LIPUTAN KHUSUS:
Memutus Kecanduan Ekstraksi
Penulis : Purwanto Setiadi, JURNALIS
Mengapa transformasi ekonomi Indonesia menyerupai penyembuhan dari ketergantungan struktural, bukan sekadar penyesuaian kebijakan.
OPINI
Rabu, 18 Februari 2026
Editor : Yosep Suprayogi
SEPERTI penyelam yang turun ke perairan keruh, ekonomi Indonesia telah memasuki zona kontradiksi yang serius. Rusaknya lingkungan akibat perluasan industri ekstraktif sebenarnya telah dipahami secara luas, diakui secara publik, dan berulang kali didokumentasikan. Tapi sistem yang berlaku justru terus menambah aktivitas yang menyebabkan kerusakan itu.
Kontradiksinya menjadi lebih masuk akal manakala ia dilihat bukan semata-mata sebagai kegagalan kebijakan, melainkan juga sebagai bentuk ketergantungan struktural.
Ketergantungan lazimnya dipahami sebagai pola yang terus berlanjut meskipun bahayanya sudah diketahui. Ada kesadaran, tapi perilaku tetap bertahan. Stabilitas jangka pendek menjadi terkait dengan praktik-praktik yang merusak kesejahteraan jangka panjang. Dalam program penyembuhan yang dikenal sebagai program 12 langkah, tindakan pertama adalah menyadari bahwa masalahnya bukanlah kurangnya informasi, melainkan ketergantungan itu sendiri. Perilaku destruktif terus berlanjut karena sistem telah mengatur ulang dirinya sendiri untuk mempertahankan perilaku itu.
Ketergantungan ekonomi Indonesia pada kegiatan ekstraksi bukanlah kebetulan. Hal ini tertanam dalam aliran pendapatan fiskal dari royalti batu bara, ekspor minyak sawit, dan produksi tambang mineral; dalam pendapatan devisa yang menstabilkan rupiah; dalam lapangan kerja di seluruh wilayah; dalam pendapatan pemerintah daerah; dan dalam struktur politik serta keuangan yang melingkupinya. Biaya-biaya yang timbul memang tidak disembunyikan atau diperdebatkan. Tapi stabilitas sistem telah sangat terkait dengan keberlanjutannya.
Dalam setiap proses penyembuhan, yang mula-mula harus dilakukan bukanlah hal-hal teknis atau prosedural. Yang dibutuhkan adalah pengakuan bahwa sistem yang berlaku tak sanggup lagi untuk sepenuhnya mengontrol kekuatan-kekuatan yang membuatnya begitu tergantung.
Dalam hal kecanduan, pengakuan tak serta-merta berarti kelemahan. Pengakuan justru memperjelas sifat dari kendalanya. Suatu kebiasaan bertahan bukan karena kerusakan yang diakibatkannya tak kasatmata, tapi karena stabilitas telah menjadi terikat pada berlanjutnya kebiasaan itu. Bukan sistem yang mempertahankan kebiasaan; kebiasaanlah yang mempertahankan sistem.
Kondisi serupa semakin menegaskan pengertian dari ekonomi ekstraktif Indonesia. Kebijakan publik dapat meregulasi, memperlambat, atau menghentikan sementara kegiatan ekstraksi. Tapi kebijakan itu tak mampu dengan gampang menyetopnya tanpa memicu konsekuensi yang menimbulkan riak pada kondisi fiskal, finansial, dan fondasi sosial perekonomian. Ekspor batu bara menghasilkan nilai tukar yang menstabilkan rupiah. Penghiliran hasil tambang mineral menarik investasi dan mendukung ekspansi industri. Ekspor minyak sawit menguntungkan neraca perdagangan dan menambah penerimaan pemerintah. Di banyak daerah, ekonomi lokal, lapangan kerja, dan anggaran publik tetap sangat terkait dengan sektor ekstraktif.
Kesalingterkaitan itu menciptakan hambatan struktural. Mengurangi dengan cepat kegiatan di sektor ekstraktif berisiko menggoyahkan penerimaan pemerintah, melemahkan keseimbangan eksternal, dan mendisrupsi mata pencaharian di daerah yang tak punya banyak alternatif. Yang di permukaan tampak sebagai pilihan kebijakan yang mendesak sering mencerminkan sempitnya opsi yang tersedia ketimbang yang umumnya diakui.
Hal itu membantu menjelaskan kenapa kegiatan ekstraktif terus meningkat meskipun biaya ekonomi dan ekologis jangka panjangnya telah dipahami secara luas. Keberlangsungan praktik ekstraktif bukan sekadar hasil dari penyangkalan atau pemikiran jangka pendek. Ini mencerminkan sebuah sistem yang telah mereorganisasi fungsi pokoknya demi mempertahankan aliran pendapatan, lapangan kerja, dan stabilitas keuangan yang disediakan oleh aktivitas ekstraksi.
