LIPUTAN KHUSUS:

Mendedah Angka Deforestasi Tanah Papua


Penulis : Raden Ariyo Wicaksono

Salah satu pelaku utama deforestasi di Bumi Cendrawasih ini adalah industri ekstraktif yang menjamur.

Deforestasi

Jumat, 05 Februari 2021

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID - "Hutan Adat Nduga tidak akan dijual. Saya sudah lihat hutan yang sudah dibongkar, hidupnya tidak baik," ujar Bosco Duga.

Bosco Duga adalah Ketua Marga Nduga yang berdomisili di Dusun Kali Kao, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel. Lelaki berusia 45 tahun itu memiliki wilayah adat yang sebagiannya masuk ke dalam peta konsensi usaha perkebunan sawit PT TSE Blok E, tanpa adanya persetujuan pemberian tanah adat dari Bosco Duga.

Deforestasi atau hilangnya tutupan hutan alam di Indonesia saat ini telah mencapai angka 9,9 juta hektare. Itu terjadi hampir di seluruh wilayah provinsi kaya hutan. Termasuk di Tanah Papua (Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat). Salah satu pelaku utama deforestasi di Bumi Cendrawasih ini adalah industri ekstraktif yang kian hari makin menjamur.

Berdasarkan data hasil analisis deforestasi di Tanah Papua, yang dikerjakan Yayasan Auriga Nusantara. Total luas hilangnya hutan alam di pulau kaya sumber daya alam ini dari tahun ke tahun angkanya terus bertambah. Luas hutan alam di Tanah Papua sendiri tercatat sebesar kurang lebih 33.710.523,22 hektare. Namun dalam dua dekade terakhir, sekitar 663.443 hektare hutan alam di sana diketahui lenyap.

Tampak dari ketinggian kondisi hutan yang dibabat untuk pembangunan perkebunan sawit di Papua./Foto: Yayasan Pusaka

Lenyapnya tutupan hutan alam itu 29 persen di antaranya terjadi pada 2001-2010 dan 71 persen lainnya terjadi dalam rentang waktu 2011-2019. Bila diambil rata-rata, per tahunnya ada sekitar 34.918 hektare hutan alam hilang di Tanah Papua. Tertinggi terjadi pada 2015, yang menghilangkan 89.881 hektare hutan alam.

Merauke dan Boven Digoel Mendominasi Perolehan Angka Deforestasi

Bila dirinci, dalam 20 tahun terakhir, 87 persen deforestasi itu terjadi di 20 kabupaten, atau di separuh dari jumlah kabupaten yang ada di Tanah Papua. Deforestasi terbesar terjadi Kabupaten Merauke, Kabupaten Boven Digoel dan Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. Yang masing-masing seluas 123.049 hektare, 51.600 hektare dan 32.924 hektare.

Sementara itu, deforestasi yang terjadi di wilayah Provinsi Papua Barat relatif merata. Terbesar terjadi di Kabupaten Teluk Bintuni 33.443 hektare, Kabupaten Sorong 33.434 hektare dan Kabupaten Fakfak 31.777 hektare.

Apabila dilihat berdasarkan tren deforestasi lima tahunan. Terlihat ada beberapa kabupaten yang mendominasi laju deforestasi. Di periode lima tahun pertama (2001-2005), Kabupaten Boven Digoel merajai perolehan angka deforestasi terbesar, dengan mendulang angka sebesar 9.838 hektare. Peringkat kedua ditempati Kabupaten Teluk Bintuni dengan luas 6.871 hektare. Sedangkan peringkat ketiga dan keempat, diduduki oleh Kabupaten Kaimana dengan deforestasi sebesar 6.866 hektare, dan Kabupaten Mimika dengan luas pembabatan hutan alam sebesar 4.563 hektare.

Sama dengan di periode lima tahun pertama. Di periode lima tahun kedua (2006-2010), Kabupaten Boven Digoel lagi-lagi muncul sebagai kabupaten yang paling terdepan menghasilkan deforestasi terbesar di Tanah Papua, dengan luas 12.946,72 hektare. Namun ada nama-nama baru kabupaten penghasil deforestasi terbesar selanjutnya di periode ini. Yaitu Kabupaten Sorong di posisi kedua, yang menghasilkan 9.710,80 hektare, Kabupaten Jayapura sebesar 7.278,32 hektare di posisi ketiga. Pada periode ini Kabupaten Mimika kembali menempati posisi keempat dengan luas deforestasi yang dihasilkan 6.528,32 hektare.

