LIPUTAN KHUSUS:
5,62 Juta Ha Hutan Indonesia Terbakar dalam Karhutla 2019-2024
Penulis : Kennial Laia
Riset menemukan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia bersifat musiman dan terkait erat dengan anomali iklim global.
Karhutla
Rabu, 06 Mei 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Selama enam tahun berturut-turut, Indonesia kehilangan hutan seluas 5,62 juta hektare akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada periode Januari 2019-Desember 2024. Para peneliti juga menemukan bukti bahwa kebakaran tahunan di Indonesia sangat terkait erat dengan iklim global seperti El Nino dan La Nina, menurut sebuah analisis yang telah ditinjau rekan sejawat.
Penelitian tersebut menyajikan rantai pemrosesan area terbakar bulanan operasional pertama di Indonesia, yang sebagian besar didasarkan pada pemrosesan otomatis citra Sentinel-2 di Google Earth Engine.
“Sistem ini bukan sekedar analisis ilmiah yang dilakukan satu kali saja, namun merupakan sebuah sistem yang sepenuhnya otomatis dan dapat diulang, yang menghasilkan peta area terbakar yang konsisten setiap bulan di seluruh Indonesia, mulai dari Juni 2019 hingga saat ini,” kata penulis utama laporan dan pendiri The Tree Map, David Gaveau kepada Betahita, Selasa, 4 Mei 2026.
Menurut Gaveau, luas kebakaran yang dihasilkan dalam analisis tersebut termasuk di hutan alam primer dan lahan-lahan yang telah terbakar berulang kali. Angka kebakaran kumulatif tersebut termasuk 2,92 juta hektare yang terbakar satu kali dan 1,12 juga hektare yang terbakar berkali-kali. Keduanya mewakili total luas lahan yang terbakar sebesar 4,04 juta hektare.
Studi ini menyajikan rantai pemrosesan area terbakar bulanan operasional pertama yang dirancang untuk mendeteksi kebakaran dengan tingkat detail yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia. Sistem ini menggabungkan citra Sentinel-2 frekuensi tinggi (setiap 3-5 hari) dengan titik api harian di platform Fire Information for Resources Management System (FIRMS), untuk menghasilkan peta area terbakar bulanan beresolusi 20 meter.
Rantai pemrosesan berjalan di Google Earth Engine dan memberikan informasi bulanan secara tepat waktu yang dapat mendukung tanggap darurat, investigasi forensik, penegakan hukum, dan perencanaan konservasi di seluruh Indonesia. Pembaruan bulanan ini akan tersedia untuk dianalisis melalui Nusantara Atlas.
“Kami yakin hal ini akan menjadi alat yang berharga untuk mendukung pemantauan risiko kebakaran, investigasi, dan uji tuntas rantai pasok, khususnya dalam konteks potensi kondisi kering pada 2026 dengan kemungkinan El Nino yang akan datang,” kata para penulis.
Karhutla Indonesia dan anomali iklim
Penelitian tersebut juga mengonfirmasi bahwa tahun-tahun kebakaran besar di Indonesia sangat terkait dengan anomali iklim, khususnya kekeringan yang disebabkan oleh El Niño, fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian timur-tengah; serta Dipol Samudra Hindia (IOD), yang ditandai dengan perbedaan suhu permukaan laut yang terus-menerus antara Samudra Hindia tropis bagian barat dan timur. Keduanya berkaitan dengan potensi musim kemarau panjang, panas ekstrem, dan penurunan curah hujan.
Musim kebakaran pada 2019, meskipun tidak terkait dengan El Nino, didorong oleh IOD positif yang sangat kuat, yang paling intens sejak tahun 1960-an, yang juga menyebabkan defisit curah hujan yang parah di Kalimantan dan Sumatra.
“Kami menemukan bahwa musim kebakaran hebat, yakni 2019 dan 2023, bertepatan dengan fase positif IOD dan El Niño–Southern Oscillation (ENSO),” kata Gaveau.
“Pola ini sejalan dengan temuan sebelumnya, yang menunjukkan bahwa pengaruh gabungan ENSO dan IOD meningkatkan musim kemarau dan aktivitas kebakaran di Sumatra dan Kalimantan. Ini menegaskan pentingnya peringatan dini untuk indeks seperti kedua fenomena iklim tersebut,” ujarnya.
Penelitian tersebut menemukan, meski kondisi sangat kering pada tahun-tahun tersebut, hutan primer lembab yang terbakar mencapai 122.164 hektare, atau setara 2,2% dari total area yang terbakar. Hal ini kontras dengan tahun-tahun kebakaran ekstrem sebelumnya. Pada 1997/98, diperkirakan 5 juta hektare hutan terbakar, sedangkan pada 2015/16, angkanya mencapai 450 ribu hektare.
“Temuan ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan tanggap kebakaran yang dilakukan baru-baru ini mempunyai dampak yang nyata, khususnya di hutan lembab selama tahun-tahun kekeringan parah,” kata Adria Descals dari Fakultas Biologi University of Antwerp yang terlibat dalam penelitian tersebut.
Analis data spasial The TreeMap Agus Salim mengatakan, kebakaran di Indonesia bersifat musiman. Kejadian terparah terjadi pada 2019 dan 2023, terutama pada bulan September dan Oktober.
“Aktivitas kebakaran meningkat dari bulan Juli dan mencapai puncaknya pada bulan September–Oktober. Sebaliknya, pada tahun 2020–2022 terjadi kebakaran minimal pada fase netral atau negatif dari kedua indeks, sedangkan tahun 2024 menunjukkan aktivitas kebakaran sedang tanpa anomali yang kuat,” katanya.
Distribusi spasial wilayah terbakar dari 2019 hingga 2024 menunjukkan pola yang sangat tidak merata di seluruh wilayah dan provinsi di Indonesia. Pada skala regional, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Sumatra mengalami kebakaran terbesar, masing-masing melebihi 1 juta hektare.
Ketiga wilayah ini secara konsisten mencatat aktivitas kebakaran yang besar selama beberapa tahun, terutama selama puncak musim kebakaran pada 2019 dan 2023. Di tingkat provinsi, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan Sumatra Selatan merupakan daerah paling terkena dampaknya, dan secara kolektif mencakup 52,2% dari total luas wilayah yang terbakar selama periode 2019-2024.
Tahun ini fenomena El Nino diperkirakan melanda Indonesia pada pertengahan tahun, dan akan menguat hingga akhir tahun.

Share
