Atasi Karhutla dengan Halo-halo Karhutla

Penulis : Redaksi Betahita

Karhutla

Senin, 06 Agustus 2018

Editor : Redaksi Betahita

Betahita.id – Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLHK) terus mengintensifkan kegiatan “Halo-halo Karhutla” untuk merespon tingginya potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia. Kegiatan ini digelar Brigade Pengendalian Karhutla KLHK, Manggala Agni, seperti yang dilakukan Manggala Agni Daops Pontianak, Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan (PPIKHL) Wilayah Kalimantan, di Kalimantan Barat.

Dengan menggunakan mobil operasional yang dilengkapi pengeras suara, tim Manggala Agni berkeliling di sekitar Desa Rasau Jaya Satu dan Rasau Jaya Duadi. Pesan pencegahan karhutla disampaikan Manggala Agni kepada warga di pemukiman hingga ke areal pertanian dan perkebunan.’

“Melalui pengeras suara, Manggala Agni menyampaikan pesan-pesan dan menghimbau masyarakat, agar tidak membakar lahan secara sembarangan. Begitu juga masyarakat dihimbau agar tidak membuang puntung rokok sembarangan, yang akan memantik api di tengah kondisi yang kering seperti saat ini”, jelas Johny Santoso, Kepala Balai PPIKHL Wilayah Kalimantan melalui keterangan resminya Sabtu, 28 Juli 2018.

Selain pesan, masyarakat juga diminta segera melaporkan kepada pihak berwenang, jika menemukan kejadian kebakaran dan oknum pelakunya.

Ilustrasi kebakaran lahan dan hutan

Kegiatan ini akan dilakukan setiap hari ke desa-desa sasaran rawan karhutla, termasuk desa-desa sekitar Bandara Supadio, yang merupakan obyek penting di wilayah kerja Manggala Agni Daops Pontianak.

Menurut Johny, penyuluhan seperti ini perlu terus dilakukan kepada masyarakat, meskipun membutuhkan proses yang tidak singkat.

“Manggala Agni harus lebih mengedepankan aksi-aksi pencegahan, karena mencegah karhutla tentunya lebih baik daripada harus bersusah payah untuk menanggulanginya dengan segala dampak yang ditimbulkan”, tambahnya.

Sementara pantauan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Hari Jumat, pukul 20.00 WIB (27/07/2018), berdasarkan satelit NOAA terpantau 33 titik. Penyebaran titik-titik tersebut yaitu, tiga titik di Jambi, lima belas titik di Kalimantan Barat, delapan titik di Bangka Belitung, empat titik di Lampung, dua titik di Jawa Barat, dan satu titik di Sumatera Selatan.

Begitu pula halnya pantauan satelit TERRA AQUA, telah mendeteksi adanya 17 hotspot, yaitu delapan titik di Kalimantan Barat, enam titik di Papua, dan satu titik masing-masing di Kalimantan Utara, NTB dan NTT.