Dunia Kehilang 4,3 juta Ha Hutan Tropis di 2025 - Studi WRI
Penulis : Aryo Bhawono
Deforestasi
Kamis, 30 April 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Dunia kehilangan 4,3 juta hektare hutan hujan primer tropis pada 2025 menurut GLAD Universitas Maryland dan World Resources Institute. Meski angka ini menunjukkan menurunnya kehilangan hujan tropis sebesar 36 persen dibandingkan tahun 2024 namun ancaman karhutla akibat godzilla el nino membesar.
Data yang dirilis pada Rabu (29/4/2026) ini menunjukkan kebijakan dan penegakan hukum dapat mencegah hilangnya hutan. Namun, kebakaran yang didorong oleh iklim adalah normal baru yang berbahaya, mengancam untuk membalikkan keuntungan baru-baru ini.
Luas kehilangan hutan hujan tropis primer sebesar 4,3 juta ha ini hampir setara luas Denmark.
Meski angka ini menurun sebesar 6,73 juta ha dibandingkan pada 2024, angka tersebut masih 46 persen lebih tinggi dibandingkan satu dekade lalu. Laju kehilangan hutan primer setara dengan kehilangan 11 lapangan sepak bola tiap menit.
Co-Direktur Global Forest Watch WRI, Elizabeth Goldman, mengungkapkan penurunan skala ini dalam satu tahun menggembirakan. Tindakan pemerintah cukup menentukan pencapaian ini. Namun ia mengingatkan
Tetapi ia memberikan catatan penurunan ini terjadi setelah kebakaran ekstrem pada tahun sebelumnya.
Hilangnya hutan primer tropis menurun sebesar 36% dari tahun 2024 hingga 2025, menyusul tahun 2024 yang mencatat rekor kebakaran ekstrem. Data: WRI
“Kebakaran, perubahan iklim, dan ancaman El Nino saling terkait. Makanya investasi dan pencegahan dan respons akan sangat penting karena kondisi kebakaran yang ekstrem kini menjadi bagian norma,” ucapnya.
Kehilangan hutan global tetap jauh dari target untuk memenuhi komitmen 2030, demi menghentikan dan membalikkan kehilangan hutan. Level saat ini masih setidaknya 70 persen lebih tinggi dari target.
Hutan primer tropis sangat penting untuk stabilitas iklim, keanekaragaman hayati dan jutaan orang yang bergantung pada mereka untuk makanan, pendapatan dan perlindungan dari cuaca ekstrem. Kerugian mereka melepaskan sejumlah besar karbon dan melemahkan salah satu pertahanan alami planet ini yang paling penting terhadap perubahan iklim.
Sebagian besar pengurangan global didorong oleh Brasil, rumah dari hutan hujan terbesar di dunia Amazon. Pada tahun 2025, Brasil memangkas kehilangan hutan primer non-kebakaran sebesar 41 persen dibandingkan dengan tahun 2024.
Penurunan tersebut bertepatan dengan kebijakan dan penegakan lingkungan yang lebih kuat di bawah Presiden Luiz Inácio Lula da Silva. Kebijakan ini di antaranya peluncuran rencana anti-deforestasi federal dan peningkatan hukuman untuk kejahatan lingkungan.
Meskipun Brasil masih memiliki area absolut terbesar dari hilangnya hutan primer karena ukurannya, tingkatnya relatif terhadap area hutan (0,5%) sekarang lebih rendah daripada beberapa negara tropis lainnya.
Mirela Sandrini, Direktur Eksekutif, WRI Brasil, mengungkapkan kemajuan Brasil tak lepas dari prioritas kebijakan nasional untuk perlindungan hutan
"Tapi lanskap Brasil menjadi lebih mudah terbakar, dan meningkatnya risiko kebakaran berarti penegakan hukum saja tidak akan cukup. Melindungi keuntungan ini akan membutuhkan penskalaan pencegahan yang dipimpin masyarakat dan membangun ekonomi yang menghargai hutan yang berdiri,” kata dia.
Kehilangan hutan primer di Indonesia meningkat sebesar 14% dari tahun 2024 hingga 2025, yang sebagian disebabkan oleh perluasan lahan pertanian dan kegiatan pertambangan. Data: WRI
Indonesia sendiri dapat mempertahankan tingkat kehilangan hutan primer bersama Malaysia. Hal ini menunjukkan peningkatan tata kelola, pengakuan hak tanah masyarakat adat dan lokal, serta komitmen perusahaan terhadap produksi bebas deforestasi.
Direktur Pelaksana, WRI Indonesia, Arief Wijaya, menyebutkan Indonesia berhasil menjaga hilangnya hutan sebagian besar terkendali dalam beberapa tahun terakhir, didukung oleh kebijakan yang membatasi pembukaan hutan baru dan memberi masyarakat hak yang lebih besar untuk mengelola hutan.
“Hal ini menunjukkan komitmen yang kuat untuk penggunaan lahan yang lebih berkelanjutan. Tetapi meningkatnya tekanan ekonomi dapat menguji kemajuan itu - dan apakah itu dapat bertahan di bawah tekanan akan tergantung pada seberapa baik pertumbuhan seimbang dengan iklim dan alam,” ucap dia.
WRI mencatat kehilangan hutan hujan tropis primer di Indonesia mencapai 295.595 ha atau 14,2 persen dibandingkan 2024. Goldman menyebutkan kontribusi atas deforestasi ini di antaranya adalah proyek 2 juta ha food estate di Papua dan pertambangan nikel di Sulawesi.
“Untuk Food Estate di Papua data kami menunjukkan sekitar 10 ribu hutan tropis yang hilang. Angka ini merujuk pada hutan primer, dimana kami datang ke sana pada Desember lalu,” ucapnya.
Menurutnya selain terjadi pada hutan primer, proyek food estate ini juga dilakukan di kawasan yang sudah rusak.
Beda Angka Deforestasi Dengan Auriga Nusantara
Pada akhir Maret 2026 lalu, Auriga Nusantara merilis Status Deforestasi Indonesia (STADI). Angka yang deforestasi yang ditunjukkan oleh lembaga ini mencapai 433.751 ha atau meningkat sebesar 66 persen dibandingkan 2024.
Goldman menyebutkan pada press brief sebelum rilis laporannya, perbedaan cukup besar ini karena metode yang digunakan berbeda. WRI menghitung deforestasi di hutan primer, sedangkan Auriga Nusantara menyertakan hutan sekunder.
Secara metodologi WRI juga menyebutkan bahwa mereka menggunakan data tree cover loss (kehilangan tutupan pohon) berbasis data tutupan pohon tahun 2000.
Terpisah, Ketua Auriga Nusantara, Timer Manurung, menyebutkan dua poin pokok tersebut merupakan perbedaaan metodologi penghitungan deforestasi antara lembaganya dengan WRI. Makanya data kedua lembaga tersebut berbeda.
Auriga Nusantara sendiri menggunakan basis tutupan hutan alam pada akhir 2024 yang hilang pada 2024. Pertimbangan penggunaan basis data ini adalah kemungkinan kawasan yang sudah hilang tutupan pohonnya dalam tahun-tahun yang lampau sudah mengalami revegetasi.
Sementara penghitungan deforestasi hutan sekunder dilakukan karena hutan tersebut menjadi habitat bagi satwa.
“Hutan sekunder ini menyediakan pakan bagi satwa, daun-daun muda ataupun pepohonan yang masih baru. Makanya penting bagi kami untuk memasukkan penghitungan hutan sekunder ini,” kata dia.


Share