Lagi, Seorang Anak Meninggal di Eks-Galian Tambang Batu Bara

Penulis : Redaksi Betahita

Tambang

Jumat, 26 April 2019

Editor : Redaksi Betahita

Betahita.id – Praktik bisnis tambang yang tidak berkelanjutan terus memakan korban. Baru-baru ini, seorang anak kembali ditemukan meninggal di lubang tambang eks-galian batu bara sebuah konsesi perusahaan batu bara di Kalimantan Timur.

Rizki Nur Aulia (14 tahun), yang merupakan siswi kelas dua sekolah menengah pertama, ditemukan tewas pada 21 April 2019, di sebuah lubang tambang berjarak sekitar satu kilometer dari rumahnya. Almarhumah merupakan warga Desa Bunga Jadi RT 10, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kertanegara.

Baca Juga: Lubang Tambang Kembali Telan Korban, Aktivis Minta Jokowi Bertindak

Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Kaltim Pradama Rupang mengatakan tragedi ini menambah daftar panjang korban perusahaan tambang batu bara; yang meninggal akibat kelalaian dalam pemenuhan kewajiban reklamasi pasca-aktivitas tambang.

Ilustrasi lubang tambang. Foto: Dok. Jatam.org

“Rizki adalah korban ke-33 yang meninggal di lubang tambang di Kalimantan Timur,” kata Rupang saat dihubungi Betahita, Jumat, 26 April 2016.

Rupang mengaku pihaknya baru menerima informasi baru-baru ini dari masyarakat serta keluarga korban. Rupang menduga ada pihak-pihak tertentu yang ingin menutupi insiden tragis tersebut.

“Sepertinya informasi ini sengaja tidak disebarluaskan, sebagai upaya untuk menutupi kasus. Baik dari pihak perusahaan pemilik konsesi maupun pemerintah daerah,” katanya saat dihubungi Betahita, Jumat, 26 April 2016.

“Intinya mereka pihak-pihak yang akan merasa terganggu bila berita ini naik ke permukaan,” tegas Rupang.

Sementara itu, Rupang mengatakan bahwa pihaknya sedang berusaha mengidentifikasi perusahaan pemilik konsesi lokasi tenggelamnya Rizki.

“Kita masih dalam proses validasi (data),” kata Rupang.

Daftar Panjang Korban Lubang Tambang di Kaltim, Mayoritas Anak-anak

Insiden tenggelamnya warga di lubang tambang batu bara telah berlangsung selama kurang lebih delapan tahun, atau dimulai pada 2011. Mayoritas korban adalah anak-anak. Mereka meninggal di lubang tambang yang dipenuhi air seukuran kolam atau bahkan danau dengan luas mencapai puluhan atau ratusan hektare.