LIPUTAN KHUSUS:

44 Genetik Tanaman Lokal Papua Telah Terdaftar di BRIN


Penulis : Aryo Bhawono

Tanaman tersebut di antaranya humbelu atau timun, gemili, tebu, ubi kelapa, sagu rondo, dan anggur Papua.

Biodiversitas

Selasa, 20 Februari 2024

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Sebanyak 44 sumber daya genetik jenis tanaman lokal Papua telah didaftarkan ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tanaman tersebut di antaranya humbelu atau timun, gemili, tebu, ubi kelapa, sagu, dan anggur Papua.

Seluruh tanaman ini didaftarkan ke Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian atau PPVTPP Bogor, Jawa Barat. Pendaftaran ini dilakukan untuk  melindungi kelestarian sumber plasma nutfah.

Peneliti BRIN Kawasan Kerja bersama Jayapura, Mariana Ondikeleuw, menyebutkan pendaftaran itu berlangsung pada rentang 2017-2020. Tanaman yang telah didaftarkan sumber daya genetiknya tersebut, di antaranya humbelu atau timun, gemili, tebu, ubi kelapa, sagu, dan anggur Papua.

“Tebu itu ada tujuh jenis (yang didaftarkan sumber daya genetiknya), gembili empat jenis, dan ubi kelapa tiga jenis. Ada beberapa jenis tanaman lokal lagi yang masih dalam proses verifikasi PPVTPP,” kata Ondikeleuw seperti dikutip dari Jubi pada Sabtu (17/2/2024).

Ladang sagu masyarakat Desa Buape./Foto: Okto

Pendaftaran sumber daya genetik oleh BRIN untuk melindungi dan melestarikan keragaman jenis tanaman lokal di Tanah Papua. PPVTPP Bogor telah memberi kode khusus pada setiap komoditas yang telah terdaftar sumber daya genetiknya.

“Sertifikat ini untuk mencegah klaim kepemilikan. Itu bagian dari perlindungan dan pelestarian terhadap tanaman lokal di Tanah Papua,” ujarnya. 

Tanah Papua juga memiliki beragam jenis sagu. Riset Universitas Negeri Papua pada 2021 menyebutkan terdapat 21 jenis sagu di Papua. Sebanyak 11 dari jenis sagu itu telah didaftarkan ke PPVTPP Bogor.

Salah satu sagu tersebut adalah sagu rondo. Sagu ini genjah, pada usia delapan tahun sudah mulai dipanen. Pucuknya juga bisa dibuat roti,kata Ondikeleuw, yang disebut fekal dalam Bahasa Sentani.

Riset dan pendataan keragaman jenis tanaman lokal juga mendukung program diversifikasi dan kemandirian pangan. Dia berharap pemerintah menindaklanjuti riset tersebut melalui regulasi dalam penentuan harga komoditas dan membangun rumah produksi pangan lokal.

“Pelestarian tanaman lokal dapat menunjang diversifikasi dan kemandirian pangan.  Banyak jenis tanaman lokal di Tanah Papua yang bisa diolah menjadi bahan pangan dan aneka makanan lain,” ujarnya.