LIPUTAN KHUSUS:

Kebijakan Empat Negara Anggota G20 Ancam Target Iklim Paris


Penulis : Tim Betahita

Empat negara anggota G20 tetap bergantung pada ekonomi dengan pembakaran bahan bakar fosil, yang dapat memicu krisis iklim dengan dampak katastrofik.

Perubahan Iklim

Rabu, 28 Juli 2021

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID -  Para ilmuwan memperingatkan, target iklim empat negara anggota G20 dapat membawa bencana perubahan iklim. Mereka adalah Tiongkok, Risua, Brazil, dan Australia; yang semuanya memiliki kebijakan energi yang dapat mendorong suhu atmosfer ke 5C.

Analisis tersebut, oleh kelompok peer-review Paris Equity Check, menimbulkan kekhawatiran serius tentang prospek kesepakatan iklim utama yang dicapai dalam Konferensi Tingkat Tinggi COP26 di Glasgow tiga bulan mendatang. 

Konferensi tersebut—dinilai sebagai salah satu KTT iklim paling penting yang pernah diadakan—akan berupaya menuntaskan kebijakan untuk menahan pemanasan global hingga 1.5C dengan menyetujui kebijakan global untuk mengakhiri emisi bersih dari gas rumah kaca pada 2050.

Uni Eropa dan Inggris telah menguraikan jaminan emisi yang dapat membuat dunia mencapai aspirasi tersebut. Namun, Tiongkok, Rusia, Brazil, dan Australia, yang tetap bergantung pada pembakaran bahan bakar fosil akan memicu kenaikan suhu 5C. Terutama jika diikuti oleh negara lainnya.

Ilustrasi pengeboran frackling untuk menyedot gas alam. Metode ini disebut sebagai salah satu faktor pendorong naiknya emisi metana yang membahayakan perubahan iklim. Foto: UNEP

Perbedaan mencolok antara rencana iklim negara-negara G20—yang jika digabung bertanggung jawab atas 85% dari semua emisi karbon global—disorot minggu lalu di Naples, ketika pertemuan para menteri energi dan lingkungan negara anggota gagal menyepakati paket komitmen untuk mengatasi perubahan iklim.

“G20 telah gagal (memberikan solusi),” kata jaringan aktivis daring Avaaz. 

Menurut Yann Robiou du Pont, peneliti senior di Paris Equity Tracker, “Penelitian ini menunjukkan hal yang kita takutkan: negara ekonomi maju tidak cukup bertindak untuk mengatasi krisis iklim. Pada banyak kasus, negara G20 meninggalkan kita di jalur menuju dunia dengan lebih banyak bencana seperti gelombang panas, banjir, dan peristiwa cuaca ekstrem lainnya,” kata du Pont.

Bumi dengan suhu 5C lebih panas dari pre-Revolusi Industri berarti populasi dunia akan menghadapi kekeringan ekstrem setidaknya sekali setahun; hutan hujan tropis hancur; dan pencairan lapisan es yang menaikkan permukaan air laut ke level yang berbahaya. 

Menurut para ilmuwan, jika suhu dunia tetap di bawah 1.5C, dampak terburuk dari perubahan iklim dapat dicegah—meski suhu telah naik sebesar 1.2C. Situasi pelik ini dapat membawa dunia menghadapi dampak perubahan iklim selam 30 tahun mendatang.

Cuaca ekstrem itu telah dialami negara seperti Jerman, Belgia dan Tiongkok. Sementara itu hingga saat ini Amerika Serikat dan Siberia tengah dicekam kebakaran hutan yang masif.

“Menjelang COP26, kita perlu melihat adanya aksi. Kita berhutang pada negara-negara paling rentan untuk bersatu,” kata Presiden COP26 Alok Sharma.

“Kegagalan untuk memenuhi komitmen kita bukanlah suatu pilihan,” tambahnya. Minggu lalu, Sharma juga mengkritisi negara penghasil emisi besar seperti Rusia dan Tiongkok untuk lebih banyak bertindak mengatasi krisis iklim.

Pada Perjanjian Paris 2015, hampir 200 negara berkomitmen untuk menyerahkan rencana iklim baru saban lima tahun dengan tujuan pembatasan pemanasan global di bawah 2C, dengan target 1.5C, dibandingkan dengan level pre-industri.

Namun, awal tahun ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengumumkan “peringatan berbahaua” terkait rencana iklim, dan mengklaim bahwa rencana iklim negara-negara dunia tidak mendekati tujuan Perjanjian Paris. 

Badan Energi Internasional (IEA) baru-baru ini mengatakan, untuk mencapai suhu1.5C, seluruh pengembangan dan eksplorasi sumber bahan bakar fosil harus disetop mulai tahun 2021.

THE GUARDIAN