Kemudian di periode ketiga (2011-2015), peringkat kabupaten tertinggi penghasil deforetasi mengalami perubahan. Yang sebelumnya dirajai oleh Kabupaten Boven Digoel, di periode ini dirajai oleh Kabupaten Merauke, dengan luas sebesar 61.648,44 hektare. Namun ada nama-nama baru kabupaten penghasil deforestasi terbesar selanjutnya di periode ini. Yaitu Kabupaten Nabire di posisi kedua, yang menghasilkan 17.592,16 hektare dan Kabupaten Keerom sebesar 16.790,95 hektare di posisi ketiga. Kabupaten Boven Digoel yang di periode pertama dan kedua menempati posisi pertama, di periode ketiga ini menempati posisi keempat dengan luas 13.812,11 hektare.

Pada periode keempat (2016-2019), Kabupaten Merauke juga unggul dalam perolehan angka deforetasi terbesar, dengan luas 52.945,79 hektare. Di peringkat selanjutnya, Kabupaten Boven Digoel sebesar 15.004,34 hektare, Kabupaten Fakfak 13.579,80 hektare dan Kabupaten Teluk Bintuni 11.819,28 hektare.

Sebagian Besar Deforestasi Terjadi dalam Areal Konsesi Usaha Industri

Dilihat dari penyebabnya, sebagian besar deforestasi di Tanah Papua terindikasi terjadi di dalam konsesi usaha industri ekstraktif, baik di sektor perkebunan, sektor kehutanan dan sektor pertambangan. Luas deforestasi yang terjadi di dalam areal konsesi usaha industri ekstraktif ini jumlahnya mencapai sekitar 474.521 hektare, atau 71 persen dari total deforestasi yang terjadi di Tanah Papua.

Data deforestasi di dalam konsesi perizinan usaha itu diperoleh melalui kombinasi dataset Global Forest Change dari Global Land Analysis and Discovery (GLAD) University of Maryland dan peta penutupan lahan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Deforestasi tahunan dikalkulasi berdasar year of gross forest cover loss event (tree cover loss) 2001-2019 dalam tutupan hutan alam KLHK untuk tahun 2000. Artinya, deforestasi dimaksud hanya tree cover loss pada tutupan hutan alam KLHK untuk tahun 2000, tapi tidak semua tree cover loss pada GLAD.

Tutupan hutan alam merupakan gabungan dari 6 kelas penutupan lahan KLHK. Yakni hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, hutan rawa gambut primer, hutan rawa gambut sekunder, hutan mangrove primer dan hutan mangrove sekunder.

"Tree cover loss merupakan cara untuk mendeteksi kehilangan tutupan kanopi (stand replacement disturbance) pada resolusi 30x30 meter, sebagaimana ukuran setiap pixel Landsat," terang Dedi Sukmara, Direktur Informasi dan Data, Yayasan Auriga Nusantara, Kamis (4/2/2021).

Secara terperinci, 474.521,2 hektare deforestasi di dalam konsesi industri ekstraktif itu disumbang oleh usaha perkebunan sawit seluas 339.247 hektare, Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Alam (IUPHHK-HA) seluas 112.373,21 hektare, Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) atau Hutan Tanaman Industri (HTI) 16.234 hektare dan usaha pertambangan 6.666 hektare.

"Dan untuk 188.922 hektare sisanya (dari total deforestasi) itu. Itu terjadi di luar areal konsesi usaha industri ekstraktif. Kita tidak tahu pasti. Bisa jadi akibat pembangunan pemukiman, infrastruktur jalan, pembangunan lahan pertanian pangan, kebakaran dan lain sebagainya."

Di Tanah Papua sendiri, tercatat setidaknya ada 94 perusahaan pemegang konsesi atau perizinan usaha perkebunan sawit yang beroperasi. Dengan luas total areal konsesi sebesar sekitar 1.868.526 hektare yang tersebar di 21 kabupaten atau kota.

10 Perusahaan Perkebunan Sawit dengan Deforestasi Terbesar di Tanah Papua

No.

Provinsi

Perusahaan

Luas Konsesi (Ha)

Deforestasi (Ha)

1

PAPUA

PT BIO INTI AGRINDO

78.183,69

63.660,54

2

PAPUA BARAT

PT HENRISON INTI PERSADA

68.781,56

33.856,88

3

PAPUA

PT TUNAS SAWAERMA

83.272,40

31.515,01

4

PAPUA

PT PUSAKA AGRO LESTARI

112.082,75

30.026,03

5

PAPUA

PT BERKAT CIPTA ABADI

55.499,53

28.274,31

6

PAPUA

PT DONGIN PRABHAWA

102.309,93

21.064,59

7

PAPUA

PT PAPUA AGRO LESTARI

74.724,37

17.078,98

8

PAPUA

PT TANDAN SAWITA PAPUA

13.204,18

10.142,94

9

PAPUA

PT NABIRE BARU

14.166,25

9.303,49

10

PAPUA

PT AGRIPRIMA CIPTA PERSADA

16.851,01

7.939,05

Perusahaan pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Alam (IUPHHK-HA) berjumlah setidaknya 41 perusahaan. Luas total areal konsesi IUPHHK-HA di Tanah Papua lebih kurang 5.521.049,42 hektare, beroperasi di 23 kabupaten.

