LIPUTAN KHUSUS:

Menanam Rafflesia di Luar Habitat Asli, BRIN: Mengapa Tidak?


Penulis : Gilang Helindro

Rafflesia patma asal Pangandaran setidaknya telah mekar lebih dari 16 kali di Kebun Raya Bogor.

Spesies

Minggu, 10 Maret 2024

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID - Pemerintah Indonesia melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong upaya konservasi kerabat Rafflesiaceae di habitat asalnya secara in situ di kawasan lindung, maupun di luar habitat asalnya atau secara ex situ seperti kebun raya, arboretum, dan taman kehati.

Peneliti Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN Yayan Wahyu Kusuma mengatakan Rafflesia patma sebagai kerabat dekat Rafflesia arnoldii merupakan salah satu tumbuhan dilindungi karena keberadaannya di alam sudah langka dan terancam kepunahan.

“Kami meneliti keragaman genetik bunga Rafflesia patma yang berasal dari lima lokasi yang berada di luar kawasan lindung,” kata Yayan, dikutip, Minggu 3 Maret 2024.

Rafflesia patma memiliki bentuk seperti cawan terbalik dengan alur vertikal yang dalam di sekeliling permukaan, proses penyerbukan diawali dengan bau busuk untuk mengundang serangga (kumbang atau lalat). 

Ilustrasi Bunga Rafllesia padma. Foto: Kebun Raya Bogor

Setelah mekar selama dua sampai tiga hari lalu mati. Ukuran bunga saat mekar mencapai 25-30 cm dengan duri-duri seperti kaktus. Kelopak bunga berwarna jingga muda dan cenderung lebih pucat dibanding jenis Rafflesia lain. Tumbuhan ini bersifat parasit, berkembang biak dalam jaringan tubuh inang atau tumbuhan merambat di hutan tropis.

Yayan menyebut, sejak 2004, pihaknya telah berhasil meneliti dan menumbuhkan Rafflesia patma serta tanaman inangnya. “Tumbuhan endemik asal Pangandaran itu setidaknya telah mekar lebih dari 16 kali di Kebun Raya Bogor," ungkap Yayan.

Kata Yayan, hasil penelitian selam dua dekade itu menunjukkan bahwa keragaman genetik Rafflesia patma yang berasal dari Leuweung Cipeucang paling tinggi, mencapai 0,36, melebih keragaman generik yang berasal dari Kebun Raya Bogor 0,32, Bojong Larang Jayanti 0,08, Leuweung Sancang 0,32, dan Pangandaran 0,04 keragaman genetik.

Yayan mengatakan, kegiatan konservasi jenis-jenis tumbuhan langka yang tumbuh di luar kawasan lindung perlu terus digalakkan untuk meningkat keragaman genetik. "Selain Rafflesia patma, kami juga menemukan data serupa pada jenis tumbuhan langka lainnya yang tumbuh di luar kawasan lindung, seperti Vatica Bantamensis dan Hopea bilitonensis,” ungkapnya.