Payung Krisis Iklim Petani Pala Banda: Nanaku dan Agroforestri
Penulis : Jaya Barends, MALUKU
Krisis Iklim
Kamis, 16 April 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Kerutan usia tampak jelas di wajah Halid Bugal. Napasnya tak beraturan ketika bercerita, hasil panen yang seret. Pria 75 tahun itu, sedih karena Pala Banda di kebunnya kini mudah busuk dan rontok.
“Hujan sering turun bikin pala gampang rusak,” ujar Halid saat ditemui Betahita, pertengahan Desember 2025.
Pohon pala di kebunnya berusia di atas 25 hingga 40 tahun, peninggalan masa kolonial. Sebagian lagi berumur 10 tahun, batangnya menjulang tinggi dan harusnya pada fase produktif.
Namun hujan tanpa henti disertai angin kencang menerpa Negeri Selamon, Pulau Banda Besar, Maluku Tengah, merusak buah pala dan bunga pun gugur. Bahkan buah Myristica fragrans berukuran besar, kondisinya kempes.
“Buah pala tar (tidak) bulat, kualitasnya juga turun karena kempes,” ungkapnya.
Halid bilang kondisi biji pala berkerut, bobot ringan, dan bentuknya cacat serta tidak lonjong. Usai dikeringkan, jika digoyang terdengar gemerincing.
“Kondisi biji sekarang begitu. Kini bisa dibilang menemukan pala super sudah sulit.”
Tak mengherankan, harga biji pala di pasaran juga mengikuti kualitas panen, berkisar antara Rp161 ribu-Rp 300 ribu per kilogram (Kg). Sedangkan, fuli atau bunga pala Rp 250 ribu per Kg.
Sudianto Bugal, kerabat Halid, mengeluhkan hal serupa. Ia menyebut sejak 2024, curah hujan dominan menyebabkan hasil panen seret saat harga pala melambung.
Herman Rehatta, pakar budidaya pertanian turut membenarkan uraian Sudianto. Di 2024 pula, ia meneliti pala di Pulau Banda Besar, Ay, dan Naira.
Mayoritas petani pala, mengeluhkan pergantian musim panas dan hujan makin tidak jelas. Keadaan tersebut, dampak dari krisis iklim yang turut mengubah siklus alami iklim dan pola curah hujan.
Dampak lain, suhu permukaan laut meningkat—memengaruhi pola angin dan pembentukan awan. Pada gilirannya, mengubah pola curah hujan.
“Kondisi itu jadi tantangan serius terutama pertanian karena memengaruhi panen,” kata dosen pensiunan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon tersebut.
Pada 2025, Sudianto kembali mengalami penurunan hasil panen akibat hujan tanpa jeda sejak Januari hingga Agustus. Kondisi ini tidak sesuai pola iklim unimodal di Kepulauan Banda yang hanya satu puncak musim hujan.
Umumnya, musim hujan terjadi pada Desember hingga Februari. Sementara musim kemarau berlangsung Juni hingga Agustus.
Sudianto menjelaskan bahwa anomali iklim berbarengan dengan fenomena Ombong Mei turut merusak tanaman pala. Ombong Mei, kata dia, sebutan khas Kepulauan Banda untuk angin kencang dan uap udara dingin ekstrem.
Fenomena itu berlangsung Mei hingga Agustus, bertepatan musim panen pala pertama Mei-April. Namun panen kedua September-Oktober, tidak terdampak.
“Tetapi Ombong Mei disertai hujan mengguyur sepanjang tahun, berujung panen merosot,” keluhnya.
Tentu, ekonomi keluarga Sudianto terganggu akibat panennya seret. Ia terpaksa hanya melaut untuk bertahan hidup, namun beban pikiran akan kegagalan panen terus menghantui.
Wajah Sudianto kala itu kuyu, tatapannya datar sambil bersandar di dinding ruang tamu. Tak berselang lama, ia mengatakan kerusakan buah pala tidak masif bila pohon pelindung dipertahankan.
“Pala yang rusak jauh lebih kecil jika ada pohon pelindung,” ungkapnya.
“Tapi kan hari ini lahan semakin sempit, makanya ditebang untuk membuka lahan baru,” tambahnya.
Praktik lokal hadapi perubahan
Warga mengambil Pala Banda yang jatuh ke tanah di perkebunan Pulau Ay, Maluku Tengah. Foto: Jaya Baren/Betahita.
Herman Rehatta menegaskan penebangan pohon pelindung (barrier) justru memperparah dampak Ombong Mei. Sejak dahulu, petani mengandalkan barrier untuk mengurangi dampak angin dan cuaca ekstrem.