10 Perusahaan Pemegang IUPHHK-HA dengan Deforestasi Terbesar di Tanah Papua

No.

Provinsi

Perusahaan

Luas Konsesi (Ha)

Deforestasi (Ha)

1

PAPUA

PT TUNAS TIMBER LESTARI (DH. PT TUNAS SAWAERMA)

217.529,94

11.834,47

2

PAPUA BARAT

PT PRABU ALASKA UNIT I

324.841,57

9.207,45

3

PAPUA

PT JATI DHARMA INDAH PLYWOOD INDUSTRIES

140.025,14

9.140,10

4

PAPUA BARAT

PT TELUK BINTUNI MINA AGRO KARYA

235.622,99

8.594,32

5

PAPUA BARAT

PT ARFAK INDRA

177.656,33

7.958,27

6

PAPUA

PT INOCIN ABADI

101.164,57

5.027,55

7

PAPUA BARAT

PT HANURATA (SK.859/2014)

234.793,59

4.945,52

8

PAPUA BARAT

PT WIJAYA SENTOSA (DH. PT WAPOGA MUTIARA TBR I)

130.353,26

4.323,25

9

PAPUA

PT BINA BALANTAK UTAMA

298.145,74

4.123,69

10

PAPUA

PT WAPOGA MUTIARA TIMBER UNIT II

169.771,46

3.835,20

Kemudian perusahaan pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) berjumlah 9 perusahaan. Dengan total luas kurang lebih 1.584.921 hektare berada di 5 kabupaten.

9 Perusahaan Pemegang IUPHHK-HT di Tanah Papua

No.

Provinsi

Perusahaan

Luas Konsesi (Ha)

Deforestasi (Ha)

1

PAPUA

PT SELARAS INTI SEMESTA

169.885,80

5.324,67

2

PAPUA

PT PLASMA NUFTAH MARIND PAPUA

65.686,58

3.939,41

3

PAPUA BARAT

PT KESATUAN MAS ABADI

99.798,06

3.179,66

4

PAPUA

PT BADE MAKMUR ORISSA

104.195,22

1.186,43

5

PAPUA

PT MERAUKE RAYON JAYA

195.302,68

856,75

6

PAPUA

PT WANAMULIA SUKSES SEJATI UNIT III

100.829,56

751,81

7

PAPUA

PT WANAMULIA SUKSES SEJATI UNIT I & II

114.571,48

530,88

8

PAPUA

PT MEDCOPAPUA ALAM LESTARI

69.567,77

280,19

9

PAPUA

PT WAHANA SAMUDERA SENTOSA

81.725,02

184,34

Selanjutnya usaha pertambangan sebanyak 16 konsesi. Yang bila dijumlahkan, total luasnya sebesar 528.678 hektare terletak di 15 kabupaten atau kota.

10 Perusahaan Pemegang Konsesi Tambang dengan Deforestasi Terbesar di Tanah Papua

No.

Provinsi

Perusahaan

Luas Konsesi (Ha)

Deforestasi (Ha)

1

PAPUA

PT ANEKA TAMBANG TBK

199.956,65

3.053,88

2

PAPUA

PT KUMAMBA MINING

98.862,10

1.833,71

3

PAPUA

PT IRIANA MUTIARA IDENBURG

95.259,50

652,43

4

PAPUA BARAT

PT LION MULTI RESOURCES

20.334,72

230,58

5

PAPUA

PT IRIANA MUTIARA MINING

16.425,30

166,84

6

PAPUA

PT TABLASUFA NICKEL MINING

4.658,56

164,08

7

PAPUA

PT ERA MILLENIUM ABADI

24.483,01

114,23

8

PAPUA BARAT

PT GAG NIKEL

13.078,83

101,44

9

PAPUA

PT SENTRA SUKSES KENCANA

21.134,13

92,33

10

PAPUA

KOPERASI WAWIA

3.223,10

75,96

Cerita Bosco Duga -dikutip dari Buku Laporan Ancaman Kepada Pembela HAM Lingkungan Papua Tahun 2020, yang dirilis Yayasan Pusaka Bentala Rakyat-dan warga Marga Nduga yang berdomisili di Dusun Kali Kao, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, mungkin sedang di ujung tanduk. Investasi yang seharusnya membawa kesejahteraan, itu berwajah beda di Papua. Hutan adalah ibu. Bagi orang Papua atau siapa saja. Sebab dari hutan semua bisa mendapatkan manfaat kehidupan. Benar kata Bosco, "Hutan Adat tidak untuk dijual."