LIPUTAN KHUSUS:

4 Fokus Forum Air Global ke-10 di Bali


Penulis : Gilang Helindro

WWF --kali ini bukan singkatan World Wildlife Fund, tapi World Water Forum-- pada 18-25 Mei berfokus pada konservasi air, air bersih dan sanitasi, ketahanan pangan dan energi, serta mitigasi bencana alam. Mengapa?

Konservasi

Selasa, 30 April 2024

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID - Indonesia akan menjadi tuan rumah World Water Forum (WWF) atau Forum Air Global ke-10, yang akan diselenggarakan di Bali pada 18-25 Mei 2024. Forum akan berfokus membahas empat hal, yakni konservasi air, air bersih dan sanitasi, ketahanan pangan dan energi, serta mitigasi bencana alam.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengatakan konservasi air menjadi konsentrasi utama dalam dasar Gerakan Ekonomi Nusantara, yakni model ekonomi restoratif yang dikembangkan Walhi bersama Ford Foundation untuk memberdayakan masyarakat dalam mengelola sumber daya alam.

Direktur Eksekutif Nasional Walhi Zenzi Suhadi mengatakan, semua ekonomi yang dibentuk di seluruh ekosistem yang menjadi konsentrasi kami dalam memberdayakan masyarakat berbasis konservasi air. “Air adalah konsentrasi pertama mereka (masyarakat) di lingkungan," kata Zenzi, Senin, 29 April 2024.

Zenzi menyebut, Indonesia memiliki tujuh ekosistem unik yang bisa menjadi potensi ekonomi Nusantara yang berbasis konservasi lingkungan, yakni sabana (padang rumput), gambut, rawa, terestrial (daratan), pegunungan karst (kapur), pesisir, laut, dan danau atau sungai (perairan darat).

Sungai Putimata, sumber air bagi masyarakat Desa Towara, Petasia Timur, Morowali Utara, Sulawesi Tengah, diduga tercemar akibat aktivitas perusahaan pertambangan nikel. Dok Betahita/Yudi N.

Rakyat di Indonesia, kata Zenzi telah membentuk ekonomi dengan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. “Sabana membentuk ternak, karst membentuk ekosistem padi, dan seterusnya. Di Pulau Kalimantan dan Sumatera, juga ada gambut yang membentuk ekonomi perairan (ikan)," kata Zenzi.

Menurut Zenzi, selain meningkatkan nilai ekonomi dan ekspor, produksi rakyat yang berbasis konservasi air juga selama ini telah berhasil memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri, dalam hal ini kedaulatan pangan, yang juga menyokong ketahanan pangan Indonesia secara nasional.

“Beras yang dihasilkan oleh ekosistem karst dan air di Sulawesi Selatan, itu menyuplai kebutuhan beras di sekitarnya. Satu sistem yang perlu kita lindungi untuk menjaga kedaulatan pangan kita," ungkap Zenzi.

Zenzi mencontohkan, salah satu Kampung Ekologi di Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara, yang dikelola Walhi bekerja sama dengan pemerintah, lembaga lain, dan masyarakat yang mengedepankan konservasi air.

Desa Kalaodi wilayahnya berada pada lereng dan puncak gunung, di mana daya serap airnya sangat rendah, dan masyarakat di sana tidak ada yang punya sumur. “Mereka membuat sistem penampungan dalam rumah. Jadi, setiap rumah di sana memiliki bilik khusus untuk menampung air," kata Zenzi.

Tata kelola membentuk satu ekosistem yang menghasilkan ekonomi sekaligus mengkonservasi air untuk orang hilir, sehingga sebutan Kalaodi itu Penjaga Air Tidore. Zenzi menekankan bahwa ada dua komponen yang selama ini diidentifikasi menjadi konsentrasi utama masyarakat.

"Mereka menyebutnya kecil menjadi sahabat, besar menjadi bencana, yakni air dan api. Belajar dari dua filosofi ini, Indonesia itu bisa membangun ekonomi tanpa menimbulkan bencana," kata Zenzi.