Empat Pertanyaan Penting Liputan Lingkungan

Penulis : Harry Surjadi, Jurnalis

OPINI

Jumat, 10 Mei 2024

Editor : Yosep Suprayogi

SEMUA jurnalis tahu 5W dan 1H, yaitu what (apa), who (siapa), where (di mana), when (kapan), why (mengapa) dan how (bagaimana). Jurnalis diajari jika menulis berita harus memenuhi unsur 5W dan 1H agar beritanya lengkap. Daftar kata tanya 5W 1H sering disebut sebagai Prinsip Kipling dalam jurnalisme. Rudyard Kipling memperkenalkan 5W 1H itu.

Prinsip Kipling itu tidak hanya digunakan dalam jurnalistik dan menulis saja. Prinsip Kipling digunakan sebagai teknik bertanya dalam penelitian normatif dan analisis deskriptif, mengumpulkan informasi dan data berbagai bidang penelitian. Enam kata tanya itu digunakan untuk memformulasi pertanyaan-pertanyaan. Di kehidupan sehari-hari Prinsip Kipling ini bisa bermanfaat juga ketika ingin memahami persoalan atau mencari solusi masalah.

Jurnalis ketika memutuskan akan meliput satu topik umumnya memikirkan informasi apa yang harus dicari dan didapatkan. Seringkali jurnalis lupa kalau tugasnya adalah mencari jawaban pertanyaan pembaca. Prinsip Kipling itu sebagai pedoman atau panduan memformulasi apa pertanyaan-pertanyaan audiens.

Khusus untuk jurnalis dengan spesialisasi meliput isu lingkungan hidup dan ingin liputannya menghasilkan dampak, tidak cukup hanya memformulasikan pertanyaan pembaca berdasarkan 5W 1H, prinsip Kipling itu. Jurnalis lingkungan masih harus mencari jawaban empat pertanyaan penting audiens yaitu: 1) Why it is important? (Mengapa itu penting?); 2) What does it mean to me? (Apa pentingnya atau artinya buat saya?); 3) What can/should I do about it? (Apa yang bisa/harus saya lakukan?); dan 4) What is the point? (Apa poinnya atau apa intinya?).

Seorang jurnalis tengah memotret lokasi lahan kosong yang mengandung lumpur panas Bekasi, Selasa, 15 Januari 2019. Lokasi yang dipasangi garis polisi (police line) itu tepatnya di Kampung Kramat Blancong RT 01 RW 20, Desa Segara Makmur, Kabupaten Bekasi. TEMPO/Adi Warsono

Bagaimana jurnalis lingkungan memanfaatkan prinsip Kipling dan empat pertanyaan khusus untuk persoalan lingkungan agar liputannya memberikan dampak dan lingkungan menjadi lebih baik, mari kita bedah satu-per-satu Prinsip Kipling dan 4 pertanyaan khusus liputan isu lingkungan. Misalnya, reporter media cetak ditugaskan meliput persoalan limbah rumah sakit.

What = apa

Audiens ingin tahu penyakit apa saja yang ditangani rumah sakit itu dan jenis-jenis limbah atau apa saja yang dibuang rumah sakit? Apakah jenis-jenis limbah itu termasuk bahan berbahaya dan beracun? Apa bahayanya limbah rumah sakit bagi pengunjung atau pasien atau warga yang tinggal di sekitar rumah sakit? Apakah rumah sakit memiliki fasilitas pengolahan limbah cair dan limbah padat? Apakah rumah sakit memiliki insinerator untuk mengolah limbah padat? Apakah ada peraturan yang spesifik terkait limbah rumah sakit? Apakah ada teknologi pengolahan limbah spesifik yang digunakan rumah sakit? Apakah pernah ada kasus warga atau pasien terkontaminasi limbah rumah sakit?

Who = siapa

Kata tanya who atau siapa ini menjadi narasumber penting bagi reporter untuk mendapatkan jawaban-jawaban pertanyaan audiens. Daftar pertanyaan yang sudah dibuat reporter akan ditanyakan kepada narasumber penting ini.

Audiens ingin tahu siapa pemilik, direktur, manajer dan dokter-dokter rumah sakit itu? Siapa manajer lingkungan atau yang bertanggung jawab atas limbah? Siapa saja warga yang tinggal di sekitar rumah sakit? Siapa pejabat pemerintah yang bertanggung jawab mengawasi rumah sakit? Siapa ahli limbah rumah sakit? Siapa yang pernah terdampak limbah rumah sakit?

Where = di mana

Di mana lokasi rumah sakit dan berapa jaraknya dari pemukiman? Di mana limbah rumah sakit ditampung dan dibuang? Di mana limbah sisa pembakaran dari insinerator dibuang? Di mana letak pengolahan limbah atau insinerator? Di mana ujung pipa pembuangan air limbah?

When = kapan

Terkait dengan pertanyaan "apakah ada kasus kontaminasi limbah rumah sakit" - perlu dicari informasi kapan kasus itu terjadi? Kapan rumah sakit berdiri? Kapan rumah sakit mulai memiliki pengolahan limbah cair? Kapan rumah sakit memiliki insinerator? Kapan saja rumah sakit mengaktifkan insinerator? Kapan rumah sakit membuang limbah padat dan limbah cair?

How = bagaimana

Bagaimana rumah sakit memproses limbah, mulai dari pasien atau perawat membuang limbah padat (seperti pembalut bekas) dan cair (darah setelah dianalisis di laboratorium)? Bagaimana paramedis menangani limbah? Bagaimana laboran menangani limbah sisa analisis di laboratorium? Bagaimana penyakit bisa menular: dari jarum suntik bekas, perban bekas, jarum infus, udara terkontaminasi penyakit? Bagaimana (seharusnya) proses pengolahan limbah rumah sakit?

