Limbah Elektronik Berakhir di Tubuh Spesies Terancam Punah
Penulis : Kennial Laia
Spesies
Sabtu, 28 Februari 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Bahan kimia beracun yang berasal dari limbah elektronik, seperti layar televisi, komputer, dan ponsel pintar, ditemukan di otak dan tubuh spesies lumba-lumba dan gondal yang terancam punah di Laut Cina Selatan, menurut sebuah riset terbaru.
Penelitian tersebut–dipublikasikan di Environmental Science & Technology Rabu, 25 Februari 2026–mendeteksi tingkat signifikan monomer kristal cair (LCM) yang mengubah gen pada lumba-lumba bungkuk dan gondal nirsirip Indo-Pasifik.
LCM adalah bahan kimia organik sintetik yang biasa digunakan dalam pembuatan layar televisi, laptop, dan telepon pintar. Bahan kimia ini mengontrol cara cahaya melewati layar tampilan dan menghasilkan gambar jernih yang diharapkan pengguna dari perangkat.
Polutan LCM dari limbah elektronik menjadi perhatian khusus para ilmuwan karena mencemari udara, air limbah, dan lautan.
“Bahan kimia organik yang memancarkan cahaya ini dirancang sangat stabil sehingga dapat bertahan lama di layar TV, komputer, dan ponsel Anda,” kata Yuhe He, salah satu penulis studi dan peneliti di City University of Hong Kong, Jumat, 27 Februari 2026.
“Ironisnya, stabilitas inilah yang membuat bahan-bahan tersebut menjadi masalah bagi lingkungan: bahan-bahan tersebut tidak mudah rusak atau terurai,” katanya.
Penelitian sebelumnya menggambarkan bahwa polutan ini menimbulkan risiko kesehatan bagi manusia dan juga hewan laut.
Polutan beracun yang terdeteksi pada lumba-lumba dan gondal juga terdeteksi pada ikan dan invertebrata yang dimakan spesies ini. Hal ini menunjukkan bahwa LCM memasuki hewan melalui rantai makanan.
He dan rekannya menganalisis sampel jaringan dari spesies yang terancam punah di Laut Cina Selatan selama 14 tahun. Mereka menyaring 62 monomer kristal cair individu pada sampel lemak lumba-lumba dan gondal, termasuk juga otot, hati, ginjal, dan jaringan otak.
Sejak penelitian dimulai, sebagian besar produsen telah mengganti LCM dengan LED (dioda pemancar cahaya) di layar perangkat elektronik. Para ilmuwan melihat korelasi antara naik turunnya penggunaan bahan kimia ini dan akumulasinya pada hewan laut selama penelitian berlangsung.
Analisis menunjukkan bahwa aktivitas dari empat jenis LCM yang paling banyak terdeteksi termasuk perubahan gen terkait perbaikan DNA dan pembelahan sel pada sel lumba-lumba.
Meskipun konsentrasi kontaminan tertinggi ditemukan pada lemak, para ilmuwan terkejut saat mendeteksi sejumlah kecil LCM di otak hewan, yang menunjukkan kemampuan bahan kimia tersebut untuk melewati penghalang darah-otak.
“Keberadaan LCM di otak mereka merupakan tanda bahaya besar,” kata He. “Jika bahan kimia ini dapat melewati penghalang darah-otak pada lumba-lumba, kita harus khawatir tentang potensi efek serupa pada manusia yang terpapar melalui makanan laut yang terkontaminasi atau bahkan air minum.”
Sampah elektronik merupakan masalah yang semakin meningkat di seluruh dunia, dengan 62 juta ton sampah yang dihasilkan setiap tahunnya. Penyebab utamanya adalah “teknologi cepat” – barang-barang yang murah dan seringkali diproduksi dengan buruk dan dipandang sebagai barang sekali pakai, termasuk perangkat yang menggunakan LCM.
Untuk mengurangi kerusakan, para peneliti mengatakan masyarakat harus mencoba memperpanjang umur perangkat elektronik mereka melalui perbaikan dan membuangnya menggunakan metode daur ulang limbah elektronik bersertifikat.
Para peneliti menambahkan bahwa peraturan yang lebih ketat diperlukan mengenai penggunaan bahan kimia persisten pada barang elektronik konsumen sebelum memasuki pasar.
“Kami belum memiliki bukti langsung mengenai dampaknya terhadap kesehatan manusia, namun uji laboratorium kami terhadap sel lumba-lumba menunjukkan bahwa bahan kimia ini dapat mengubah aktivitas gen terkait perbaikan DNA dan pembelahan sel,” ujar He.
"Ini adalah sinyal peringatan. Jika kita menunggu hingga dampak buruk terhadap kesehatan manusia benar-benar terbukti, kemungkinan besar sudah terlambat. Bertindak sekarang dalam regulasi limbah elektronik adalah upaya untuk mencegah krisis kesehatan masyarakat di masa depan," katanya.


Share

