LIPUTAN KHUSUS:

Eksplorasi Nikel PT Vale Ancam Kebun Merica di Luwu Timur


Penulis : Aryo Bhawono

Kebun merica, yang merupakan sumber kehidupan utama masyarakat Loeha Raya, terancam tergusur pertambangan PT Vale.

Tambang

Senin, 22 Mei 2023

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID -  Petani merica dari lima desa di Kecamatan Towuti, Luwu Timur, Sulawesi Selatan melakukan penolakan rencana perluasan tambang nikel PT Vale Indonesia di Blok Tanamalia. Mereka memampang spanduk penolakan di beberapa titik di desa.

Spanduk penolakan terpajang di beberapa ruas jalan utama di Desa Ranteangin, Loeha, Tokalimbo, Masiku, dan Bantilang. Spanduk itu bertuliskan ‘Petani Lada Melawan dan Tolak Tambang’.  

Syamsul, petani merica, menjelaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk penolakan keras terhadap aktivitas eksplorasi dan rencana perluasan tambang PT Vale Indonesia di Tanamalia. Petani, pemuda, dan perempuan atas eksplorasi PT Vale Indonesia di perkebunan merica milik masyarakat Loeha Raya.

“Secara pribadi dan mewakili petani merica di Loeha Raya, saya menolak keras perluasan tambang nikel PT VALE Indonesia di Pegunungan Lumereo atau yang mereka sering sebut Tanamalia. Selain itu kami minta agar kegiatan eksplorasi PT Vale Indonesia di kebun merica petani dihentikan”, ujarnya seperti dikutip dari Kabar Makassar

Pemasangan spanduk tolak tambang PT Vale di Blok Tanamalia oleh warga di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. SUmber: Walhu Sulsel

Selama ini kebun merica merupakan sumber kehidupan utama masyarakat Loeha Raya. Warga bisa menyekolahkan anak hingga kuliah, dan beli kendaraan, dari bertani merica. 

Selain itu warga merasa aktivitas tambang dapat merusak kondisi lingkungan, terutama kualitas air. 

“Aktivitas pertambangan tidak hanya menggerus sumber perekonomian kami, tapi juga berpotensi memberi dampak pada sumber air kami, sungai, dan danau towuti. Bahkan juga berpotensi menimbulkan bencana seperti daerah-daerah lain yang telah berubah alam dan lingkungannya karena aktivitas pertambangan,” jelasnya.

Terpisah, Direktur Eksekutif Daerah Walhi Sulsel, Muhammad Al Amin, konsesi PT Vale di Blok Tanamalia mencakup dua desa, yakni Ranteangin dan Loeha. Namun petani merica di lima desa, termasuk Ranteangin dan Loeha, bertanam di lahan di dua desa itu. Tiga desa lainnya adalah Bancilang, Tokalimbo, dan Desa Masiku

“Memang benar jika mereka kemudian merasa kehidupannya terancam oleh kehadiran PT Vale,” ujarnya kepada redaksi. 

Aktivitas eksplorasi pengambilan sampel PT Vale di Blok Tanamalia di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Sumber: Walhi Sulsel

Selama ini kegiatan eksplorasi yang dilakukan oleh PT Vale di kebun merica dilakukan tidak dilakukan tanpa konsultasi dengan warga. Mereka telah melakukan pengeboran untuk mendapatkan bahan uji sampel sejak 2022 lalu. 

Menurutnya perusahaan itu tidak menerapkan Environmental Social Governance (tata kelola sosial) yang seharusnya diemban oleh perusahaan multinasional, termasuk PT Vale. 

Overlay peta konsesi PT Vale di Blok Tanamalia dengan desa di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Sumber data: Auriga

Ia pun meminta agar PT Vale menghentikan eksplorasi dan melakukan upaya konsultasi ke warga tanpa membawa-bawa TNI dan Polri. 

“Terus terang warga terintimidasi dengan aparat, karena laporan yang kami dengar kegiatan eksplorasi dilakukan dengan kehadiran aparat juga,” ucap dia. 

Laporan Tahunan PT Vale 2022 menyebutkan penyelesaian program Eksplorasi Tanamalia dan penetapan jalur ke depan yang disepakati pada tahun 2023 menjadi bagian dari prospek bisnis.