Melacak Perkembangan Vaksin Covid-19 (Bagian Pertama)

Penulis : Kennial Laia

Covid-19

Selasa, 28 Juli 2020

Editor : Y. Y. Akhmadi

BETAHITA.ID -  Hingga saat ini pandemi corona virus disease 19 atau Covid-19 terus menginfeksi manusia di seluruh dunia. Setiap hari kasus baru muncul, termasuk di Indonesia yang sampai Senin, 27 Juli 2020, sudah menembus angka 100 ribu pasien positif.

Peneliti dan perusahaan farmasi pun berlomba dengan waktu untuk menemukan antidotnya, termasuk jenis obat untuk mengobati pasien yang terinfeksi dan vaksin untuk mencegah penularan. Perusahaan pelat merah Bio Farma bekerja sama dengan Sinovac Biotech, Cina, mengembangkan vaksin corona. Pengembangan vaksin akan memasuki fase uji klinis pada awal Agustus mendatang.

Baca juga: Dahlan Iskan Ingin Jadi Relawan Uji Coba Vaksin Covid-19 Sinovac

Hingga saat ini, peneliti di seluruh dunia sedang mengembangkan lebih dari 165 vaksin penangkal virus corona, dan 27 di antaranya sedang diujikan ke manusia. Biasanya, pengembangan vaksin butuh waktu bertahun-tahun untuk penelitian dan uji coba sebelum tiba di klinik. Namun peneliti mengejar waktu untuk memproduksi vaksin yang aman dan efektif yang dapat diproduksi tahun depan.

Ilustrasi vaksin Covid-19. Foto: Reuters

Pengembangan vaksin Covid-19 dimulai pada Januari 2020 dengan penguraian kode genom SARS-CoV-2. Vaksin pertama untuk uji keamanan (safety trial) pada manusia dimulai pada Maret. Namun hingga saat ini belum menunjukkan hasil. Sebagian besar uji coba kemungkinan akan gagal, dan lainnya tanpa hasil yang jelas. Namun beberapa yang dikembangkan berhasil dalam menstimulasi sistem imun untuk menghasilkan antibodi yang efektif melawan virus corona.

Dilansir dari The New York Times dan sumber lain, artikel ini merupakan bagian pertama dari pelacakan vaksin virus corona yang saat ini sedang dikembangkan institusi dan perusahaan di berbagai negara. Kategori pertama adalah Tahap Praklinis. Artinya, peneliti sedang mengujicobakannya kepada hewan seperti tikus atau monyet untuk melihat apakah vaksin itu memproduksi respon imun di dalam tubuh.

Sanofi dan Translate Bio

Perusahaan farmasi asal Prancis, Sanofi, mengembangkan vaksin mRNA bekerjasama dengan Translate Bio. Pada 23 Juni 2020, keduanya mengumumkan akan masuk ke uji coba Tahap I pada musim gugur 2020.

Bekerja sama dengan perusahaan GSK, Sanofi juga mengembangkan vaksin yang berbasis protein viral. Protein diproduksi dengan rekayara virus yang tumbuh di dalam sel serangga. Sementara itu GSK akan melengkapi protein dengan adjuvan yang merangsang sistem kekebalan tubuh. Sanofi mengatakan, dapat memproduksi setidaknya 600 juta dosis setahun jika berhasil dalam uji cobanya.

Novartis dan Massachusetts Eye and Ear Hospital

Novartis, perusahaan obat asal Swiss akan memproduksi vaksin berdasarkan pengobatan terapi gen yang dikembangkan oleh Massachusetts Eye and Ear Hospital, Amerika Serikat. Virus yang disebut adeno-associated virus mengirimkan fragmen gen koronavirus ke dalam sel. Uji coba Tahap I akan dimulai pada akhir tahun 2020.

Merck dan IAVI

Perusahaan asal Amerika, Merck, mengumumkan pada Mei 2020 akan mengembangkan vaksin dari virus stomatitis vesikular. Pendekatan yang sama sukses digunakan dalam memproduksi vaksin satu-satunya untuk Ebola. Perusahaan tersebut bekerja sama dengan organisasi nonprofit untuk penelitian ilmiah, International Aids Vaccine Innitiative (IAVI).

Merck juga bekerja sama dengan perusahaan asal Austria, Themis Bioscience, untuk mengembangkan vaksin keduanya. Vaksin ini akan menggunakan virus campak untuk membawa materi genetik ke dalam sel pasien.

Vaxart

Vaksin Vaxart merupakan tablet oral yang mengandung adenovirus yang membawa gen virus corona. Perusahaan ini sedang menyiapkan uji coba Tahap I musim panas ini.

Baylor College of Medicine dan Texas Children's Hospital

Peneliti di Baylor College of Medicine dengan cepat mengembangkan vaksin untuk mencegah terjadinya wabah lain setelah epidemi SARS melanda pada 2002. Sayangnya, tidak banyak dukungan finansial meskipun hasil awal penelitian vaksin tersebut menjanjikan. Kemiripan SARS dan Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona mendorong peneliti di insititusi tersebut kembali menghidupkan proyek lamanya bekerjasama dengan Texas Children's Hospital.

University of Pittsburgh

Vaksin Covid-19 yang dikembangkan di University of Pittsburgh, Amerika Serikat, ini disebut dengan PittCoVacc. Vaksin ini dikembangkan dari tambalan kulit yang ujungnya dilapisi dengan 400 jarum kecil yang terbuat dari gula. Ketika diletakkan di atas kulit, jarum akan melarutkan dan mengirimkan protein virus ke dalam tubuh.