Sunda Kecil: Halaman Bermain Paus Biru Kerdil

Penulis : Kennial Laia

Konservasi

Sabtu, 14 Februari 2026

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Data terbaru mengungkap paus biru kerdil di wilayah Bentang Laut Sunda Kecil menempuh perjalanan lebih dari 2.000 kilometer dalam waktu singkat. Temuan ini dinilai sebagai capaian penting dalam riset megafauna laut di Indonesia, serta berguna untuk pengambilan kebijakan konservasi.

Tim peneliti memasang tag satelit berbasis drone pada paus biru kerdil di Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur. Pemantauan berlangsung selama sembilan hari pada Oktober 2025, hingga sinyal hilang. 

Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Iqbal Herwata mengatakan, rekaman pergerakan tersebut memberi gambaran konkret tentang luasnya jelajah spesies ini, sekaligus menegaskan bahwa perlindungan satwa migrasi membutuhkan pendekatan berbasis data dan lintas wilayah. 

Meskipun hanya satu dari empat tag satelit yang direncanakan berhasil terpasang, Iqbal mengatakan riset tersebut dapat membuktikan bahwa pemasangan tag satelit berbasis drone yang kurang invasif bisa dilakukan. “Metode ini lebih minim risiko dibanding pendekatan konvensional,” ujarnya, Kamis, 12 Februari 2026. 

Pemantauan paus biru kerdil di Laut Sawu, NTT, pada Oktober 2025. Dok. Konservasi Indonesia

Bentang Laut Sunda Kecil menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik yang berada di dalam kawasan Segitiga Terumbu Karang Dunia. Kawasan ini merupakan jalur migrasi penting bagi paus, lumba-lumba, dan hiu paus karena dinamika arus dan topografi bawah lautnya.  

Menurut Iqbal, keterbatasan data selama ini membuat banyak kebijakan pengelolaan satwa migrasi disusun tanpa dukungan informasi yang utuh. Hal ini mencakup jalur migrasi, area istirahat, hingga lokasi penting untuk mencari makan belum sepenuhnya terpetakan. 

Ekspedisi ini dipimpin oleh Konservasi Indonesia dan melibatkan sejumlah peneliti gabungan dari Indonesia dan internasional. 

Peneliti dari Elasmobranch Insitute Indonesia, Edy Setyawan mengatakan, riset tersebut menggunakan tag satelit berjenis LIMPET, yang memiliki dua anak panas sepanjang 7 sentimeter, yang saat ditembakkan akan menancap di bawah kulit paus. 

Menurut Edy, tag satelit tersebut dirancang untuk berdampak minimal bagi paus. Namun tantangannya adalah presisi dan waktu, lantaran area pemasangan pada tubuh cetacea tersebut hanya terekspos maksimal dua detik di atas permukaan. 

“Tag itu harus menancap di belakang blowhole dan di depan dorsal fin. Dengan waktu yang hanya sekejap itu, sudah pasti angin, gelombang, dan pergerakan paus akan sangat memengaruhi peluang keberhasilan,” ujar Edy. 

Rusydi, perwakilan peneliti dari Universitas Muhammadiyah Kupang mengatakan, melalui ekspedisi ini para periset juga mencatat adanya variasi perilaku paus biru di beberapa lokasi. Di tenggara Pulau Wetar, misalnya, beberapa paus teramati sedang logging atau beristirahat di permukaan. 

Sementara di Laut Sawu, paus cenderung terus bergerak kecuali di area tertentu seperti gunung bawah laut. “Temuan ini tentu saja memperkaya pemahaman tentang penggunaan habitat oleh paus biru di kawasan timur Indonesia,” katanya.  

Lebih dari itu, para periset juga mencatat sekitar 10–12 spesies megafauna laut selama ekspedisi. Beberapa perilaku kawin pada spinner dolphin dan melon-headed whale juga terdokumentasi.

Data pergerakan paus tentunya memiliki implikasi langsung pada kebijakan. Jalur migrasi dapat dibandingkan dengan jalur pelayaran, area penangkapan ikan, dan lokasi rumpon untuk mengidentifikasi potensi tumpang tindih dan risiko bagi paus. 

“Wilayah dengan tingkat sighting tinggi perlu pengelolaan khusus. Data ini membantu penyusunan kebijakan wisata pengamatan paus agar tetap berkelanjutan dan tidak mengganggu satwa,” kata Rusydi.

Ke depan, sambung Iqbal, data satelit seperti ini diharapkan bisa membantu mengidentifikasi area penting bagi paus biru kerdil, termasuk jalur migrasi utama dan wilayah yang perlu perhatian pengelolaan. Informasi ini menjadi fondasi bagi kebijakan konservasi sekaligus pengembangan ekonomi biru yang lebih terarah. 

“Data ilmiah adalah fondasi. Dari sana kita bisa merancang pengelolaan dan ekowisata yang bertanggung jawab. Tujuannya memastikan pemanfaatan laut berjalan seiring dengan perlindungan satwa dan ekosistemnya,” katanya.