LIPUTAN KHUSUS:

Lebih dari 5.000 Hotspot Muncul di Gambut Meski Masih Musim Hujan


Penulis : Kennial Laia

Titik panas tertinggi terdeteksi di Riau dan Kalimantan Barat, di mana kebakaran memicu kabut asap.

Karhutla

Kamis, 12 Maret 2026

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Tren kebakaran hutan dan lahan gambut tahun ini terus berlanjut. Sebanyak 5.114 titik panas (hotspot) kembali muncul di kawasan gambut di Sumatra dan Kalimantan sepanjang Februari, menurut analisis terbaru dari Pantau Gambut. 

Riau dan Kalimantan Barat menjadi dua wilayah dengan jumlah kebakaran tertinggi pada Februari 2026, masing-masing mendeteksi 2.890 dan 1.316 titik panas. Pada Januari, Pantau Gambut menemukan sedikitnya 5.490 titik panas terdeteksi di kesatuan hidrologis gambut. Temuan ini menandakan bahwa kebakaran gambut sudah terjadi bahkan sebelum musim kemarau dimulai. 

Kepala Divisi Kajian dan Kampanye WALHI Kalimantan Barat Indra Syahnanda mengatakan, kebakaran memicu kabut asap di sejumlah titik. Asap tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan warga. Bahkan, dilaporkan seorang warga meninggal dunia yang diduga berkaitan dengan dampak karhutla. 

”Peningkatan kebakaran dalam dua bulan terakhir telah memicu munculnya kabut asap di sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Barat,” kata Indra, Rabu, 11 Maret 2026. 

Pemantauan udara kebakaran di Desa Galang, Sungai Pinyuh, Mempawah, Kalimantan Barat, Februari 2026. Dok. Istimewa

Sementara itu Direktur Eksekutif WALHI Riau Eko Yunanda mengatakan: “Kebakaran di Riau banyak terjadi di pulau-pulau kecil yang didominasi ekosistem gambut, seperti Pulau Bengkalis, Pulau Rupat, dan Pulau Mendol.” 

Analisis lebih lanjut menunjukkan sebagian titik panas berada di wilayah konsesi perusahaan. Dari pemetaan yang dilakukan, sedikitnya 1.080 titik panas berada di area konsesi perkebunan sawit (HGU) dan 250 titik panas di konsesi hutan tanaman industri (PBPH-HTI). 

“Kondisi ini mengindikasikan bahwa kerentanan kebakaran di gambut tidak dapat dilepaskan dari praktik pengelolaan lahan dan kerusakan ekosistem yang telah berlangsung lama,” Juru Kampanye Pantau Gambut Putra Saptian. 

Situasi ini semakin mengkhawatirkan jika melihat proyeksi kondisi iklim tahun ini, kata Putra. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih cepat di banyak wilayah Indonesia. Sekitar 46 persen wilayah diperkirakan mengalami kemarau lebih awal dari biasanya. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026, dengan kondisi yang berpotensi lebih kering di sejumlah wilayah. 

Putra mengatakan, kemunculan ribuan titik api pada awal tahun seharusnya menjadi peringatan serius bahwa kebakaran gambut bukan sekadar fenomena musiman. 

“Jika kebakaran sudah muncul bahkan saat musim hujan, itu berarti kerentanan ekosistem gambut kita sudah sangat tinggi dan perlindungan belum berjalan efektif. Tanpa upaya serius untuk melindungi dan memulihkan gambut yang telah rusak, kebakaran akan terus berulang setiap tahun dengan skala kerusakan yang semakin besar,” ujarnya. 

“Pemerintah perlu memperkuat perlindungan kawasan gambut, meningkatkan pengawasan pada wilayah konsesi, serta mempercepat pemulihan ekosistem gambut yang telah mengalami degradasi, agar kebakaran tidak terus berulang”.