Apakah Kera Bisa Bermain Pura-Pura Seperti Balita? 

Penulis : Kennial Laia

Spesies

Sabtu, 07 Februari 2026

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Dalam serangkaian eksperimen mirip pesta teh, para peneliti di Johns Hopkins University menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa, kera dapat menggunakan imajinasinya dan bermain pura-pura, sebuah kemampuan yang dianggap hanya dimiliki oleh manusia.

Secara konsisten dan kuat dalam tiga percobaan, seekor bonobo terlibat dengan secangkir jus imajiner dan semangkuk anggur palsu, menantang asumsi lama tentang kemampuan hewan.

Temuan yang dipublikasikan di jurnal Science, 5 Februari 2026 tersebut menunjukkan bahwa, kemampuan untuk memahami objek pura-pura termasuk dalam potensi kognitif, setidaknya kera yang terenkulturasi. 

“Ini benar-benar mengubah keadaan karena kehidupan mental mereka melampaui masa kini,” kata Christopher Krupenye, salah satu penulis dan asisten profesor Johns Hopkins di Departemen Ilmu Psikologi dan Otak yang mempelajari cara berpikir hewan. 

Kanzi, bonobo berusia 43 tahun yang tinggal di Ape Initiative, Iowa, AS, secara anekdot dilaporkan mampu terlibat dalam permainan pura-pura dalam sebuah penelitian terbaru. Dok. Ape Initiative

“Imajinasi telah lama dipandang sebagai elemen penting dalam kehidupan manusia, namun gagasan bahwa imajinasi tidak hanya dimiliki oleh spesies kita sangatlah transformatif,” katanya. 

Pada usia dua tahun, anak-anak manusia dapat terlibat dalam skenario pura-pura, seperti pesta teh. Bahkan pada usia 15 bulan, bayi menunjukkan keterkejutan ketika mereka melihat seseorang "minum" dari cangkir setelah berpura-pura mengosongkannya.

Dalam riset tersebut, Krupenye dan rekan penulis Amalia Bastos, dosen di University of St. Andrews di Skotlandia, bertanya jika mereka dapat menguji kemampuan berpura-pura kera dalam lingkungan yang terkendali.

Mereka menciptakan eksperimen yang sangat mirip dengan pesta teh anak-anak untuk menguji Kanzi, seekor bonobo berusia 43 tahun yang tinggal di Ape Initiative, Iowa, AS. Secara anekdot Kanzi dilaporkan berpura-pura dan dapat merespons perintah verbal dengan menunjuk.

Dalam setiap pengujian, pelaku eksperimen dan Kanzi saling berhadapan, bergaya pesta teh, di seberang meja yang dilengkapi teko dan cangkir kosong, atau mangkuk dan stoples.

Pada tugas pertama ada dua cangkir transparan di atas meja. Keduanya kosong, dan diletakkan di samping teko transparan yang kosong. Pelaku eksperimen mengarahkan teko untuk "menuangkan" sedikit jus ke dalam setiap cangkir, lalu berpura-pura membuang jus dari satu cangkir, mengocoknya sedikit agar jus benar-benar keluar. Mereka lalu bertanya pada Kanzi, "Mana jusnya?"

Kanzi menunjuk ke cangkir yang benar yang sebagian besar masih berisi jus palsu, bahkan ketika peneliti mengubah lokasi cangkir yang berisi jus palsu.

Pada percobaan kedua, pelaku eksperimen meletakkan secangkir jus asli di samping jus palsu. Ketika Kanzi ditanya apa yang dia inginkan, dia hampir selalu menunjuk ke arah jus asli.

Percobaan ketiga mengulangi konsep serupa, kali ini dengan buah anggur. Seorang pelaku eksperimen berpura-pura mengambil sampel buah anggur dari wadah kosong, lalu menaruhnya di dalam salah satu dari dua toples. Mereka berpura-pura mengosongkan salah satu wadah dan bertanya pada Kanzi, "Di mana anggurnya?" Kanzi kembali menunjukkan lokasi benda pura-pura itu.

“Sangat mengejutkan dan sangat menarik bahwa data tampaknya menunjukkan bahwa kera, dalam pikiran mereka, dapat memahami hal-hal yang tidak ada,” kata Bastos. 

"Kanzi mampu menghasilkan gagasan tentang objek pura-pura ini dan pada saat yang sama mengetahui bahwa objek tersebut tidak nyata," ujarnya. 

Temuan ini menginspirasi penelitian lebih lanjut, terutama untuk mencoba menguji apakah kera dan hewan lain dapat terlibat dalam permainan pura-pura atau melacak objek pura-pura. Tim juga berharap dapat mengeksplorasi aspek imajinasi lain pada kera, mungkin kemampuan mereka untuk berpikir tentang masa depan atau memikirkan apa yang ada dalam pikiran orang lain.

"Imajinasi adalah salah satu hal yang pada manusia memberi kita kehidupan mental yang kaya. Dan jika akar imajinasi juga dimiliki oleh kera, hal ini akan membuat orang mempertanyakan asumsi mereka bahwa hewan lain hanyalah menjalani gaya hidup robotik yang terbatas pada saat ini," kata Krupenye. 

“Kita harus terdorong oleh temuan ini untuk merawat makhluk dengan pikiran yang kaya dan indah ini dan memastikan mereka terus ada,” katanya.