LIPUTAN KHUSUS:

Tutupan Hutan di Jawa Tersisa Tinggal 19 Persen


Penulis : Sandy Indra Pratama

Area hijau di Pulau Jawa kini tersisa hanya 24 persen dari idealnya 30 persen total luas wilayah. Dari total itu hany 19 persen hutan.

Hutan

Senin, 29 Maret 2021

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID -  Area hijau di Pulau Jawa kini tersisa hanya 24 persen dari idealnya 30 persen total luas wilayah pulau terpadat penduduknya di Indonesia ini. Dari 24 persen itu, yang berupa tutupan hutan terbatas 19 persen saja. Data sisa hutan di pulau Jawa itu yang di antaranya diangkat dalam webforum Hari Hutan Internasional 2021 yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) daring, Minggu 28 Maret 2021.

"Hutan semakin tergerus di pulau ini tergantikan oleh permukiman, perkotaan, industri, jalan raya, lahan pertanian, dan fungsi lainnya," kata peneliti ahli utama konservasi keanekaragaman hayati dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hendra Gunawan, dalam webforum yang didominasi peserta dari lingkungan sekolah setingkat SMA itu.

Hendra menambahkan, deforestasi bukan hanya berarti hutan hilang. Dia juga menyebut dampak hutan yang menjadi terpotong-potong (fragmentasi) dan rusak. "Dampak langsung yang bisa kita lihat adalah hewan seperti luwak atau biawak yang mati terlindas di jalan tol," katanya.

Secara keseluruhan, Hendra menyampaikan, hutan yang terfragmentasi perlu dibuatkan koridor penghubung. Hutan yang terdegradasi perlu rehabilitasi. Hutan yang hilang perlu direstorasi.

Deforestasi di konsesi perkebunan PT Sawit Mandiri Lestari, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Foto: Betahita/Ario Tanoto

Atas dasar itu, dia menekankan pentingnya aksi-aksi lokal dalam penyelamatan keanekaragaman hayati melalui kegiatan menanam pohon di Ruang Terbuka Hijau (RTH). Tidak sembarang ruang hijau, tapi yang dibangun dengan konsep keanekaragaman seperti ekosistem hutan.

Dalam hal ini Hendra menyajikan data Taman Kehati yang jumlahnya kini telah mencapai 29 unit di seluruh Indonesia dengan luasan lebih dari 1.800 hektare. Hendra juga mengatakan bahwa Taman Kehati sangat cocok sebagai laboratorium lapangan dan wahana pembelajaran bagi siswa sekolah. Selain juga untuk memberikan pengetahuan dan pembentukan watak cinta lingkungan.

“Para pelajar SMA yang akan mengikuti LKIR juga dapat melakukan penelitian di taman kehati. Banyak aspek yang dapat digali, seperti ekologi, konservasi, hidrologi, botani, sosial, ekonomi, tanaman obat, pangan, hingga peran tumbuhan sebagai peredam kebisingan dan pencemaran,” kata dia menuturkan.

TEMPO |