LIPUTAN KHUSUS:

Petani Lada Datangi RUPS Luar Biasa PT Vale di Jakarta


Penulis : Aryo Bhawono

Mereka membentang spanduk penolakan penggarapan Blok Tanamalia.

Tambang

Selasa, 23 April 2024

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Petani lada di Desa Loeha dan Ranteangin, Sulawesi Selatan, menggelar aksi menuntut pelepasan konsesi di Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) PT Vale Indonesia  di Jakarta. Tambang Nikel di Blok Tanamalia, Sulawesi Selatan milik perusahaan itu mengancam pertanian dan air bersih.

Para petani ini menggelar spanduk ‘Selamatkan Hutan Hujan dan Sumber Kehidupan Masyarakat Loeha Raya’ di RUPSLB PT Vale Indonesia di Hotel Alila SCBD Jakarta pada Jumat (19/4/2024). Mereka menuntut PT Vale Indonesia dan para pemegang sahamnya menghentikan rencana perluasan tambang di Blok Tanamalia. 

Selain itu, mereka juga menuntut agar PT Vale Indonesia mengeluarkan Blok Tanamalia di Desa Loeha dan Ranteangin dari konsesi Vale Indonesia. 

Salah seorang petani, Ali Kamri, mengungkap aksi ini untuk memperlihatkan tuntutan masyarakat Loeha kepada pemegang saham PT Vale Indonesia. Lebih satu setengah tahun masyarakat Loeha Raya menuntut PT Vale Indonesia untuk tidak memperluas kegiatan tambangnya hingga ke Blok Tanamalia. Pada daerah ini merupakan area pertanian lada dan bentang alam hutan hujan. 

Petani lada di Desa Loeha dan Ranteangin, Sulawesi Selatan menggelar aksi menuntut pelepasan konsesi di Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) PT Vale Indonesia di Jakarta. Foto: Walhi Sulsel

"Desakan dan permintaan masyarakat, khususnya petani lada di Loeha dan Ranteangin telah dilakukan sejak tahun 2022. Permintaan utama masyarakat kepada PT Vale Indonesia adalah mengeluarkan Blok Tanamalia dari konsesi PT Vale Indonesia dan menghentikan ekspansi tambang nikel di  perkebunan lada dan ekosistem hutan hujan di Loeha Raya," ucap dia.

Ali datang langsung dari Sulawesi Selatan ke Jakarta untuk untuk menyelamatkan ekosistem hutan hujan, sumber air, dan sumber kehidupan masyarakat di Loeha Raya.

"Kami datang dari Sulawesi Selatan ingin bertemu langsung dengan para pemegang saham PT Vale untuk menyampaikan tuntutan dari para petani dan perempuan di Loeha Raya", ujarnya.

Menurutnya Blok Tanamalia merupakan lahan produktif dan sumber penghidupan utama di lima desa. Jika PT Vale Indonesia menambang area tersebut maka tidak hanya ribuan petani yang menderita, akan tetapi belasan ribu buruh tani, pedagang di Loeha Raya akan jatuh miskin dan hidup menderita.

"Tidak cuman lahan produktif dan sumber penghidupan bagi puluhan ribu orang, Tanamalia juga merupakan bentang alam ekosistem hutan dan sumber air bersih kami. Maka dari itu, kami cuman punya satu tuntutan yakni hapuskan Blok Tanamalia dari Konsesi PT Vale Indonesia", katanya. 

Aksi ini berjalan dengan damai. Beberapa pemegang saham PT Vale Indonesia yang hadir dan melihat aksi ini turut memberi dukungan dan semangat kepada para petani.