Tutup Tahun, Teror Bangkai Ayam
Penulis : Aryo Bhawono
HAM
Kamis, 01 Januari 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Aktivis Greenpeace Indonesia dan pelantang media sosial mendapat teror berupa kiriman bangkai ayam. Teror ini diduga berkaitan dengan isu yang mereka bahas, bencana banjir Sumatera.
Kiriman teror berupa bangkai ayam datang ke rumah Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, pada Selasa (30/12/2025). Bangkai ayam itu ditemukan di teras rumah pada Selasa pagi, tanpa pembungkus apa pun.
Di kaki ayam tersebut terikat plastik berisi kertas bertuliskan pesan “JAGALAH UCAPANMU APABILA ANDA INGIN MENJAGA KELUARGAMU, MULUTMU HARIMAUMU”.
Iqbal mengaku sempat mendengar suara benda jatuh di teras rumahnya pada dini hari. Lepas subuh, sekitar pukul 05.30 WIB, anggota keluarganya menemukan bangkai ayam tersebut. Iqbal kemudian memeriksa sambil mendokumentasikan kiriman tersebut.
Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak, menduga kiriman ini merupakan buntut kerja-kerja Iqbal Damanik sebagai pengkampanye Greenpeace.
Iqbal Damanik, melalui akun media sosial pribadinya kerap menayangkan unggahan tentang banjir Sumatera dan respons pemerintah dalam menangani bencana tersebut. Sejumlah juru kampanye Greenpeace juga banyak bersuara lewat wawancara media maupun media sosial.
Berbagai pernyataan tersebut berangkat dari temuan tim yang pergi ke lapangan pascabencana, serta temuan dan analisis Greenpeace. Namun dalam beberapa hari terakhir, Iqbal banyak menerima serangan di kolom komentar unggahan media sosialnya, juga pesan bernada ancaman lewat direct message Instagram.
Leonard. menyebutkan kritik publik, termasuk pengkampanye lembaganya, terhadap cara pemerintah menangani banjir Sumatera ini sebenarnya lahir dari keprihatinan dan solidaritas terhadap para korban.
“Apalagi di balik banjir Sumatera ini ada persoalan perusakan lingkungan, yakni deforestasi dan alih fungsi lahan yang terjadi menahun, yang terjadi atas andil pemerintah juga. Belum lagi pemerintahan Prabowo malah akan membuka jutaan hektare lahan di Papua, yang bakal merugikan Masyarakat Adat dan memperburuk dampak krisis iklim,” ujarnya.
Pola teror serupa yang juga menimpa masyarakat sipil, jurnalis, dan pegiat media sosial dalam beberapa waktu belakangan.
Disjoki asal Aceh, DJ Donny, juga mendapat kiriman teror yang sama.
Hal serupa juga dialami pemengaruh dan kreator konten asal Aceh, Sherly Annavita. Ia mengunggah kabar tentang vandalisme di mobil pribadi serta kiriman sekantung telur busuk ke tempat tinggalnya.
Keduanya juga menerima surat bernada mengancam.
“Sulit untuk tak mengaitkan kiriman bangkai ayam ini dengan upaya pembungkaman terhadap orang-orang yang gencar menyampaikan kritik atas situasi Indonesia saat ini. Ada satu kemiripan pola yang kami amati, sehingga kami menilai ini teror yang terjadi sistematis terhadap orang-orang yang belakangan banyak mengkritik pemerintah ihwal penanganan bencana Sumatera,” kata Leonard.
Greenpeace Indonesia mengecam maraknya upaya teror terhadap masyarakat sipil, mulai dari aktivis, jurnalis, hingga pegiat media sosial. Kritik publik mestinya tak diperlakukan sebagai ancaman, melainkan ekspresi demokrasi dan pengingat bagi kekuasaan untuk tetap akuntabel. Kebebasan berbicara merupakan hak yang dijamin dalam konstitusi.
“Upaya teror tak akan membuat kami gentar. Greenpeace akan terus bersuara untuk keadilan iklim, HAM, dan demokrasi,” tutup Leonard.


Share

