Perubahan Iklim di Kenya Sebabkan Gangguan Mental

Penulis : Tim Betahita

Perubahan Iklim

Senin, 31 Mei 2021

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID -  Juli tahun lalu, Satuan Tugas Nasional Kenya untuk kesehatan mental merekomendasikan pemerintah agar ancaman menyatakan negaranya dalam kondisi darurat kesehatan mental nasional.

Peningkatan tingkat depresi, kematian karena bunuh diri, gangguan stres pasca-trauma dan penyalahgunaan zat, merupakan indikasi dari desakan itu.

Satgas juga mengatakan perubahan iklim dan efeknya, seperti kekeringan dan banjir, adalah kontributor utama dalam mendegradasi kesehatan mental warga Kenya. Kondisi bumi yang lebih panas berarti lebih banyak bencana mendadak serta bencana yang lebih lambat, di mana pola curah hujan berubah dan gagal panen.

“Ini berarti lebih banyak stres bagi orang-orang yang sudah bergumul,” ujar Satgas seperti dikutip dari kantor berita Afrika Mail and Guardian, akhir pekan lalu.

Ilustrasi perubahan iklim. (Sandy Indra Pratama| Betahita)

Satuan tugas mencatat bahwa 40 persen pasien rawat inap di sistem perawatan kesehatan Kenya memiliki penyakit mental, dan 1,9 juta orang Kenya menderita depresi. Sialnya, saat ini, Kenya hanya memiliki 71 psikiater untuk hampir 50 juta penduduknya. itu mengapa satgas merekomendasikan status darurat nasional.

Banyak testimoni yang menghubungkan gejala perubahan iklim berdampak keras pada kesehatan mental rakyat Kenya. Salah satu contohnya adalah kesaksian dari Pauline Yator, ibu tujuh anak dari Baringo County, yang mengatakan bahwa dirinya hampir gila setelah banjir besar tahun lalu melumat segala yang ia miliki.

“Pertanian yang saya sebut rumah selama hampir 30 tahun benar-benar terendam. Saya shock dan takut. Selama dua minggu saya berjalan di pinggir jalan sambil berbicara kepada diri saya sendiri,“ ujarnya.

Dalam kejadian itu, lahan milik Pauline terendam oleh air dari Danau Baringo, yang permukaan airnya terus meningkat sejak 2013. Curah hujan yang deras pada tahun 2019 dan 2020 lantas kembali meluapkan permukaan danau Rift Valley di Kenya. Peristiwa itu menyebabkan lebih dari 5.000 orang mengungsi.

“Berbagai pertanyaan muncul di benak saya tanpa jawaban. Bagaimana anak-anak saya akan bertahan? Di mana saya bisa pindah? Itu adalah waktu yang sulit,“ kata Pauline. Pertanyaan itu menyiratkan kekhawatirannya bahwa iklim akan terus memburuk dan tidak menyisakan kehidupan bagi anak keturunannya.

Abubakar Salih Babiker, seorang ilmuwan iklim di Pusat Prediksi dan Penerapan Iklim yang melekat pada Otoritas Antarpemerintah untuk Pembangunan di Afrika Timur, mengatakan bahwa suhu di kawasan itu tempat Pauline tinggal telah meningkat drastis.

Suhu minimum lebih panas 1,2 ° C dan suhu maksimum 2 ° C lebih tinggi. Samudra Hindia bagian barat, di sepanjang pantai Afrika Timur, telah menghangat lebih cepat daripada bagian samudra lainnya. “Akibatnya, banjir, kekeringan, dan tanah longsor terjadi lebih cepat daripada kemampuan masyarakat untuk pulih dari bencana alam sebelumnya,” ujarnya.

Rentetan bencana itu terus menghimpit hidup Paulne dan ribuan bahkan jutaan rakyat Kenya. Himpitan itu, menurut Elias Frondo seorang petugas kesehatan di Distrik Kilifi, Kenya, lantas terakumulasi menjadi sebuah tekanan mental.

“Akibatnya, sebagian besar kasus kesehatan mental menjadi salah didiagnosis. Sialnya tidak ada dukungan sama sekali dari pemerintah untuk membangunkan kembali semangat dan kesehatan mental rakyat Kenya,” kata Elias.

MAIL&GUARDIAN