LIPUTAN KHUSUS:

Kabar Gembira, Satu Anak Gajah Lahir di Pusat Konservasi Riau


Penulis : Kennial Laia

Orang tua gajah tersebut adalah dua gajah hasil evakuasi dari jerat satwa di Kabupaten Kampar pada 2008.

Konservasi

Selasa, 09 April 2024

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Kabar gembira untuk konservasi satwa: Seekor gajah sumatra lahir di Pusat Konservasi Gajah Riau. Kelahiran tersebut terjadi di tengah deretan kematian gajah di Indonesia, baik karena perburuan, penyakit, maupun konflik dengan manusia. 

Gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) tersebut lahir pada Sabtu, 6 April 2024, pada pukul 03.30 WIB dini hari. Menurut Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Riau, Satyawan Pudyatmoko, anak gajah tersebut lahir dari induk gajah betina bernama Fuja (20 tahun) dan induk jantan Sarma (25 tahun). Keduanya merupakan hasil evakuasi akibat korban jerat satwa di wilayah Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, pada 2008. 

Menurut Satyawan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Riau telah melakukan pengecekan kesehatan dan pengukuran morfometrik pasca kelahiran tersebut. Hasilnya menunjukkan anak gajah berjenis kelamin betina dengan berat badan 75,5 kilogram. Sementara itu tinggi badan 75 sentimeter, dengan lingkar dada 97 sentimeter dan panjang badan 97 sentimeter. 

“Kondisi induk dan anak gajah dalam keadaan sehat serta menunjukkan vitalitas normal,” kata Satyawan dalam keterangan tertulis, Senin, 8 April 2024.  

Anak gajah yang baru lahir dan induknya Fuja di Pusat Latihan Gajah Riau. Anakan satwa ini lahir pada Sabtu, 6 April 2024. Dok KLHK

Satyawan mengatakan, tim dokter hewan dan perawat medis satwa dari Balai Besar KSDA Riau terus memantau kondisi kesehatan induk dan anak gajah tersebut secara intensif. Otoritas juga mencatat bahwa anak gajah tersebut lahir pada hari ke-27 Ramadhan 1445 H. 

“Harapannya, gajah sumatra yang baru lahir dalam suasana Ramadhan ini dapat menjadi cahaya kebaikan bagi dunia konservasi,” kata Satyawan. 

Gajah sumatra merupakan satwa endemik, dengan status Critically Endangered atau terancam kritis, yang berarti berisiko tinggi untuk punah di alam liar, menurut Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Berdasarkan data yang dikumpulkan Forum Jurnalis Lingkungan Aceh pada 2022, populasinya berkisar 1.600 hingga 2.000 individu yang terbesar di Aceh, Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, dan Lampung. 

Sepanjang 2024, terjadi lima kasus kematian gajah yang tersebar di Sumatra Utara, Riau, dan Aceh. Kematian ini terjadi setiap bulan. Penelusuran Betahita.ID, dua kematian paling baru terjadi pada 5 Maret dan 24 Maret, masing-masing di kabupaten Nagan Raya dan Aceh Utara, Aceh. Di provinsi yang sama, terjadi satu kematian pada 28 Februari yang berlokasi di Kabupaten Pidie Jaya. 

Pada Januari, terjadi dua kematian. Yang pertama dilaporkan di dalam konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) Hutan Alam yang dikelola PT Bentara Agra Timber di Bentang Alam Seblat, Mukomuko, Bengkulu pada 1 Januari 2024. Kehilangan ini kembali berulang pada 15 Januari, ketika gajah bernama Rahman dilaporkan mati diracun di Tesso Nilo, Riau.