Koalisi LSM ke Organisasi Maritim Dunia: Tolak Biofuel!

Penulis : Kelakay, JAKARTA

Energi

Kamis, 03 April 2025

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Biofuelwatch, Global Forest Coalition (GFC), dan AbibiNsroma Foundation mendesak International Maritime Organization (IMO) dan 176 negara anggota untuk mengecualikan penggunaan biofuel dari standar bahan bakar globalnya dan berkomitmen pada alternatif energi yang benar-benar bersih. Kelompok pembela lingkungan dan hak-hak masyarakat adat ini mengingatkan IMO atas potensi kerusakan akibat dimasukkannya biofuel dalam strategi dekarbonisasi sektor pelayaran.

Diketahui, pekan-pekan ini IMO sedang menyelesaikan negosiasi tentang langkah-langkah utama untuk mencapai emisi gas rumah kaca (GRK) nol bersih dalam pelayaran internasional.

Almuth Ernsting dari Biofuelwatch dalam pernyataan resmi mengatakan, biofuel tidak memiliki tempat dalam kebijakan apa pun yang dirancang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dalam pengiriman atau dalam bentuk transportasi lainnya. “Setiap permintaan baru untuk biofuel, terlepas dari bahan bakunya, baik secara langsung maupun tidak langsung meningkatkan permintaan akan lahan. Ini hanya dapat terjadi dengan mendorong batas pertanian ke hutan dan ekosistem alami lainnya, atau dengan mengurangi produksi pangan, sehingga menaikkan harga pangan. Permintaan biofuel yang ada jauh melampaui apa yang mungkin dapat dipenuhi dari limbah dan residu asli,” kata dia dalam sebuah rilis.

Biofuel ancam hutan Indonesia

“Kami sangat menentang promosi biofuel karena akan memperluas deforestasi di Provinsi Aceh dan Sumatera,” kata Yusmadi Yusuf, Direktur Aceh Wetland Forum dalam tanggapannya. “Biodiesel minyak kelapa sawit melegitimasi dan mempercepat kerusakan hutan hujan di kawasan lindung. Lebih dari 60.000 hektare hutan gambut di Rawa Tripa, Aceh, telah diubah menjadi perkebunan kelapa sawit, dan penggundulan hutan masih berlangsung hingga saat ini,” kata Koordinator Koalisi Selamatkan Lahan dan Hutan Aceh (KSLHA) itu.

Tampak dari ketinggian lahan di kawasan Suaka Margasatwa Singkil di Aceh, dirambah untuk dijadikan perkebunan sawit. Foto diambil pada Februari 2024.. Foto: Auriga Nusantara.

LSM konservasi, organisasi adat, dan bahkan beberapa perusahaan pelayaran telah memperingatkan IMO tentang bahaya biofuel. Sekarang, ujar Yusmadi, organisasi tersebut harus mendengarkan. 

Direktur Yayasan Insan Hutan Indonesia (YIHUI), Safrudin Mahendra mengatakan, pengembangan dan produksi bioenergi, khususnya biomassa dan biodiesel dari minyak kelapa sawit, telah menyebabkan bencana lingkungan dan sosial yang dahsyat di Indonesia. “Deforestasi yang meluas, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pelanggaran hak-hak Masyarakat Adat merupakan konsekuensi langsung dari perluasan biofuel. Dari pada memperburuk krisis iklim, IMO harus fokus pada solusi energi berkelanjutan yang menghormati manusia dan planet ini,” kata Safruddin Mahendra.

“Biofuel adalah langkah mundur, bukan maju,” kata Kenneth Nana Amoateng dari Yayasan AbibiNsroma, Ghana, “IMO harus menolak solusi palsu dan berkomitmen untuk masa depan yang didukung oleh energi bersih yang sesungguhnya.”

Saat IMO bertemu dalam beberapa minggu mendatang, Biofuelwatch, Global Forest Coalition, dan AbibiNsroma Foundation mendesak negara anggota untuk mengambil sikap menentang biofuel. Masa depan yang benar-benar berkelanjutan untuk pengiriman bergantung pada tindakan berani—yang memprioritaskan solusi yang tidak mengorbankan hutan, masyarakat, dan keamanan pangan global.

IMO memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa kebijakan iklimnya tidak menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada hutan, masyarakat, dan ekosistem di seluruh dunia. Memasukkan biofuel dalam strategi dekarbonisasi bertentangan dengan komitmennya sendiri terhadap aksi iklim dan keberlanjutan.

Pendorong deforestasi

Biofuel yang berasal dari tanaman seperti minyak sawit dan kedelai merupakan pendorong utama penggundulan hutan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pelanggaran hak asasi manusia. Produksi bahan bakar ini dalam skala besar menggusur masyarakat adat, mengganggu ekosistem, dan mengancam ketahanan pangan global.
Apa yang disebut biofuel “generasi kedua”, yang diproduksi dari bahan limbah dan residu sehingga diklaim lebih ramah, juga tidak dapat ditingkatkan skalanya maupun tersedia dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi permintaan industri pengiriman.
Alih-alih mempercepat transisi dari bahan bakar fosil, biofuel justru memperpanjang umur aset bahan bakar fosil yang terlantar seperti kilang minyak. Renovasi kilang minyak untuk produksi biofuel membutuhkan investasi besar-besaran, yang mengalihkan dana penting dari solusi energi yang benar-benar bersih. “Promosi biofuel merupakan pengalihan yang berbahaya dari aksi iklim yang nyata,” kata Oli Munnion, Koordinator Kampanye Hutan dan Perubahan Iklim di Global Forest Coalition.
“Kita tidak boleh membuang-buang waktu dan sumber daya untuk bahan bakar yang masih berkontribusi terhadap emisi dan kerusakan lingkungan. IMO harus memprioritaskan propulsi bertenaga angin, elektrifikasi, dan sumber energi bersih lainnya,” Oli Munnion.