LIPUTAN KHUSUS:

Ditinggal Madden dan Julian, Sumatra Mulai Karhutla Lagi


Penulis : Gilang Helindro

Kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai mendominasi di Pulau Sumatra dalam sepekan terakhir

Karhutla

Kamis, 21 Maret 2024

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai dominan di Pulau Sumatra dalam sepekan terakhir ini. Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB dalam keterangan resminya mengatakan, karhutla mulai melanda wilayah Kabupaten Bener Meriah (Aceh), Asahan (Sumatra Utara), dan Kota Dumai (Riau).

Dari pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, sebelumnya titik karhutla juga melanda Sumatra Barat dengan 9 titik, Bengkulu 14 titik, Sumatra Selatan 6 titik, Kepulauan Riau 6 titik, Jambi 6 titik, Bangka Belitung satu titik panas. “Karhutla di daerah-daerah itu sudah mulai ditemukan sejak 12 Maret lalu. Beruntung api bisa segera dipadamkan,” kata Abdul.

Abdul menjelaskan, saat ini fenomena atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) mulai bergerak meninggalkan Pulau Sumatra. Perpindahan MJO ini membuat cuaca wilayah Sumatra berubah signifikan. Jika sebelumnya sebagian besar daerah mengalami peningkatan intensitas hujan dan beberapa kali dilanda bencana banjir dan tanah longsor, kini menjadi cukup kering sehingga rentan terjadi kebakaran. “Jadi fokus penanggulangan bencana saat ini juga sudah harus mengarah pada penanganan karhutla (agar) jangan sampai meluas,” ujarnya.

Menurut Abdul, pihaknya mengimbau kepada setiap kepala daerah untuk responsif menanggapi perubahan cuaca tersebut, seperti dengan segera menetapkan status siaga darurat karhutla khususnya daerah yang rawan.

Satgas pemadaman Karhutla di Riau. Foto: Istimewa/mediacenter.riau.go.id

Abdul menilai, respons itu penting sehingga upaya mitigasi dan penanganan darurat di daerah bisa berjalan secara maksimal. Salah satu upaya yang sudah bisa dilakukan yaitu menyiagakan petugas untuk melakukan pembasahan pada lahan mineral dan gambut sehingga tidak mudah tersulut cuaca panas selama masa transisi ini. “Tidak mesti menunggu puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada Juli-Agustus nanti," ungkap Abdul.