Mengenal Haji Isam: Raja Sawit, Batubara Kalsel Eks Timses Jokowi

Penulis : Tim Betahita

Sawit

Rabu, 27 Oktober 2021

Editor :

BETAHITA.ID -  Nama Samsudin Andi Arsyad alias Haji Isam, konglomerat asal Kalimantan Selatan, sedang ramai diperbincangkan. Hal itu usai  pabrik biodiesel bernilai Rp 2 triliun milik pengusaha sawit dan batu bara ini diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Peresmian tersebut juga disiarkan langsung di kanal Youtube Sekretariat Presiden, Kamis, 21 Oktober. Melalui akun resmi media sosial, Presiden Jokowi juga mengapresiasi PT Jhonlin Group milik Haji Isam. Menurutnya, pabrik tersebut dapat “memberikan nilai tambah yang lebih besar dan menciptakan produk-produk turunan dari CPO.”

“Pabrik tersebut telah selesai dan saya resmikan hari ini di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan,” tulis Presiden Jokowi di laman resmi Instagram @jokowi.

“Pabrik biodiesel ini akan menciptakan banyak lapangan pekerjaan, menjaga stabilisasi harga minyak sawit (CPO), dan membantu meningkatkan kualitas lingkungan melalui kontribusi pengurangan emisi gas rumah kaca.”

Konglomerat asal Kalimantan Selatan Symsudin Andi Arsyad alias Haji Isam. Foto: instagram/lianajhonlin12

Dalam peresmian tersebut, Haji Isam tampak duduk di barisan depan, di samping Presiden Jokowi. Dia juga menyopiri presiden saat meninjau pabarik baru itu.

Langkah Jokowi itu dinilai tidak bijak. Dikutip CNN Indonesia, aktivis dan akademisi Denny Indrayana menilai kehadiran Jokowi tidak etis lantaran saat ini Haji Isam tengah terseret kasus suap pajak yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ini bukan pertama kalinya Presiden Jokowi bersanding dengan Haji Isam. Sebelumnya mantan gubernur DKI Jakarta itu juga meresmikan pabrik gula milik Haji Isam di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.

Pada pemilihan presiden 2020, Haji Isam juga menjadi salah satu pengusaha yang mendukung Jokowi. Dalam susunan tim sukses, dia tercatat sebagai Wakil Bendahara Kampanye Tim Jokowi-Amin. 

Dugaan suap pajak

Nama Haji Isam muncul dalam dugaan kasus suap yang tengah didalami KPK. Salah satu anak perusahaan Jhonlin Group, yakni PT Jhonlin Baratama, diduga menyuap pejabat pajak untuk memuluskan urusan pajak.

Pada awal Oktober lalu, dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, sidang mengadili terdakwa mantan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan di Direktorat Jenderal Pajak (Ditje Pajak) Angin Prayitno Aji dan Kepala Subdirektorat Kerja Sama dan Dukungan Pemeriksaan Ditjen Pajak Dadan Ramdani.

Dikutip dari Bisnis, saksi bernama Yulmanizar yang merupakan mantan anggota tim pemeriksa pajak di Ditjen Pajak menyebut keterlibatan Haji Isam dalam Berita Acara Perkara no. 41 tersebut.

Dalam kesaksiannya, Yulmanizar mengaku bertemu dengan Agus Susetyo yang merupakan konsultan pajak PT Jhonlin Baratama. Yulmanizar juga menyebut bahwa Agus meminta pengkondisian Surat Ketetapan Pajak (SKP) PT Jhonlin Baratama kepada tim pemeriksa pajak Ditjen Pajak Kemenkeu. Permintaan itu disebut langsung datang dari Haji Isam.

KPK kemudian menggeledah kantor milik PT Jhonlin Baratama di Kecamatan Simpang Empat, Tanah Bumbu, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Namun lembaga antirasuah tersebut gagal mengamankan barang bukti.

Dikutip dari Kompas.com, ada dugaan kebocoran informasi terkait penggeledahan. Akibatnya, ada upaya penghilangan barang bukti sebelum tim penyidik mendatangi lokasi perusahaan.

Presiden Joko "Jokowi" Widodo meresmikan pabrik biodiesel milik PT Jhonlin Agro Raya di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Kamis (22/10). Berdiri di sampingnya adalah Haji Isam, konglomerat asal Kalimantan Selatan pemilik Jhonlin Group. Foto: BPMI Setpres

Haji Isam kemudian melaporkan Yulmanizar melalui kuasa hukumnya, Junaidi, dengan dalih pencemaran nama baik pada 7 Oktober lalu. Menurut Junaidi, keterangan saksi tersebut “tidak benar”.

Penelusuran di berbagai media, bisnis Haji Isam juga terlibat dalam konflik lahan. Kebun tebu di Bombana, Sulawesi Tenggara, milik PT Jhonlin Batu Mandiri menabrak aturan ruang.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, PT Jhonlin Baratama memiliki modal sebesar Rp 320 miliar dengan modal ditempatkan senilai Rp 80 miliar.

Pemegang saham mayoritas Jhonlin Baratama adalah Jhonlin Group sebanyak 408.000 lembar atau Rp 40,8 miliar. Hj Nurahayati sebanyak 359.840 saham atau Rp 35,9 miliar dan Haji Syamsudin Andi Arsyad alias Haji Isam sebanyak 32.160 atau Rp 3,2 miliar.

Mulai dari nol

Dikutip dari Suara, Haji Isam memulai bisnisnya dari nol di sektor batu bara setelah keluar dari perusahaan di bidang yang sama. Setelah sukses, usahanya merambah ke sektor lain mulai dari perkebunan karet, kelapa sawit, hingga transportasi.

Namun sebelum menjadi konglomerat seperti sekarang, pria kelahiran 1 Januari 1977 ini pernah menjadi pekerja kasar di industri kayu, mulai dari tukang tebang, buruh muat, sopir angkutan, hingga tukang ojek.

Bisnis Haji Isam ada di banyak sektor: batu bara (PT Jhonlin Baratama), perusahaan perkapalan (Jhonlin Marine and Shipping), hingga perusahaan sewa atau rental jet pribadi di bawah bendera Jhonlin Air Transport.

Selain itu, ada juga perusahaan biodiesel Jhonlin Agro Raya, pabrik gula dan perkebunan tebu PT Prima Alam Gemilang, anak perusahaan PT Jhonlin Batu Mandiri. 

Haji Isam merupakan keponakan dari Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor.

Tahun lalu Jhonlin Group juga masuk ke dalam FinCEN Files yang didapatkan melalui Konsorsium Jurnalis Investigasi Internasional (ICIJ) bersama BuzzFeed News dan 108 mitra media lainnya di 88 negara.