BBKSDA Riau Masih Berusaha Tangkap Harimau Penyerang Warga

Penulis : Redaksi Betahita

Biodiversitas

Kamis, 06 Februari 2020

Editor : Redaksi Betahita

Betahita.id – Sampai saat ini belum diketahui secara pasti sosok harimau mana yang telah menyerang warga hingga tewas di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, akhir Januari lalu. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau masih berupaya menemukan satwa pemilik nama latin Panthera tigris sumatrae tersebut, caranya dengan menggunakan kamera trap.

Baca juga: Harimau yang Dievakuasi dari Muara Enim Belum Dilepasliarkan

Kepala Bidang Teknis KSDA, BBKSDA Riau, M. Mahfud mengatakan, kasus harimau yang menyerang warga di Inhil, akhir Januari lalu saat ini masih dalam proses penanganan. Saat ini BBKSDA Riau sudah menerjunkan tim ke lapangan untuk memasang camera trap di lokasi-lokasi yang diduga menjadi koridornya harimau, berdasarkan jejak-jejak yang berhasil ditemukan.

“Dari hasil pengamatan, juga tangkapan camera trap, nantinya akan ditentukan lokasi-lokasi yang akan dipasang boxtrap atau kandang perangkap bagi harimau konflik yang telah menyebabkan korban manusia. Ini tim sudah 3 hari di lapangan dari rencana 8 hari,” kata Mahfud, Rabu (5/2/2020).

Jejak Harimau Sumatera./Foto: Dokumentasi BBKSDA Riau

Menurut Mahfud, belum ada kepastian berapa ekor harimau yang melakukan penyerangan terhadap warga di Inhil. Jumlah harimau ini baru bisa dipastikan, setidaknya setelah tim yang diterjunkan ke lokasi, berhasil memperoleh data, baik pengamatan maupun dari camera trap.

“Pastinya 1 ekor, bisa juga lebih. Setelah tim kembali dan dari data camera trap yang terpasang nanti akan diketahui perkiraan jumlahnya. Di habitatnya kawasan hutan produksi (serangan dan pemasangan camera trap). Kalau penyebabnya sudah pasti harimau. Tapi perlu tahu harimau yang mana.”

Mengenai upaya yang akan dilakukan selanjutnya terhadap harimau. Mahfud menjelaskan, hal tersebut baru bisa ditentukan apabila sudah ada kepastian harimau mana yang melakukan penyerangan dan juga arahan dari pusat.

“Kalau sudah bisa dipastikan bahwa harimau itu yang berkonflik. Untuk tindakan relokasi lepas liar atau harus direhabilitasi agar perilakunya kembali normal, nanti menunggu arahan dari pusat.”

Sedangkan untuk populasi harimau di Riau sendiri, saat ini BBKSDA belum bisa menyatakannya secara pasti. Namun populasi harimau di Riau dipastikan akan berkurang bila tidak ada kesadaran dari masyarakat bahwa harimau adalah termasuk satwa yang dilindungi.

“Pastinya harimau di Riau masih ada. Tapi untuk perkiraan jumlah, belum bisa dipastikan. Dan yang pasti populasinya bisa menjadi berkurang bila masyarakat tidak menyadari bahwa harimau itu satwa dilindungi yang harus dilestarikan keberadaannya.”

Berdasarkan data BBKSDA Riau, konflik harimau di Riau selama 2019 tercatat sebanyak 24 kejadian. Konflik tersebut, terjadi baik dengan manusia, dengan ternak maupun kejadian masuknya harimau ke perkampungan warga.

Akan Cocokkan DNA Harimau

Di kesempatan lain, Kepala BBKSDA Riau, Suharyono menjelaskan, sebelum timbulnya kejadian serangan harimau akhir Januari lalu, BBKSDA Riau bersama pemangku kepentingan lain, sebenarnya sudah bersepakat untuk menangani masalah harimau di wilayah Inhil. Saat ini pihaknya sudah menerjunkan tim pertama ke lapangan dan melakukan pemasangan sejumlah camera trap untuk memantau pergerakan harimau di tempat-tempat yang biasa menjadi perlintasan harimau.