Ia menjelaskan pada Mei terjadi masa pancaroba, secara lokal disebut Ombong Mei. Fenomena ini dipicu oleh penguapan Laut Banda. Melalui angin, massa air mengandung garam terbawa angin ke daratan.
Peralihan antara musim hujan dan kemarau itu mengakibatkan ketersediaan air tidak seimbang. Ia menjelaskan, kelebihan air dari hujan mendadak atau kekeringan sementara, memengaruhi penyerapan nutrisi tanaman.
“Suhu udara pun mengalami fluktuasi ekstrem antara siang dan malam mengakibatkan tanaman stres dan memengaruhi metabolisme dan fisiologi sehingga proses penuaan pada bunga dan buah muda,” jelasnya.
Akibatnya bunga pala, daun, dan buah muda gugur. Meski demikian, tidak semua pohon terdampak dan akan kembali pulih seiring waktu.
Namun Herman mengingatkan krisis iklim dapat memperkuat Ombon Mei karena peningkatan suhu laut memperbesar penguapan dan curah hujan. Sebagai solusi, ia menyarankan habilitasi pohon pelindung seperti kenari, durian, sengon dan lengguna.
“Yang paling baik adalah pohon kenari karena ukurannya besar,” jelasnya.
Selain itu, petani juga disarankan mengamati tanda-tanda alam atau nanaku sebagai langkah mitigasi.
“Tidak ada cara menghentikan Ombong Mei, yang bisa dilakukan hanya mengurangi dampaknya. Petani biasanya mengenali tanda-tandanya melalui nanaku.”
La Musara Ode Ungu, petani pala asal Pulau Ay menjelaskan bahwa nanaku ditandai udara dingin disertai kabut. Sebagai langkah antisipisi, ia membakar kayu di kebun untuk menghasilkan asap yang dipercaya mengusir kabut mengendap di ranting.
Kondisinya makin runyam, sebutnya kala hujan mengguyur tanpa jeda sepanjang Mei. Namun Asti, istri dari Subuh Sidek punya solusi berbeda. Ia bercerita almarhum ayahnya membuat ‘rumah api’ sederhana di kebun.
Bangunan kecil itu, terbuat dari empat tiang kayu dengan atap seng untuk melindungi api dari hujan. Asap dari hasil pembakaran, dipercaya mengurangi kelembapan. Selain itu, didukung pohon kenari yang rimbun sebagai pelindung alami.
“Alhamdulillah, pala yang rusak tidak terlalu parah,” jelasnya sembari berujar, suaminya juga turut mempraktikkan.
Strategi panen dan pertanian intensif
Kebun Kacang Panjang yang berdekatan dengan kebun pala. Pertanian model agroforestri kerap di temui di Kepulauan Banda, Maluku Tengah. Foto: Jaya Baren/Betahita.
Beda dengan petani lain, misal Musara tidak lagi menunggu buah pala matang sempurna. Namun keputusan panen lebih awal, ia biasanya nanaku hujan selama tiga hari berturut-turut, awal Mei.
“Kalau hujan, berarti curah hujan lebih dominan dan tahu Ombong datang dari situ. Jadi pala segera dipanen,” katanya.
Panen pun tidak serampangan, ia hanya memilah buah pala tua untuk dipetik. Menyisakan buah muda di pohon lain.
Kini, pola panen tidak lagi seragam seperti dulu—dua kali setahun. Pohon pala tua, bercampur dengan tanaman baru, menciptakan panen skala kecil dua hingga tiga kali di luar kalender panen.
“Buah pala yang dipanen lalu dibelah, fuli dan biji diletakkan di atas para-para. Berjarak 2-5 meter di atas perapian.”
Jika tidak hujan, pala dibiarkan matang di pohon hingga kulitnya kuning kecoklatan. Lantas merekah di dahan, mengikuti alurnya. Petani kerap menyebut, biji pala super.
Meski berada di tengah krisis iklim, Musara meyakini bahwa nanaku cukup akurat sebagai pedoman.
Mantan Kepala Negeri Administrasi Pulau Ay, Jusuf Madja mengatakan nanaku cara lama membaca gejala alam—diwariskan turun termurun. Selain untuk pertanian, metode ini juga digunakan memprediksi ketersediaan air.
Pulau Ay sendiri mengalami krisis air berkepanjangan akibat struktur tanah karang dan minim mata air. Warga pun sangat bergantung pada air hujan.
“Kalau tidak ada hujan, pemakaian air harus lebih hemat,” kata Jusuf.
Di sampingnya, Bahar Harun mengangguk pelan. Tubuhnya tegap, kulit sawo matang. Ia yang mendampingi perjalanan Betahita hari itu—Rabu, 17 Desember 2025—menyusuri kebun-kebun pala.
