LIPUTAN KHUSUS:

Pantai Sepi Wisatawan Jadi Tempat Bermain Dugong


Penulis : Betahita.id

Gambar udara yang langka menunjukkan kawanan lebih dari 30 dugong, berenang tenang di lepas pantai Thailand pada hari Rabu, 22 April 2020.

Biodiversitas

Jumat, 24 April 2020

Editor :

BETAHITA.ID -  Kabar baik dari dampat buruk yang disebabkan wabah corona adalah pantai yang sepi wisatawan jadi peluang bagi sejumlah satwa menemukan kembali habitatnya. 

Beberapa waktu lalu, pantai-pantai di Thailand yang sepi wisatawan, disambangi penyu. Mereka bertelur dan membuat sarang-sarang baru, yang biasanya jarang ditemui.

Channel News Asia melaporkan kawanan ikan duyung atau dugong terlihat di lepas pantai Thailand. Gambar udara yang langka menunjukkan kawanan lebih dari 30 dugong, berenang tenang di lepas pantai Thailand pada hari Rabu, 22 April 2020.

Industri pariwisata Thailand terpukul sejak wabah virus corona menjangkit. Wabah itu membuat jutaan orang kehilangan pekerjaan akibat perjalanan global lumpuh.

Ikan dugong terlihat berenang di perairan Pulau Libong, Thailand Selatan, yang sepi turis karena wabah corona. (CNA)

Tetapi menurunnya jumlah wisatawan, membawa kebangkitan satwa liar di sepanjang garis pantai dan saluran air, termasuk laporan minggu ini tentang rekor jumlah sarang penyu belimbing di pantai-pantai terpencil di negara itu.

Gambar drone yang dirilis oleh Pusat Operasi Taman Laut Nasional menunjukkan ikan duyung berenang di lepas pantai Pulau Libong selatan. Makhluk laut yang bergerak lambat, terkait erat dengan manatee, diklasifikasikan sebagai spesies yang rentan.

Thailand tidak selalu menjadi tempat yang aman bagi satwa liar. Perairan Thailand terdapat limbah plastik, yang dapat mencekik kehidupan laut dan polusi air dari lalu lintas perahu, yang memiliki andil merusak habitat.

Tahun lalu, seekor bayi duyung yatim piatu ditemukan terdampar di sebuah pantai di Thailand selatan, memenangkan hati nasional ketika para konservasionis berjuang untuk mempertahankannya.

Ia meninggal berbulan-bulan kemudian karena infeksi, yang diperburuk oleh sampah di dalam perutnya. Kasus itu menghidupkan kembali debat publik tentang kebutuhan mendesak Thailand untuk mengatasi kecanduan plastik.

TEMPO.CO | BETAHITA.ID