Dengan kondisi tersebut transisi tak bakal bisa diwujudkan melalui komitmen saja. Ini juga memerlukan perubahan struktur yang mendasarinya, yang membuat ekstraksi sejak awal tampak tak tergantikan.
***
Namun, pengakuan tak otomatis mengarah ke perubahan. Dalam program penyembuhan, individu sering memahami kerusakan akibat ketergantungannya jauh sebelum perilakunya berganti. Kesadaran saja jarang mengubah hasil ketika kondisi mendasar yang mempertahankan ketergantungan itu tetap utuh.
Ekonomi ekstraktif Indonesia mencerminkan dinamika serupa. Biaya sosial dan lingkungan dari kegiatan ekstraksi telah luas dikaji oleh lembaga pemerintah, universitas, institusi riset, dan organisasi masyarakat sipil. Komitmen iklim telah resmi diadopsi. Moratorium diumumkan. Standar keberlanjutan juga diperkenalkan. Tapi struktur ekonomi secara keseluruhan terus bergantung pada perluasan ekstraksi, sering dalam bentuk baru atau dengan pembenaran baru.
Peta Overlay Konsesi Kebun sawit di Sumatera dengan jumlah eksisting 5.324.557,370 Ha. Data: sawit
Kondisi itu tak selalu merupakan hasil dari ketidakjujuran. Ia mencerminkan betapa dalam keselarasan struktural dari insentifnya. Sistem fiskal terus bergantung pada pendapatan berbasis sumber daya alam yang bersifat langsung, dapat diprediksi, dan berskala besar. Lembaga keuangan tetap lebih bersedia mendanai proyek-proyek dengan penghasilan ekstraktif yang telah terbukti ketimbang proyek-proyek yang terkait dengan restorasi ekologis, yang sering panjang jangka waktunya dan dengan ketidakpastian yang lebih besar. Strategi pembangunan regional terus memprioritaskan industri yang dengan cepat menghasilkan pertumbuhan, lapangan kerja, dan pendapatan pemerintah daerah.
Dalam kondisi begitu, kesadaran berdampingan dengan keberlanjutan. Sistem beradaptasi untuk memasukkan keprihatinan atas situasi lingkungan secara retoris, sambil mengawetkan aliran pendapatan yang menopang stabilitasnya. Industri ekstraktif mungkin menjadi semakin efisien, lebih maju teknologinya, atau lebih ketat regulasinya, tapi fungsi ekonomi utamanya sebagian besar tetap tak berubah.
Itulah sebabnya komitmen lingkungan dan ekspansi kegiatan ekstraktif kerap berlanjut bersamaan daripada secara berurutan. Dalam niatnya, keduanya tak harus kontradiktif, merefleksikan sistem yang berupaya mengakurkan pengakuan jangka panjang dengan ketergantungan jangka pendek.
Selama insentif struktural yang mengutamakan ekstraksi masih utuh, kesadaran saja tak bakal menghasilkan transisi. Perubahan menuntut lebih dari sekadar pengakuan atas biaya ekstraksi, tapi juga mereorganisasi fondasi ekonomi yang membuat kelanjutannya tampak perlu.
Namun, ketergantungan menyingkap fakta bahwa cengkeramannya yang paling kuat terletak bukan pada momen kelanjutan, melainkan pada saat-saat ada upaya untuk melepaskan diri.
Dalam proses penyembuhan, mengurangi ketergantungan sering lebih dulu menghasilkan ketidakstabilan sebelum akhirnya stabilitas datang. Gangguan yang timbul bukanlah tanda bahwa penyembuhannya salah arah, tapi betapa dalam sistemnya telah menyesuaikan diri dengan ketergantungan. Apa yang semula tampak memberikan stabilitas ternyata menyembunyikan kerentanan yang parah.
Pola yang sama muncul dalam upaya mengurangi ketergantungan pada ekstraksi. Tersebab oleh ekstraksi telah tertanam dalam penerimaan fiskal, pendapatan ekspor, dan ekonomi regional, bahkan pengurangan sedikit demi sedikit pun dapat menghasilkan disrupsi yang seketika dan nyata. Pendapatan pemerintah sangat boleh jadi menyusut sebelum sumber-sumber pengganti sepenuhnya dikembangkan. Ketergantungan daerah pada pertambangan atau perkebunan bisa menghadapi ketidakpastian lapangan kerja. Neraca perdagangan berpotensi melemah mengikuti fluktuasi penerimaan ekspor. Aliran investasi, yang terbiasa dengan pendapatan dari kegiatan ekstraktif, terancam mandek tanpa adanya alternatif yang pasti.
Disrupsi-disrupsi itu kerap diartikan sebagai bukti bahwa, dalam konteks fiskal, transformasi ekonomi adalah berbahaya atau tak bertanggung jawab. Kenyataannya, semua itu mencerminkan ketidakseimbangan struktural yang tercipta berkat ketergantungan yang berlangsung lama. Stabilitas yang tampak menyertai ekonomi ekstraktif bergantung pada perluasan terus-menerus dari aktivitas yang menimbulkan biaya ekologi dan ekonomi jangka panjang yang kian meningkat.
