LIPUTAN KHUSUS:

Risiko Kepunahan Manusia Kurang Dieksplorasi dalam Studi Iklim


Penulis : Tim Betahita

Para ilmuwan mendesak agar ada studi komprehensif yang melihat dampak krisis iklim dalam skenario terburuk, termasuk kepunahan massal.

Perubahan Iklim

Kamis, 04 Agustus 2022

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID -  

Risiko kejatuhan peradaban masyarakat global atau kepunahan manusia akibat krisis iklim tidak banyak dieksplorasi dalam penelitian. Menurut analisis terbaru, hal tersebut sangat berbahaya. 

 

Para ilmuwan menyebut kepunahan manusia sebagai “babak terakhir iklim”. Meskipun kemungkinan kecil terjadi, skenario bencana tidak dapat dikesampingkan mengingat adanya ketidakpastian emisi di masa depan dan sistem iklim.   

Seorang bocak kecil mengambil air dari genangan di Somalia. Negara tersebut telah menderita kekeringan parah selama lima tahun terakhir. Foto: UNICEF/Sebastian Rich

 

“Masa depan dengan perubahan iklim yang semakin cepat sembari buta terhadap skenario terburuk adalah manajemen risiko naif yang terbaik dan kebodohan yang paling buruk,” kata para ilmuwan dalam laporannya. Mereka juga menambahkan bahwa ada “banyak alasan” untuk mencurigai pemanasan global dapat mengakibatkan bencana apokaliptik.

 

Tim ahli internasional berpendapat bahwa dunia perlu mulai mempersiapkan kemungkinan babak terakhir iklim. “Menganalisis mekanisme untuk konsekuensi ekstrem ini dapat membantu penyusunan kebijakan, meningkatkan ketahanan, dan menginformasikan kebijakan,” kata ilmuwan.

 

Analisis tersebut juga mengajukan agar ada agenda penelitian termasuk dalam isu kelaparan, cuaca ekstrem, perang, dan penyakit. Mereka juga menyerukan agar Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) untuk menerbitkan laporan khusus terhadap isu ini. 

“Ada banyak alasan untuk percaya bahwa perubahan iklim dapat menjadi bencana, bahkan hanya dengan pemanasan yang moderat,” kata Dr Luke Kemp dari Pusat Studi Risiko Eksistensial, University of Cambridge, yang memimpin penelitian tersebut. 

“Perubahan iklim juga berperan dalam setiap peristiwa kepunahan massal. Dia berpengaruh pada jatuhnya imperium dan membentuk sejarah.”

“Jalan menuju bencana tidak terbatas pada dampak langsung dari suhu tinggi, seperti peristiwa cuaca ekstrem. Dampak langsung seperti krisis keuangan, konflik, dan wabah penyakit baru dapat memicu bencana lainnya.” 

Analisis tersebut diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences dan dievaluasi oleh sejumlah ilmuwan. Argumen penelitian tersebut, konsekuensi pemanasan global di atas 3C selama ini diabaikan. “Saat ini kita tidak punya pemahaman tentang skenario yang paling penting (dari krisis iklim),” kata Kemp. 

Penilaian risiko menyeluruh akan mempertimbangkan bagaimana risiko menyebar, berinteraksi, dan menguat. Tetapi model riset ini belum dicoba.

“Namun begitulah risiko terungkap di dunia nyata,” kata ilmuwan dalam analisis tersebut. “Misalnya, topan menghancurkan infrastruktur listrik, membuat populasi rentan terhadap gelombang panas mematikan yang terjadi.” 

Secara spesifik, kekhawatiran itu terkait dengan titik kritis, di mana kenaikan kecil dalam suhu global menghasilkan perubahan besar dalam iklim, seperti emisi karbon besar dari hutan hujan Amazon yang mengalami kekeringan dan kebakaran besar. Titik kritis dapat memicu yang lain dalam kaskade dan beberapa di antaranya tidak banyak diteliti. Contohnya bisa seperti hilangnya dek awan stratocumulus secara tiba-tiba yang dapat menyebabkan pemanasan global 8C tambahan. 

Para peneliti memperingatkan bahwa kerusakan iklim dapat memperburuk atau memicu risiko bencana lainnya, seperti perang internasional atau pandemi penyakit menular, dan memperburuk kerentanan yang ada seperti kemiskinan, gagal panen, dan kekurangan air. Analisis menunjukkan negara adidaya suatu hari nanti mungkin memperebutkan rencana geoengineering untuk memantulkan sinar matahari atau hak untuk memancarkan karbon. 

“Ada tumpang tindih yang mencolok antara negara bagian yang saat ini rentan dan area pemanasan ekstrem di masa depan,” kata para ilmuwan. “Jika kerapuhan politik saat ini tidak membaik secara signifikan dalam beberapa dekade mendatang, maka sabuk ketidakstabilan dengan konsekuensi yang berpotensi serius dapat terjadi.”

Menurut ilmuwan, ada banyak alasan lebih lanjut untuk mengkhawatirkan potensi bencana iklim global. “Ada peringatan dari sejarah. Perubahan iklim telah memainkan peran dalam keruntuhan atau transformasi banyak peradaban sebelumnya, dan dalam masing-masing lima peristiwa kepunahan massal dalam sejarah Bumi.” 

Pemodelan baru dalam analisis tersebut menunjukkan bahwa panas ekstrem – yang didefinisikan sebagai suhu rata-rata tahunan lebih dari 29C – dapat memengaruhi 2 miliar orang pada 2070 jika emisi karbon terus berlanjut. 

“Suhu seperti itu saat ini memengaruhi sekitar 30 juta orang di Sahara dan Pantai Teluk,” kata Chi Xu, dari Universitas Nanjing, Tiongkok, yang merupakan bagian dari tim tersebut. 

“Pada 2070, suhu ini dan konsekuensi sosial dan politik akan secara langsung memengaruhi dua kekuatan nuklir, dan tujuh laboratorium penahanan maksimum yang menampung patogen paling berbahaya. Ada potensi serius untuk efek peristiwa beruntun yang destruktif.” 

Tren emisi gas rumah kaca saat ini akan menyebabkan kenaikan 2,1-3,9C pada 2100. Namun jika target dan janji iklim sepenuhnya dilakukan, rentang kenaikan suhu akan berada di 1,9-3C. Mencapai semua target jangka panjang saat ini berarti pemanasan akan berada di angka 1,7-2,6C. 

Guardian