Hutan Tropis Indonesia Hilang 292 ribu Hektare pada 2023

Penulis : Kennial Laia

Hutan

Senin, 08 April 2024

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Indonesia kehilangan hutan tropis seluas 292.000 hektare pada 2023 yang merupakan tahun El Nino. Menurut analisis terbaru dari Global Forest Watch-World Resource Institute (GFW-WRI) yang dirilis pekan ini, meskipun luas tersebut meningkat sebesar 27%, angka tersebut masih jauh di bawah angka pada pertengahan 2010-an. 

Data tersebut dirilis bersamaan dengan luas kehilangan hutan primer secara global yang mencapai 3,7 juta hektare. Hal ini terjadi di negara-negara tropis, yang dipengaruhi oleh kebijakan politik pemimpin seperti di Laos, Bolivia, dan Nikaragua; maupun kebakaran hutan seperti di Kanada. 

Menurut para penulis, sebagian besar hilangnya hutan primer di Indonesia terjadi di kawasan yang diklasifikasikan Indonesia sebagai hutan sekunder dan tutupan lahan lainnya. Ini termasuk pertanian lahan kering campuran, perkebunan, hutan tanaman, dan semak belukar. 

Hal ini disebabkan definisi hutan primer GFW berbeda dengan definisi dan klasifikasi hutan primer resmi di Indonesia. Oleh karena itu, statistik GFW mengenai hilangnya hutan primer di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan statistik resmi Indonesia mengenai deforestasi di hutan primer.

Deforestasi di Kalimantan Tengah./Foto: Ario Tanoto

Mikaela Weisse, salah satu penulis laporan kolaborasi dengan University of Maryland itu mengatakan, hilangnya hutan primer pada petak-petak yang luasnya lebih dari 100 hektare menyumbang 15% dari hilangnya hutan primer di Indonesia pada 2023. Perluasan hutan tanaman industri terjadi di beberapa lokasi yang berdekatan dengan perkebunan kelapa sawit dan pulp dan kertas yang sudah ada di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Papua Barat.

Para penulis mencatat bahwa perluasan ini terjadi pada konsesi yang diberikan sebelum tahun 2014, ketika pemerintahan saat ini menjabat, berdasarkan klaim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

Hilangnya hutan primer dalam skala kecil juga terjadi di seluruh negeri pada 2023. Pembukaan hutan skala kecil untuk pertanian berkontribusi terhadap hilangnya hutan primer di beberapa kawasan lindung, termasuk Taman Nasional Tesso Nilo dan Suaka Margasatwa Rawa Singkil. Kerugian lain yang terkait dengan pertambangan dapat dilihat di Sumatera, Maluku, Kalimantan Tengah dan Sulawesi.

GFW mencatat, Indonesia memiliki 93,8 juta hektare hutan primer pada 2001, atau 50% dari wilayah daratnya. Sepanjang 2002-2023, luas ini menyusut di mana Indonesia kehilangan 10,5 juta hektare hutan primer basah. Menurut data GFW, kehilangan ini berkontribusi pada total tutupan pohon yang hilang dalam rentang waktu yang sama. 

Kehilangan hutan primer di Indonesia 2002 - 2023

Menurut data terbaru tersebut, kehilangan tutupan pohon ini dipicu oleh kebakaran yang memberangus 2,87 juta hektare. Faktor pendorong lainnya berkontribusi pada hilangnya hutan seluas 26,6 juta hektare. 

Provinsi yang mengalami kehilangan tutupan hutan alam paling parah pada periode waktu tersebut berturut-turut adalah Riau (4,2 juta hektare), Kalimantan Barat (4,04 juta hektare), Kalimantan Timur 3,79 juta hektare, Kalimantan Tengah 3,74 juta ha, dan Sumatera Selatan 3,17 juta ha. Sementara itu rata-rata kehilangan tutupan hutan seluas 935.000 hektare. 

Menurut para peneliti, munculnya kondisi El Niño menimbulkan kekhawatiran bahwa Indonesia akan mengalami musim kebakaran lagi seperti 2015; namun, kebakaran pada 2023 memiliki dampak yang tidak terlalu parah dibandingkan perkiraan awal. Di daerah pedesaan, api digunakan untuk membuka lahan untuk pertanian dan dapat keluar dari batas properti ke pepohonan dan tanah gambut, sehingga melepaskan simpanan karbon ke atmosfer.

"Kondisi yang lebih basah dibandingkan El Niño tahun 2015 dan investasi yang dilakukan pemerintah dalam kemampuan pencegahan kebakaran, serta upaya untuk menekan kebakaran yang dilakukan oleh masyarakat lokal, semuanya berkontribusi pada musim kebakaran yang lebih tenang dari perkiraan," tulis para peneliti.