LIPUTAN KHUSUS:

Petinggi Perusahaan Minyak Pimpin COP 28 Dubai


Penulis : Aryo Bhawono

Para pegiat iklim mengatakan Sultan Ahmad Al Jaber harus mundur dari jabatannya di bisnis minyak karena konflik kepentingan.

Perubahan Iklim

Selasa, 17 Januari 2023

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID -  Kepala salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia, Sultan Ahmad Al Jaber, ditunjuk untuk memimpin pembicaraan iklim global COP 28 di Dubai, akhir tahun ini. 

Al Jaber saat ini menjabat sebagai CEO Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi. Dia juga duduk sebagai menteri industri dan teknologi canggih untuk uan rumah COP 28, Uni Emirat Arab.

Para pegiat iklim mengatakan dia harus mundur dari jabatannya di bisnis minyak karena konflik kepentingan.

Mereka percaya seseorang yang mendalami industri minyak kemungkinan tidak akan mendorong negara-negara untuk segera mengurangi produksi dan penggunaan bahan bakar fosil. Padahal menurut para ilmuwan, pengurangan produksi dan penggunaan bahan bakar fosil sangat penting untuk menghindari perubahan iklim.

Aktivitas pertambangan minyak bumi

Menjalankan proses pembicaraan iklim global bukanlah pekerjaan mudah, selama berbulan-bulan sebelumnya, dan terutama selama konferensi, setiap perkataan dan tindakan presiden sangat diperhatikan.

COP 28 sudah terperosok dalam beberapa kontroversi karena tuan rumah, Uni Emirat Arab, adalah salah satu produsen minyak dan gas terbesar di dunia.

Dikutip dari BBC, penunjukan tokoh kunci dalam industri energi sebagai calon presiden COP 28 kemungkinan akan meningkatkan kekhawatiran bahwa proses pembicaraan iklim global menghadapi pengaruh signifikan kepentingan bahan bakar fosil.

Pertemuan COP 27 sebelumnya di Mesir digambarkan oleh beberapa peserta sebagai ‘pemujaan pameran perdagangan bahan bakar fosil’.

Analisis terhadap mereka yang mendaftar pada acara tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan pada mereka yang terkait dengan industri minyak dan gas dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya.

Di antara delegasi besar dari UEA pada konferensi di Sharm el-Sheikh, terdapat 70 orang yang terkait erat dengan bahan bakar fosil.

Sedangkan Al Jaber sendiri adalah kepala eksekutif Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC), yang dikatakan sebagai perusahaan minyak terbesar ke-12 di dunia.

Selama dekade terakhir dia telah menjadi wajah industri energi UEA, tetapi dia akan menjadi eksekutif perminyakan pertama yang menjabat sebagai presiden COP.

Selain menjadi menteri dan utusan iklim negaranya, dia juga pimpinan Masdar, perusahaan energi terbarukan milik pemerintah.

Dia sudah lama memperingatkan tentang bahaya perubahan iklim, tetapi para juru kampanye khawatir tentang penunjukannya, dan menyerukan dia untuk menyingkir dari peran industrinya.

"Sangat penting bagi dunia untuk diyakinkan bahwa dia akan mengundurkan diri dari perannya sebagai CEO Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi," kata Tasneem Essop, dari Climate Action International.

Menurutnya Al Jaber tidak bisa memimpin proses yang ditugaskan untuk mengatasi krisis iklim dengan konflik kepentingan seperti itu, memimpin industri yang bertanggung jawab atas krisis itu sendiri.

Perhatian para juru kampanye adalah bahwa produsen minyak dan gas utama termasuk di antara mereka yang menentang penghentian lebih cepat dari semua bahan bakar fosil.

Pada COP 27, sebanyak 80 negara mendorong penurunan bertahap minyak dan gas serta batu bara. Namun upaya ini sia-sia menghadapi tentangan keras dari negara-negara yang mengandalkan ekspor bahan bakar fosil.

Sementara penunjukan Al Jaber mendapat kritik dari para aktivis, pihak lain yang terlibat dalam diplomasi iklim menyambut baik langkah tersebut.

"UEA telah mengadopsi strategi pertumbuhan hijau yang baik dan merupakan investor utama dalam energi terbarukan baik di dalam maupun luar negeri," kata Yvo de Boer, kepala iklim PBB antara 2006 dan 2010.

Presiden COP yang ditunjuk, kata dia, telah berperan penting dalam banyak masalah ini. Ini membekalinya pemahaman, pengalaman, dan tanggung jawab untuk menjadikan COP 28 ambisius, inovatif, dan fokus ke masa depan.

Kemampuan tersebut akan diuji pada pertemuan di Dubai pada awal Desember tahun ini. COP 28 akan mengadakan penilaian formal pertama tentang kemajuan pemotongan karbon sejak perjanjian Paris ditandatangani.