Ekonomi Batu Bara: Daerah Diminta Berbenah
Penulis : Kennial Laia
Energi
Selasa, 14 April 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Daerah penghasil batu bara di Indonesia didorong untuk melakukan transformasi ekonomi demi mengurangi ketergantungan pada energi fosil tersebut.
Menurut Institute for Essential Services Reform (IESR), sektor tambang kini tidak bisa lagi dilihat sebagai sumber kekuatan ekonomi tetapi juga sumber kerentanan. Data menunjukkan target produksi nasional batu bara turun dari tahun. Terbaru, kebijakan pemerintah mematok target produksi sekitar 600 juta ton pada 2026, turun 24% dari produksi sebelumnya yang mencapai 790 juta ton.
Manajer Riset Kebijakan dan Transisi Berkeadilan IESR Martha Jesica Solomasi Mendrofa mengatakan, kebijakan tersebut muncul di tengah melemahnya permintaan dari negara tujuan utama ekspor, seperti Tiongkok dan India. Ketidakpastian geopolitik global juga menjadi faktor lainnya.
“Hal ini menunjukkan bahwa daerah yang terlalu bergantung pada batu bara rentan terdampak ketika pasar berubah serta kebijakan diperketat,” kata Martha dalam diskusi publik di Pesta Media 2026 yang diselenggarakan AJI Jakarta, Sabtu, 11 April 2026.
Menurut Martha, daerah yang sangat bertumpu pada batu bara, seperti Kabupaten Paser, Kalimantan Timur dan Muara Enim, Sumatra Selatan, perubahan pasar dan arah transisi energi global dapat menjadi risiko nyata bagi keberlanjutan ekonomi wilayah.
Studi menunjukkan, ketergantungan kedua kabupaten tersebut terlihat dari besarnya jumlah kontribusi dana bagi hasil dari pajak dan royalti pertambangan batu bara terhadap anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten Muara Enim dan Paser, masing-masing 20% dan 27%.
“Untuk itu, transformasi ekonomi daerah penghasil batu bara perlu diarahkan pada diversifikasi ekonomi lokal yang kompetitif dan saling terhubung. Artinya, daerah tidak cukup hanya mencari sektor pengganti, tetapi juga perlu membangun sinergi antarsektor agar tercipta nilai tambah ekonomi lokal yang lebih kuat,” kata Martha.
Studi IESR menemukan, identifikasi sektor dan komoditas unggulan serta rantai pasoknya sangat penting untuk upaya transformasi ekonomi wilayah penghasil batu bara. Di Paser, sektor yang berpotensi dikembangkan meliputi jasa keuangan, manufaktur, dan pendidikan. Sementara Muara Enim dapat memperkuat manufaktur serta penyediaan akomodasi dan makan minum.
“Upaya transformasi ekonomi ini perlu ditopang oleh tiga faktor utama, yakni tata kelola dan pembiayaan yang mampu mendorong program-program dengan dampak langsung terhadap peningkatan pendapatan daerah, pemanfaatan teknologi untuk pengolahan dan pengembangan bisnis serta penguatan sumber daya manusia,” ujarnya.
Koordinator Nasional Publish What You Pay (PWYP) Aryanto Nugroho mengatakan, tranformasi tidak cukup hanya dengan mengurangi atau mengendalikan produksi batu bara. Upaya ini juga harus mendorong pertumbuhan pertumbuhan energi terbarukan dan menciptakan ekonomi baru yang berkelanjutan.
“Diversifikasi ekonomi tidak boleh hanya mengandalkan pemerintah pusat atau daerah. Perusahaan harus proaktif mengamankan masa depannya,” kata Aryanto.
Sementara itu antropolog Universitas Indonesia Suraya Afif menilai, keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan transisi energi.
“Transisi yang berkeadilan mensyaratkan partisipasi aktif dari berbagai kelompok, mulai dari pekerja, komunitas lokal, hingga konsumen dan warga negara secara umum. Keterlibatan ini penting untuk memastikan bahwa kebijakan yang diambil benar-benar mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi secara luas,” kata Suraya.


Share