Bahar berjalan di depan, menuntun langkah, menapaki jalan setapak yang membelah rimbunnya pohon pala. Di sisi kiri, buah pala tampak mengerut—permukaannya dipenuhi bercak cokelat dan mengering. Kabut tipis, menggantung di antara dahannya.
Sisi kanan, hamparan pohon pala berusia 10-15 tahun berdiri rapat, sarat buah. Sekitar lima meter dari situ, pohon kenari menjulang tinggi, seolah menjadi pelindung alami di tengah kebun.
“Sebagian pohon kenari ditanam petani dan ada juga peninggalan kolonial,” kata Bahar, membuka pembicaraan. Ia lantas menunjukkan kebun pala miliknya, sebagian dahannya tampak tanpa buah pala.
“Sebagian baru belajar berbuah,” katanya. Pohon pala itu diperkirakan berumur 4-7 tahun.
Perjalanan dilanjutkan ke kebun sayur yang berdekatan dengan kebun pala. Dari jauh, dua pria terlihat menusuk tanah dengan kayu, mengisi bibit terong lalu menutup kembali lubang tersebut.
Kedua pria itu juga memiliki kebun pala. Mereka memanfaatkan jeda panen pala untuk menanam kacang panjang, cabe, tomat dan berbagai sayuran lain.
Pertanian model agroforestri itu juga dijalankan Harun Astar di kebunnya. Lahan miliknya, berada pada benteng alam perbukitan Negeri Administrasi Lautang—menghadap ke laut dengan pemandangan Pulau Hatta.
Di lahan itu pula ditanam padi gogo, ubi larantuka, dan sayuran. Pohon pala hanya beberapa batang saja, tidak seperti di lokasi kebun lain miliknya.
“Bibit pala yang ditanam, harus menghitung ketinggian perbukitan. Tidak sekedar tanam saja,” katanya.
Ia mengklaim lahannya berada pada areal aman untuk budidaya pala. Hal serupa juga juga ditemukan di perbukitan di bagian tengah, buah pala umumnya matang sempurna.
Kondisi berbeda terjadi di perbukitan atasnya lagi. Wilayah tersebut, buah pala gampang rusak. Saat Ombong Mei, bila tidak segera dipanen, buah masih muda cenderung cepat membusuk dan dan gugur. Kondisi ini lebih para di tengah krisis iklim saat ini.
“Buah pala banyak, tetapi saat Ombong Mei agak sulit mendapatkan buah yang benar-benar matang,” jelasnya.
Ia menambahkan wilayah tersebut memiliki suhu yang lebih dingin dan tingkat kelembapan tinggi. Sejak masa kolonial, area itupun tidak dimanfaatkan sebagai perkebunan pala.
Pohon pelindung seperti kenari memang tumbuh di sana. Namun berfungsi sebagai pelindung bagi perkebunan pala di bagian bawah perbukitan.
Herman Rehatta mengatakan idealnya budidaya tanaman pala pada lahan dengan kemiringan lereng 0-20%. Lahan yang miring, mengurangi kemungkinan akar tergenang air.
Selain itu, pala dapat berproduksi baik pada ketinggian tempat 0-700 meter di atas permukaan laut (mdpl).“Namun, makin tinggi tempat maka produksi makin rendah,” jelasnya.
Khusus untuk syarat tumbuh, ia melanjutkan, iklim juga memengaruhi penyebaran dan populasi hama dan penyakit tanaman (HPT). Namun, penelitiannya kala itu tidak menganalisis iklim memengaruhi HPT lebih jauh.
“Saat penelitian, menemukan kerusakan pala akibat serangan hama dan penyakit tiga lokasi berbeda. Di Pulau Ay, misalnya terdapat serangan penggerek batang,” jelasnya.
“Selanjutnya rayap, busuk buah basah, busuk buah kering dan keriting pucuk daun,” tambahnya. Ia mengungkap berdampak terhadap penurunan produksi 10-25 persen.
Bagi Herman produktivitas pala pada dasarnya dipengaruhi banyak hal. Bukan saja faktor genetik, hama dan iklim tetapi tindakan budidaya yang tidak intensif.
Untuk itu, sudah saatnya petani menghidupkan kembali pertanian intensif. Di antaranya, menjaga jarak tanam. rutin membersihkan sanitasi di kebun dan benih serta bibit tersertifikasi.
“Sebab, rendahnya produksi dan produktivitas ini sebagai akibat pengaruh iklim dan teknik budidaya yang belum intensif,” ungkapnya.
Liputan ini didukung Yayasan SAHARI dan Caritas Germany.


Share

