Janji Iklim Saat Ini Mungkin Tak Capai Target Paris

Penulis : Kennial Laia

Krisis Iklim

Selasa, 03 Maret 2026

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Studi terbaru mengungkap, target Perjanjian Paris untuk membatasi kenaikan suhu rata-rata global pada 1,5 °C kemungkinan akan gagal. Hal ini dapat terjadi bahkan jika negara-negara tetap memenuhi target emisi nasionalnya. 

Hal tersebut diungkap dalam studi kolaboratif baru antara Universitas Nasional Jeonbuk dan Universitas Nasional Pusan di Korea. Para peneliti ​mengevaluasi dampak dari janji iklim saat ini, dan analisis mereka menunjukkan bahwa meskipun negara-negara mengikuti rencana yang ada, suhu global dapat mencapai 2,48 °C pada 2300.

Upaya internasional untuk mengatasi perubahan iklim mencapai tonggak penting dengan Perjanjian Paris, yang diadopsi oleh lebih dari 190 negara. Perjanjian tersebut bertujuan membatasi kenaikan suhu rata-rata global jauh di bawah 2 °C, dan sebaiknya di 1,5 °C. Namun, masih ada pertanyaan mengenai apakah janji iklim nasional yang ada saat ini cukup untuk mencapai tujuan tersebut.

“Bahkan jika setiap negara menepati janjinya untuk mengurangi emisi karbon, suhu dunia masih berada pada jalur menuju kenaikan suhu sekitar 2,5C, yang lebih tinggi dari batas keamanan yang disepakati secara internasional sebesar 2C,” kata Jin, Minggu, 2 Maret 2026. 

Ilustrasi gelombang panas ekstrem. Foto: iStock

Tim peneliti melakukan analisis dengan menggunakan Regional Integrated Model of Climate and the Economic (RICE-2010). Model ini menyimulasikan bagaimana aktivitas ekonomi, emisi, dan perubahan iklim berinteraksi di berbagai kawasan global. Hal ini terjadi melalui proses umpan balik dimana pertumbuhan ekonomi menyebabkan emisi karbon, emisi menyebabkan perubahan iklim, dan dampak iklim menyebabkan kerusakan ekonomi yang dapat menghambat pertumbuhan di masa depan.

Para peneliti juga memasukkan komitmen kebijakan dunia nyata ke dalam model tersebut, termasuk target pengurangan emisi negara-negara pada 2030 dan tujuan net-zero jangka panjang. Mereka kemudian memproyeksikan hasil hingga tahun 2300 berdasarkan sejumlah skenario. 

Berdasarkan skenario bisnis seperti biasa tanpa pengurangan emisi, suhu global bisa meningkat sebanyak 7 °C pada 2300. Sebaliknya, skenario net-zero–berdasarkan janji yang ada saat ini–membatasi pemanasan hingga sekitar 2,4 °C. Meskipun hal ini menunjukkan kemajuan yang signifikan dibandingkan dengan kondisi tanpa tindakan, angka ini masih jauh dari target 2 °C. 

Studi ini juga memperkirakan bahwa diperlukan pengurangan tambahan sekitar 5 gigaton emisi setara CO2 pada 2030 untuk mencapai target 2 °C. Tanpa mitigasi yang lebih ketat, total kerusakan global akibat perubahan iklim dapat mencapai hampir US$65 triliun pada 2200. Namun, risiko-risiko ini dapat dimitigasi menjadi sekitar US$19 triliun dalam skenario net-zero, dan selanjutnya menjadi sekitar US$15 triliun melalui jalur yang selaras dengan tujuan 1,5 °C.

Tanpa tindakan yang lebih kuat, dunia dapat menghadapi gelombang panas dan banjir yang lebih ekstrem, harga pangan dan energi yang lebih tinggi, serta ketidakstabilan ekonomi yang lebih besar, kata para peneliti. Namun, jika negara-negara bertindak lebih awal dan bekerja sama lebih erat, risiko iklim jangka panjang dapat dikurangi secara signifikan.

“Data kami menunjukkan bahwa janji-janji perubahan iklim saat ini memang penting—namun hal tersebut tidaklah cukup. Namun, jika negara-negara bertindak lebih awal dan lebih tegas, dampak keseluruhan dari perubahan iklim dapat dikurangi secara signifikan, bahkan jika hal tersebut memerlukan penyesuaian ekonomi jangka pendek,” ujar Jin.

Menurut Jin, temuan-temuan ini memberikan bukti penting bagi para pembuat kebijakan saat mereka bersiap untuk memperbarui janji iklim nasional mereka, dan menyoroti bahwa inilah saatnya untuk melakukan tindakan yang lebih ambisius dan segera.

Makalah tersebut diterbitkan di jurnal Environmental Science & Policy.