“Setelah tim pertama turun dan bekerja selama 10 hari, saat ini tim kedua sudah di lapangan untuk melanjutkan kegiatan tersebut,” kata Suharyono, Rabu (5/2/2020).

Hasil pengamatan camera trap ini nantinya akan dijadikan data awal untuk memasang box trap atau kandang perangkap. Pemasangan box trap ini bukan ditujukan untuk kebutuhan evakuasi dan relokasi harimau. Melaikan untuk mendapat kepastian sosok harimau mana yang melakukan penyerangan terhadap warga.

Lebih lanjut Suharyono menjelaskan, pihaknya saat ini juga sedang berupaya untuk mendapatkan data DNA harimau yang menerkam warga. Dengan cara melakukan tes DNA terhadap bulu harimau yang menempel pada jenazah korban. Baik korban tewas akibat serangan harimau November 2019 lalu maupun korban tewas akhir Januari 2020 kemarin.

“Apabila nanti kami sudah memperoleh data DNA-nya maka akan kami bandingkan dengan DNA harimau yang sedang kita upayakan kita tangkap menggunakan box trap. Apabila DNA tersebut sama. Maka dapat dipastikan harimau tersebut akan kita observasi lebih lanjut. Pasti kita evakuasi dan belum tentu kita release lagi. Tapi jika tidak sama, maka harimau (yang akan ditangkap) harus dilepas kembali.”

Suharyono meminta dukungan seluruh pihak agar situasi tetap kondusif, sehingga tim yang turun ke lapangan dapat bekerja dengan baik. Selain itu dirinya juga minta kepada semua pihak agar jangan melakukan aktivitas yang tidak perlu di kawasan hutan, apalagi tindakan ilegal.

“Terakhir saya juga berharap, masyarakat tetap mendukung langkah-langkah yang sedang dilakukan oleh BBKSDA Riau bersama aparat serta aktivis konservasi yang lain. Serta tidak berbuat anarkis terhadap satwa yang dilindungi.”

Sementara itu, mengenai serangan harimau terhadap beberapa ternak milik warga yang terjadi di Kabupaten Siak, Riau, Selasa (4/2/2020) kemarin. Suharyono menjelaskan, serangan harimau tersebut terjadi di areal kerja Hutan Tanaman Industri yang dikelola oleh PT Arara Abadi. Terhadap kasus ini, BBKSDA Riau bersama tim dari Polri, serta pihak PT Arara Abadi sudah melakukan pengecekan ke lapangan.

“Kita sudah tindaklanjuti agar pemegang izin (PT Arata Abari) meningkatkan standar keamanan di daerah tersebut. Bila perlu mengurangi aktivitas di blok Tapung (lokasi kejadian). Kedua, kita minta pemegang izin memasang camera trap di wilayah itu. Ketiga, memnita pemegang izin menertibkan kegiatan penggembalaan sapi di areal kerjanya.”

Mengenai tindakan yang akan dilakukan terhadap harimau yang melakukan penyerangan ternak warga di areal PT Arara Abadi. Suharyono mengatakan, areal kerja PT Arara Abadi tersebut merupakan salah satu daerah jelajah harimau. Sehingga pihaknya belum belum berencana untuk melakukan tindakan evakuasi atau relokasi terhadap harimau.

“Lha memang daerah jelajahnya (harimau). Kalau semua ditangkap ya habis harimau kita.”

Sebelumnya, serangan harimau terjadi di Inhil, Riau. Serangan harimau ini mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Salah seorang warga Kecamatan Batang Tuaka, Inhil, Darmawan diketahui tewas diduga akibat serangan harimau saat mencari kayu di dalam hutan, di daerah Kecamatan Pelangiran, Inhil, Kamis (30/1/2020) siang lalu.

Selain serangan terhadap warga di Inhil. Serangan harimau terhadap ternak warga juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Siak. Dilaporkan terdapat 3 ternak sapi milik warga yang diduga dimangsa oleh harimau, di areal PT Arara Abadi, Selasa (4/2/2020).