LIPUTAN KHUSUS:

Emisi Karbon Sektor Kesehatan Diprediksi Naik Tiga Kali Lipat


Penulis : Kennial Laia

Emisi karbon sektor kesehatan diprediksi naik 3 kali lipat tanpa komitmen lebih serius dari pemerintah dunia. Setara emisi tahunan dari 770 PLTU batu bara.

Lingkungan

Minggu, 18 April 2021

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID - Emisi global sektor kesehatan akan meningkat tiga kali lipat dari baseline tahun 2014 jika negara-negara di dunia tidak berkomitmen mengatasi krisis iklim. Jika tidak ada aksi nyata dan komitmen yang lebih kuat, emisi sektor tersebut akan menjadi lebih dari tiga gigaton per tahun pada 2050.

Laporan terbaru dari organisasi nonpemerintah Health Care Without Harm bersama Arup mencatat, jejak karbon perawatan kesehatan di seluruh dunia mencapai 4,4 persen dari emisi global pada 2019. Untuk diketahui, 84% emisi dari sektor kesehatan berasal dari penggunaan bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas di seluruh operasi fasilitas hingga pengangkutan produk kesehatan.

Menurut Health Care Without Harm, angka tersebut akan naik menjadi lebih dari tiga gigaton pada 2050. Angka itu setara dengan emisi tahunan dari 770 pembangkit listrik tenaga batu bara.

Terkait hal tersebut, Health Care Without Harm dan Arup meluncurkan “Peta Jalan Global Untuk Nol Emisi Pada Perawatan Kesehatan” pada Rabu, 14 April 2021, di Skoll World Forum. Peta jalan ini diharapkan dapat menjadi navigasi dalam upaya mencapai nol emisi pada sektor kesehatan pada 2050 sesuai dengan komitmen Perjanjian Paris.

Ilustrasi limbah medis dari alat pelindung diri (APD) untuk penanganan pandemi Covid-19. Foto: Reuters

Direktur Program Internasional Health Care Without Harm sekaligus penulis laporan Josh Karliner mengatakan, masyarakat dunia menghadapi situasi darurat iklim dan krisis kesehatan akibat pandemic Covid-19. Hal itu ditambah dengan masalah ksehatan pernapasan akibat polusi bahan bakar fosil dan kebakaran hutan.  

“Perawatan kesehatan menanggung beban dari kedua krisis ini, sehingga penting bagi para pemimpin kesehatan untuk memimpin dengan memberi teladan dan bertindak sekarang untuk mencapai nol emisi pada tahun 2050,” kata Karliner dalam keterangan tertulis, Rabu, 14 April 2021.

Dalam laporannya, Health Care Without Farm menawarkan tujuh aksi yang dipercaya dapat mengurangi emisi di sektor kesehatan. Untuk diketahui, saat ini emisi karbon dari sektor kesehatan secara global sendiri mencapai 44 gigaton. Angka itu dapat dikurangi melalui tujuh tindakan yang dapat dilakukan di tiga jalur dekarbonisasi.

Tiga jalur tersebut antara lain operasi fasilitas kesehatan, rantai pasok, serta percepatan ekonomi. Tindakan ini dirancang saling bersinggungan agar seluruh sektor dapat menetapkan rute menuju nol emisi.

Tujuh aksi berdampak tinggi itu seperti penggunaan 100 persen energi bersih dan terbarukan untuk sumber kelistrikan; investasi di bangunan dan infrastruktur beremisi nol; transisi ke transportasi emisi nol; makanan sehat dari sumber berkelanjutan; memberi insentif dan memproduksi farmasi rendah karbon; melakukan sistem kesehatan sirkular beserta mengelola sampah; dan membangun sistem kesehatan yang efektif dan lebih baik.

Selain itu, laporan juga memberikan secara rinci data emisi perawatan kesehatan nasional untuk 68 negara pada 2014. Indonesia, misalnya, memiliki jejak karbon terbanyak sebesar 25,3 persen yang bersumber dari makanan dan akomodasi untuk pasien di setiap fasilitasi layanan kesehatan.

Laporan itu merekomendasikan pemerintah dengan jejak karbon besar memasukkan sektor kesehatan ke dalam komitmen kontribusi yang ditentukan secara nasional dalam dokumen strategi penurunan emisi (NDC). Pemerintah juga diminta untuk mengembangkan kebijakan lintas sektoral untuk mendukung upaya penurunan dekarbonisasi sekaligus ketahanan perawatan kesehatan.

“Sistem kesehatan semua negara perlu mencapai nol emisi pada tahun 2050 dengan menavigasi transisi sekarang untuk menghindari terkunci pada lintasan pembangunan intensif karbon. Transisi ini membutuhkan dukungan dari negara maju untuk memperkuat kapasitas sistem kesehatan di negara berkembang untuk meningkatkan akses mereka ke teknologi yang diperlukan, ”kata Sonia Roschnik, Direktur Kebijakan Iklim Internasional sekaligus tim penulis.

Menanggapi laporan tersebut, Utusan Khusus Covid-19 untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) David Nabarro mengatakan, pandemi Covid-19 telah menunjukkan bahwa tantangan teknis dan operasional dalam sektor kesehatan dapat diatasi dengan cepat jika ada sumber daya, fokus, dan menerima dukungan politik yang konsisten.

“Pemulihan Covid-19 memberi kesempatan untuk membangun kembali lebih baik dengan berinvestasi dalam solusi cerdas iklim seiring dengan membangun infrastruktur, sistem, dan ketahanan masyarakat,” kata Nabarro.

Sementara itu, Direktur Departemen Lingkungan, Iklim, dan Kesehatan WHO Maria Neira menyebut pemimpin kesehatan, termasuk dokter dan perawat, sebagai salah satu suara paling terpercaya di seluruh dunia.

“Saat kita melampaui COVID-19, para pahlawan kesehatan ini dapat memimpin sektor mereka dalam melindungi kesehatan masyarakat dari krisis iklim dengan memetakan jalan menuju pemulihan yang dipandu oleh solusi iklim transformatif,” kata Neira.

“Dalam perlombaan menuju nol emisi, aksi iklim harus berjalan seiring dengan mengakhiri disparitas dalam pembangunan kesehatan dan akses antar dan di dalam negara untuk mencapai kesetaraan kesehatan yang lebih besar, termasuk Universal Health Coverage (UHC), kata Gary Cohen, pendiri Health Care Without Harm.