Pusat Biosistematika BRIN Temukan 51 Spesies Baru pada 2025

Penulis : Raden Ariyo Wicaksono

Biodiversitas

Rabu, 04 Februari 2026

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID - Sepanjang 2025, para peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan 51 spesies baru, dengan rincian 49 spesies berasal dari Indonesia, satu mikroalga dari Kaledonia Baru, dan satu krustasea dari Vietnam. Temuan ini semakin memperkaya basis data biodiversitas nasional dan menjadi rujukan penting bagi pengembangan riset biosistematika di Indonesia.

Spesies-spesies baru tersebut mencakup beragam kelompok organisme, antara lain serangga, ikan, amfibi, reptil, moluska, serta tumbuhan berbunga dan anggrek. Spesimen diperoleh dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua, dan telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional sepanjang 2025.

Kepala PRBE BRIN, Arif Nurkanto, menyampaikan Indonesia masih menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati yang sebagian besar belum terungkap. Puluhan temuan spesies baru flora, fauna, dan mikroba pada 2025 ini, menurutnya membuka cakrawala tentang pentingnya riset, ekspedisi, dan konservasi sumber daya hayati.

“Di tengah laju kepunahan yang terus berpacu dengan waktu, penemuan ilmiah menjadi harapan agar kekayaan alam tidak hilang sebelum sempat dikenal,” ujarnya, dalam sebuah keterangan tertulis, Senin (2/2/2026).

Kolase foto spesies baru temuan BRIN pada 2025. Sumber: BRIN.

Sebanyak 16 spesies baru flora yang berhasil diidentifikasi antara lain Chiloschista tjiasmantoi, Homalomena adei, Homalomena pistioides, Homalomena chikmawatiae, Begonia antoi, Homalomena amarii, Homalomena renda, Homalomena belitungensis, Syzygium halmaherense, Dendrobium siculiforme, Bulbophyllum ewamiyiuu, Begonia elegantifolia, Homalomena sungaikeliensis, Homalomena polyneura, Syzygium rubrocarpum, dan Homalomena siasiensis.

Sementara itu, 32 spesies baru fauna yang ditemukan meliputi Deutereulophus thahirae, Deutereulophus sancangensis, Deutereulophus krakatauensis, Thlaspidula gandangdewata, Thlaspidula sarinoi, Rhacophorus boeadii, Cyrtodactylus pecelmadiun, Limnonectes maanyanorum, Limnonectes nusantara, Bathynomus vaderi, Amphicnemis reri, Kalubustrongylus arsoensis, Barbodes klapanunggalensis, Oryzias polylepis.

Kemudian Dibamus oetamai, Kalophrynus misbahulmuniri, Stiphodon hadiatyae, Rattus radityaniae, Cyrtodactylus maryantoi, Cyrtodactylus mendol, Tmethypocoelis malukensis, Aphaniotis kumbakarna, Deramas jasmine, Betta iaspis, Betta mulyadi, Crunomys tompotika, Desmopuntius mahakamensis, Johnius javaensis, Hylarana anatambanii, Hylarana hellenae, Diancta batubacan, dan Limnonectes meratusensis.

Adapun tiga spesies baru mikroba yang berhasil diungkap yaitu Morchella rinjaniensis, Peterkaempfera podocarpi, dan Haslea berepwari.

Sebagian besar temuan tersebut merupakan spesies endemik yang hanya dijumpai di lokasi tertentu, sehingga memiliki nilai strategis dalam mendukung upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia.