Kamis, 14 Januari 2021

Y. Y. Akhmadi

BETAHITA.ID -  Pertanyaan sering muncul apakah ibu hamil bisa menularkan virus Covid-19 kepada janin atau bayi yang dikandungnya. Riset terbaru yang dilakukan oleh Drucilla Roberts dan Vanda Torous memperhatikan secara saksama jaringan plasenta pada dua bayi kembar fraternal.

Drucilla Roberts dan Vanda Torous yang merupakan ahli patologi di Rumah Sakit Umum Massachusetts di Boston, Amerika Serikat, tercengang karena si kembar yang berbagi rahim dari satu ibu positif Covid-19 ternyata memiliki kondisi plasenta individu yang sangat berbeda. "Jaringan salah satu plasenta meradang parah, penuh dengan sel kekebalan. Yang lainnya tampak sehat," kata Roberts kepada The Scientist.

Dari tes jaringan plasenta sebagai penanda Covid-19 dari bayi kembar tadi menunjukkan organ yang radang tampak terinfeksi virus secara parah. Adapun yang lain mengalami infeksi, dengan RNA virus yang relatif sedikit. Saat lahir, bayi kembar tersebut tak ada yang positif Covid-19.

"Bayi-bayi itu baik-baik saja," kata Roberts. Fakta bahwa satu plasenta sangat terinfeksi oleh virus dan meradang parah, sedangkan plasenta yang lain hanya terinfeksi ringan, menimbulkan pertanyaan tentang peran organ dalam mencegah penularan Covid-19 dari ibu ke janin selama kehamilan.

Ilustrasi Virus Corona (live.staticflickr.com)

Saat Roberts dan Torous mengidentifikasi plasenta kembar yang secara mengejutkan berbeda, para peneliti mulai mengumpulkan data yang menunjukkan bahwa virus memang dapat menular ke janin selama kehamilan. Bukti paling meyakinkan datang dari seorang ibu berusia 23 tahun di Prancis.

Saat persalinan, hasil usap hidung, darah, dan cairan ketuban semuanya dinyatakan positif terpapar virus. Begitu pula hasil usapan hidung bayi. Bayi ibu tadi juga menunjukkan gejala Covid-19 dan pemindaian otaknya menunjukkan organ tersebut meradang dengan kerusakan pada materi putih, mirip dengan yang dilaporkan pada orang dewasa yang menderita ensefalitis setelah terinfeksi Covid-19.

Studi kasus tersebut tidak hanya menunjukkan bahwa seorang ibu hamil sebenarnya dapat menularkan virus kepada anaknya yang belum lahir. "Tapi juga menyoroti kekhawatiran bahwa penularan tersebut dapat memiliki konsekuensi yang membahayakan bayi," kata Roberto Romero, kepala spesialis kedokteran ibu dan janin di cabang penelitian perinatologi yang berbasis di Detroit dari Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development (NICHD).

Setelah penelitian itu diterbitkan pada Juli 2020, Roberto Romero menjelaskan, salah satu pertanyaan paling mendesak dalam memahami Covid-19 dan kehamilan adalah seberapa besar potensi penularan dari ibu hamil yang positif Covid-19 ke janin.

Data menunjukkan bahwa calon ibu yang terinfeksi Covid-19 relatif jarang menularkan virus ke bayi mereka. Mungkin hanya sekitar 1 persen wanita hamil yang tertular Covid-19, meskipun beberapa perkiraan sebesar 30 persen. Sementara virus zika, tingkat penularan dari ibu hamil ke janin minimal 10 persen. Pada cytomegalovirus -sejenis virus herpes, kira-kira 30 persen pada trimester pertama dan kedua, serta 70 persen pada trimester ketiga.

Plasenta, menurut penelitian Drucilla Roberts, mungkin menjadi penyangga yang lebih baik untuk mencegah penularan virus dari ibu ke bayi dalam kasus Covid-19 dibandingkan jenis virus lainnya. Kendati bayi tidak tertular virus corona di dalam rahim, bukan berarti tidak ada risiko komplikasi setelah lahir. "Jika janin terkena peradangan karena infeksi virus ibunya, mungkin ada efek jangka panjang," ucap Diana Bianchi, ahli genetika medis dan neonatologi serta Direktur NICHD. "Hanya, sejauh ini kami belum tahu."

THE SCIENTIST | SCIENCE DAILY | TEMPO.CO | TERAS.ID