Why = mengapa

Mengapa mengetahui jenis-jenis limbah rumah sakit penting bagi audiens? Mengapa mengetahui dampak limbah rumah sakit penting bagi audiens? Mengapa limbah rumah sakit harus diolah dengan baik?

Reporter harus paham dengan baik mengenai apa saja limbah rumah sakit, sifat toksisitas limbah, dampaknya ketika terkontaminasi limbah rumah sakit. Di awal reporter harus mendapatkan jawaban apa (dari daftar "siapa") saja limbah rumah sakit untuk bisa memahami dampak kontaminasi limbah rumah sakit tertentu.

Namanya saja rumah sakit, artinya semua penyakit ada di sana. Semua penyakit infeksi seperti hepatitis, HIV/AID, semua penyakit karena virus dan bakteri menjadi sumber pencemar. Pemahaman itu didapatkan setelah ada jawaban pertanyaan "what."

Mengacu pada tulisan saya sebelumnya "Jurnalisme Lingkungan: Liputan Berdampak" - liputan lingkungan harus menghasilkan dampak. Agar liputan berdampak, jurnalis harus mulai dengan tujuan atau purpose. Prinsip Kipling tidak cukup untuk menggerakan audiens. Ada empat pertanyaan audiens yang harus terjawab di setiap laporan lingkungan.

Salah satu tujuan penting dari liputan lingkungan adalah bagaimana menggerakkan audiens. Bukan tanggung jawab jurnalis beraksi memprotes agar persoalan lingkungan teratasi. Seluruh persoalan di negara ini sudah ada lembaga atau instansi yang bertanggung jawab mengatasinya. Terkait dengan liputan limbah rumah sakit target audiens penting adalah pemerintah yang memiliki wewenang mengawasi kegiatan rumah sakit yang menghasilkan limbah, antara lain dinas lingkungan hidup. Jawaban empat pertanyaan penting ini bisa mendorong mereka yang bertanggung jawab bergerak.

Jika instansi pemerintah tetap tidak bergerak. Jawaban empat pertanyaan ini bisa mendorong target audiens lainnya untuk "memaksa" instansi pemerintah bergerak. Target audiens lain ini misalnya para aktivis pembela lingkungan, lembaga nirlaba yang bergerak di bidang lingkungan

Why it is important = Mengapa itu penting

Target audiens akan bertanya: mengapa persoalan limbah rumah sakit itu penting. Liputan persoalan limbah rumah sakit harus menjawab pertanyaan itu secara eksplisit. Mungkin target audiens masih belum ingin bergerak. Audiens tidak merasa penting limbah rumah sakit karena mereka tinggal jauh dari rumah sakit. Mereka masih bertanya: apa pentingnya buat saya atau apa artinya buat saya?

What does it mean to me? (Apa artinya buat saya?)

Pertanyaan penting kedua ini mencoba mengikuti proses berpikir audiens setelah mendapatkan jawaban pertanyaan penting pertama: mengapa itu penting. Ketika jawabannya terlalu umum, misalnya kasus limbah rumah sakit: limbah rumah tidak dikelola dengan baik dan benar akan menimbulkan risiko penyebaran penyakit.

Jurnalis harus memikirkan jawaban pertanyaan yang lebih personal dan spesifik: apa pentingnya atau artinya buat saya. Misalnya, target audiens laporan limbah rumah sakit adalah warga yang tinggal di seputar rumah sakit. Jawaban pertanyaan penting kedua: warga di sekitar rumah sakit berisiko tertular penyakit mematikan, seperti hepatitis, HIV/AID dan penyakit menular lainnya. Jawaban itu menjadi sangat personal bagi warga sekitar rumah sakit.

Tetap saja, target audiens masih ada pertanyaan lanjutan yaitu pertanyaan penting ketiga: apa yang dapat atau harus saya perbuat.

What can/should I do about it? (Apa yang bisa/harus saya perbuat?)

Di dalam laporan liputan lingkungan secara eksplisit harus ada jawaban pertanyaan penting ketiga ini. Jawaban pertanyaan penting ketiga untuk kasus limbah rumah sakit: warga bisa memprotes kepada manajemen rumah sakit agar memproses limbah rumah sakit dan tidak membuang sembarangan atau protes melalui RT/RW dan kepala desa (atau lurah) agar menyampaikan kepada instansi berwewenang mengawasi rumah sakit.

Masih ada kemungkinan target audiens belum termotivasi untuk bergerak atau beraksi. Mereka masih bertanya: mengapa saya harus protes atau mengapa saya harus peduli dan beraksi. Audiens masih memikirkan untung-rugi kalau mereka beraksi, mereka mempertanyakan tujuan dan risiko jika mereka beraksi.

What is the point?

Laporan liputan lingkungan harus memberikan jawaban pertanyaan penting keempat: what is the point yang kalau diterjemahkan membawa makna "apa gunanya" atau "apa untungnya" atau "apa maksudnya." Bisa jadi jawaban pertanyaan penting ketiga malah membuat mereka takut bertindak. Jurnalis harus kreatif meyakinkan target audiens untuk bertindak, misalnya, dengan memberikan fakta-fakta berupa kasus.

Kreatifitas menyajikan fakta-fakta, informasi dan data dalam format tulisan atau multimedia akan sangat mempengaruhi apakah liputan lingkungan menjadi liputan yang memberikan dampak. Tidak cukup jurnalis lingkungan tahu dan bisa mengumpulkan jawaban pertanyaan mengikuti Prinsip Kipling. Jurnalis lingkungan harus menjawab tambahan empat pertanyaan penting audiens.