Hal itu menjelaskan kenapa ekspansi ekstraksi kerap bertambah bahkan ketika kesadaran akan risikonya berkembang kuat. Dihadapkan pada tekanan fiskal, ketidakpastian eksternal, atau pertumbuhan yang melambat, sistem yang ada cenderung mengarah ke aktivitas-aktivitas yang paling cepat dapat memulihkan stabilitas jangka pendek. Ekstraksi menjadi bukan saja sumber pertumbuhan, tapi juga mekanisme untuk mengelola kerentanan.
Kondisi itu memperlihatkan betapa ketergantungan yang terus berlangsung menjadi tampak rasional, bahkan meski dengan begitu kerentanan jangka panjangnya semakin dalam. Sistem ini memprioritaskan stabilisasi segera ketimbang transformasi struktural, memperkuat ketergantungan yang justru membuat transisi semakin sulit dari waktu ke waktu.
Mengakui dinamika tersebut menjadi penting. Ketidakstabilan jangka pendek yang berasosiasi dengan proses transisi bukanlah bukti kegagalan. Ia menjadi bukti betapa parahnya ketergantungan itu sendiri.
Maka, jelas, kalau ketergantungan adalah perkara struktural, penyembuhannya pun harus bersifat struktural.
***
Program penyembuhan mensyaratkan bahwa perubahan yang awet tak bisa datang dari niat belaka. Perubahan juga memerlukan pengaturan ulang kondisi yang sejak awal mempertahankan ketergantungan. Stabilitas harus dibangun ulang di atas fondasi baru, sehingga sistemnya tak lagi bersandar pada pola yang mulanya justru melemahkannya.
Prinsip yang sama berlaku untuk mentransformasikan ekonomi Indonesia. Mengurangi ketergantungan pada sektor ekstraktif bukan perkara mengganti satu komoditas dengan komoditas yang lain, atau memperkenalkan teknologi yang lebih bersih dalam sistem ekstraktif yang ada. Upaya ini membutuhkan perombakan fiskal, finansial, dan struktur pembangunan yang telah menjadikan ekstraksi seakan-akan tak tergantikan bagi stabilitas ekonomi.
Mula-mula harus ada transformasi fiskal. Selama penerimaan publik tetap terikat dengan aliran dari ekstraksi, tekanan untuk mempertahankan dan memperluas kegiatan itu akan bertahan. Membangun basis pendapatan alternatif yang lebih stabil menjadi keniscayaan. Ini penting bukan saja untuk keberlanjutan lingkungan, tapi juga ketahanan fiskal itu sendiri.
Selain itu, dibutuhkan transformasi finansial. Sistem ini memainkan peran menentukan dalam memutuskan kegiatan mana yang bisa diperluas dan mana yang dibiarkan tetap marginal. Saat ini industri ekstraktif memperoleh manfaat dari saluran-saluran pembiayaan yang mapan, pendapatan yang dapat diperkirakan, dan kelembagaan yang telah dikenal. Kegiatan restoratif—seperti rehabilitasi ekosistem, pertanian regeneratif, dan energi terbarukan yang terdesentralisasi—sering menghadapi rintangan pembiayaan yang bersifat struktural, terlepas dari nilai ekonomi dan sosialnya dalam jangka panjang. Karenanya, mengalihkan arus keuangan ke arah sektor restoratif bukan masalah sampingan, tapi kondisi sentral yang memungkinkan adanya transisi.
Tak kalah pentingnya adalah transformasi ekonomi daerah. Banyak daerah yang ekonominya dibangun berdasarkan ekstraksi selama puluhan tahun, yang menyebabkan daerah-daerah itu rentan terhadap distribusi kalau kegiatan ekstraktif menurun. Transisi, dalam konteks ini, harus secara sengaja melibatkan pengembangan landasan ekonomi alternatif yang mampu mempertahankan mata pencaharian dan pendapatan publik dalam jangka panjang.
Semua perubahan tersebut sama sekali bukan antipembangunan. Sebaliknya, semuanya adalah kondisi yang harus ada bagi stabilitas yang tahan lama. Sebuah perekonomian yang diselenggarakan demi restorasi ketimbang pengerukan sumber daya alam lebih sedikit terekspos dengan volatilitas komoditas, lebih sedikit rentan terhadap gangguan ekologis, dan lebih sedikit bergantung pada perluasan aktivitas yang terus-menerus mengikis fondasinya sendiri.
Karenanya, Indonesia menghadapi tantangan bukan saja mengelola ekstraksi secara lebih berhati-hati, tapi juga membangun kondisi struktural yang dengannya stabilitas ekonomi tak harus bergantung total pada ekstraksi.
Untuk itu, pengakuan harus datang lebih dulu. Penentu keberhasilan transisinya bukanlah seberapa lama sektor ekstraksi bisa dipertahankan, tapi sejauh mana negara sengaja mereorganisasi fondasi ekonomi agar mampu maju melampaui sektor ini.

Share
