Jumlah Spesies Pohon Di Bumi Diperkirakan Mencapai 73.300 Spesies

Penulis : Aryo Bhawono

Hutan

Kamis, 03 Februari 2022

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID -  Jumlah spesies pohon di bumi diperkirakan mencapai 73.300 spesies, sebanyak 9.000 diantaranya belum ditemukan. Para peneliti memperkirakan jumlah spesies pohon ini menggunakan estimasi frekuensi Good-Turing, yang dibuat oleh pemecah kode Alan Turing dan asistennya Irving Good dalam perang dunia kedua. 

Selama ini para peneliti di 90 negara mengumpulkan data lapangan tentang 38 juta pohon. Mereka terkadang berjalan selama berhari-hari dan berkemah di tempat terpencil. Studi ini menemukan ada sekitar 14 persen lebih banyak spesies pohon daripada yang dilaporkan sebelumnya. 

Sepertiga dari spesies pohon yang dinyatakan langka, rentan punah karena perubahan penggunaan lahan oleh manusia dan krisis iklim.

Penulis utama makalah dan Profesor Ekologi Hutan Kuantitatif di Universitas Purdue Indiana, Amerika Serikat. Jingjing Liang, menyatakan perolehan para peneliti ini merupakan upaya besar bagi seluruh dunia untuk mendokumentasikan hutan.

Pohon Jenderal Sherman yang merupakan pohon terbesar di dunia. (Flickr)

“Menghitung jumlah spesies pohon di seluruh dunia seperti teka-teki dengan potongan-potongan yang tersebar di seluruh dunia. Kami memecahkannya bersama sebagai sebuah tim, masing-masing berbagi bagian kami sendiri,” kata dia seperti dikutip dari Guardian

Makalah yang diterbitkan dalam jurnal ‘Proceedings of the National Academy of Sciences’ (PNAS) mencatat pohon adalah organisme paling besar dan paling tersebar luas. Masih ada ribuan pohon yang harus ditemukan, 40 persen spesies diantaranya tidak diketahui dan diyakini berada di Amerika Selatan.

Beberapa dari spesies yang tidak terdokumentasi ini mungkin telah diketahui oleh masyarakat adat tetapi berada di daerah yang paling sulit dijangkau, dan mungkin belum pernah ditemukan sebelumnya.

Cekungan Amazon tampaknya memiliki keanekaragaman spesies pohon tertinggi di tingkat lokal, dengan 200 spesies pohon per hektar. Para peneliti lingkungan yang hangat dan basah cocok untuk mendukung lebih banyak spesies.

Para ilmuwan menggunakan estimasi frekuensi Good-Turing untuk melacak jumlah spesies yang tidak diketahui. Teknologi ini yang dibuat oleh pemecah kode Alan Turing dan asistennya Irving Good ketika mencoba memecahkan kode Jerman dalam mesin Enigma selama perang dunia kedua.

Teori menggunakan metode Good-Turing ini dikembangkan oleh ahli statistik Taiwan, Anne Chao, pada studi spesies yang tidak terdeteksi. Para peneliti terbantu mengetahui terjadinya peristiwa langka, dalam hal ini spesies pohon yang tidak diketahui, menggunakan data pada spesies langka yang diamati. 

Pada dasarnya, kode tersebut menggunakan informasi tentang spesies yang hanya terdeteksi satu atau dua kali dalam data untuk memperkirakan jumlah spesies yang tidak terdeteksi.

Liang menyebutkan ide menginventarisasi pohon-pohon di bumi muncul 10 tahun yang lalu ketika ia menemukan data tentang pohon-pohon Alaska yang tersimpan di laci. Dia terkesan dengan temuan tersebut dan menjadikannya sebagai misi pribadinya untuk mendapatkan data secara online. Dia kemudian menulis proposal untuk melakukan inventarisasi seluruh dunia. 

“Orang-orang awalnya menertawakan saya,” katanya.

Tidak ada data tentang bagaimana jumlah spesies pohon dapat berubah dari waktu ke waktu, meskipun banyak spesies dianggap terancam punah karena deforestasi dan krisis iklim. Para ilmuwan khawatir banyak yang akan hilang sebelum didokumentasikan.

Liang berharap makalah ini dapat memberikan data benchmark sehingga dapat mengetahui jika jumlah total spesies pohon di dunia telah menurun, terutama selama peristiwa kepunahan massal.

“Kita perlu melihat hutan bukan hanya sebagai reservoir karbon, atau sumber daya untuk ekstraksi; kita harus melihat hutan kita sebagai habitat yang berisi puluhan ribu spesies pohon, dan bahkan lebih banyak lagi flora dan fauna, kita perlu memperhatikan keanekaragaman hayati ini,” kata dia

Ahli ekologi tanaman-tanah di James Hutton Institute di Skotlandia, Dr Ruth Mitchell, berkomentar penelitian itu menunjukkan bahwa bahkan untuk organisme sebesar pohon, spesies baru masih ditemukan. Baginya makalah ini sangat menarik, namun kini harus berpacu dengan kian menyusutnya jumlah pohon. 

“Studi ini menyoroti keragaman luar biasa di dalam hutan kita, banyak di antaranya masih menunggu di luar sana untuk kita temukan,” jelasnya.

Profesor ilmu ekosistem di Universitas Reading, Martin Lukac, menyebutkan makalah tersebut menunjukkan bahwa hampir setengah dari spesies pohon dunia ada di Amerika Selatan. ini adalah bukti keras yang brilian dan menekankan bahwa kita tidak boleh merusak hutan tropis di sana.

“Keragaman spesies pohon membutuhkan waktu miliaran tahun untuk terakumulasi di Amazon. Akan sangat sembrono untuk menghancurkannya dalam satu abad,” tegasnya.