik bagi pemerintah untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat atas pentingnya menjaga kesehatan laut.

Paus Pilot (Globicephala macrorhynchus) terdampar di Pantai Lie Jaka, Kelurahan Ledeunu, Kecamatan Raijua, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, 30 Juli 2020. (Humas KLHK)

Di sisi lain, KKP juga melakukan beberapa langkah seperti pengendalian dan pengawasan pemanfaatan ruang laut dari aktivitas yang berdampak pada koridor mamalia laut.

Kemudian, KKP juga akan membentuk Jejaring Penanganan Mamalia Laut Terdampar di tingkat daerah, mengacu pada Kepmen KP 79/2018 tentang Rencana Aksi Nasional Konservasi Mamalia Laut.

Selain itu, kajian, identifikasi, pemetaan habitat, koridor penting mamalia laut juga terus dilakukan sembari menjalin kemitraan dan melakukan MoU dengan instansi/organisasi terkait di wilayah yang tinggi kasus keterdamparannya.

"Langkah kami ke depan dengan pemantik matinya paus secara massal ini agar IKLI kita (Indonesia) semakin meningkat dan kasus serupa tidak terjadi lagi. Harapannya informasi ini bisa ditangkap dengan gamblang dan baik oleh masyarakat," terangnya.

Dalam kesempatan yang sama, Bilqisthi Ariputra, Dokter Hewan Universitas Airlangga yang melakukan investigasi forensik atas 52 paus terdampar di Pantai Modung, mengungkap kondisi dan penyebab terdamparnya paus-paus tersebut.

Ia menyampaikan, dari 52 paus yang terdampar, 49 di antaranya dalam kondisi mati dan 3 ekor berhasil dilepasliarkan kembali ke laut di Selat Madura. "Namun, 2 ekor yang dilepasliarkan itupun akhirnya ditemukan mati terdampar, hanya 1 ekor yang yang dapat bertahan hidup," ucapnya.


Bilqisthi menjelaskan dari hasil identifikasi diketahui bahwa paus yang terdampar merupakan jenis paus pilot sirip pendek. Ukuran paus pilot memilik panjang 2-3,5 meter dan yang terbesar mempunyai ukuran 5 meter, dengan berat rata-rata 300 kg-3 ton.

Tim Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga telah melakukan tindakan nekropsi dengan mengukur ketebalan lemak dan mengambil tiga sampel untuk proses histopatologi dan pemeriksaan mikrobiologi, di mana dua sampel diambil dari paus jantan dan satu sampel dari paus betina.

Hasil nekropsi tersebut menunjukkan empat hal, pertama, koloni Paus Pilot Sirip Pendek yang terdampar sedang melakukan migrasi dan berburu makanan.

Koloni paus tersebut dipimpin oleh betina produktif dengan kondisi lapar, lemah dan mengalami gangguan pernafasan (emfisema).

"Sedangkan pejantan kelaparan dan mengalami gangguan pernafasan (pneumonia granulomatosa) serta gangguan jantung (infark miokardiark)," tutur Bilqisthi.

Ia melanjutkan penyebab terdamparnya koloni paus tersebut adalah disorientasi akibat kelainan otot reflektor melon pada betina utama yang ditunjang dengan kelaparan, serta kondisi pernafasan dan pencernaan yang kurang baik.

Sementara, penyebab kematian pada betina utama maupun pejantan adalah terjadinya kegagalan pernafasan, sedangkan pada anggota koloni yang lain kematian disebabkan dehidrasi dan kelelahan.

"Selain penyebab terdamparnya paus pilot yang telah dijelaskan pada hasil nekropsi di atas, ada kemungkinan kelompok paus pilot mengikuti betina pemimpinnya yang terdampar, dan apabila betina pemimpin tidak segera dikembalikan ke laut bisa menyebabkan paus pilot lainnya terdampar," pungkasnya.

 CNNINDONESIA|