Begini Jadinya Jika Plankton Sungai Brantas Punah

Penulis : Gilang Helindro

Lingkungan

Minggu, 09 Juni 2024

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) yang melakukan analisis terhadap kondisi air Sungai Brantas selama 20 tahun menemukan adanya peningkatan suhu air dari tahun 1994-2024. Peningkatan suhu air ini menyebabkan punahnya plankton dan ikan di sungai Brantas. 

Tasya Husna, peneliti perubahan iklim Ecoton, menyampaikan hal tersebut setelah menganalisis data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan NASA. Data kedua lembaga menunjukkan peningkatan suhu udara rata-rata yang terjadi di Indonesia selama 30 tahun terakhir sebesar 0,6oC derajat per tahun. Peningkatan temperatur udara ini pada gilirannya mengakibatkan naiknya suhu air. 

Tasya mengatakan, perlu upaya penegakan hukum bagi industri pencemar dan masyarakat yang memanfaatkan sungai sebagai tempat sampah. Buangan limbah cair tak terkendali dari industri dan pemukiman warga telah menyebabkan penurunan kualitas air sungai Brantas.

“Polutan limbah cair menyebabkan peningkatan 10 kali lipat sumbangan emisi gas rumah kaca dari sungai ke atmosfer yang menyebabkan bumi makin panas. Pemanasan bumi ini menyebabkan suhu air meningkat, dan pada gilirannya mendorong kepunahan biota dalam air sungai,” ungkap Tasya.

Ecoton teliti sungai Brantas selama 20 tahun. Foto: Istimewa/Ecoton

Menurut laporan Ecoton, kualitas air Sungai Brantas melebihi baku mutu. Dalam uji kualitas air yang dilakukan sepanjang 2024, peneliti Ecoton menemukan terdapatnya beberapa parameter yang melebihi baku mutu kualitas air berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Kualitas air Sungai Brantas yang melebihi dari baku mutu itu terdapat di area Gresik dan Surabaya. Pembuangan limbah dari berbagai industri dan aktivitas manusia di sekitar sungai menyumbang kandungan karbon (C) dan Nitrogen (N) dalam limbah. 

“Hal ini menyebabkan peningkatan aktivitas mikroorganisme dalam membentuk gas rumah kaca seperti karbon dioksida, gas metana, dan dinitrogen oksida,” ungkap Tasya.

Tasya menjelaskan, berdasarkan hasil identifikasi plankton, ada lebih banyak fitoplankton dalam Sungai Brantas Area Gresik dan Surabaya daripada zooplankton. Sebanyak 79,42 persen plankton yang hidup di sungai tersebut merupakan jenis plankton yang tahan terhadap polutan tinggi dengan jumlah tiga terbanyak dari golongan fitoplankton, meliputi Eunotia sp., Fragilaria sp., dan Oscillatoria sp.

“Sedangkan hanya 20,57 persen yang merupakan plankton sensitif terhadap pencemaran. Jika terlalu banyak fitoplankton, air dapat menjadi keruh dan mempercepat terjadinya blooming algae,” kata Tasya.

Plankton sungai Brantas hampir punah. Foto: Istimewa/Ecoton

Menurut Tasya, adanya temuan bahwa plankton yang dominan di Sungai Brantas area Gresik dan Surabaya adalah plankton yang toleran terhadap pencemaran, juga menunjukkan telah terjadinya penurunan jumlah plankton yang sensitif. "Dengan kata lain, itu juga berarti berkurangnya jumlah plankton secara keseluruhan. Namun, keberlangsungan hidup plankton toleran pencemaran juga akan terancam apabila pencemaran terus terjadi dan meningkat," kata dia. 

Prigi Arisandi,Ketua Peneliti dan Founder Ecoton Foundation mengatakan, plankton merupakan sumber makanan utama bagi banyak organisme akuatik, seperti ikan kecil, krustasea, dan cumi-cumi. Jika plankton hilang, maka organisme-organisme ini akan kehilangan sumber makanannya dan populasinya akan menurun. Gangguan pada rantai makanan akibat hilangnya plankton dapat mempengaruhi sumber daya makanan manusia. Ikan dan makanan laut lainnya yang dikonsumsi manusia bergantung pada plankton sebagai sumber makanannya.

“Data tahun 2019. mengungkapkan bahwa Indonesia menduduki nomor dua kepunahan ikan tertinggi setelah Filipina. Hal ini salah satunya diakibatkan karena berkurangnya makanan ikan, yaitu plankton,” kata Prigi Arisandi.