Langka, Orangutan Kembar Lahir di TN Tanjung Puting

Penulis : Raden Ariyo Wicaksono

Biodiversitas

Selasa, 28 Juli 2020

Editor : Y. Y. Akhmadi

BETAHITA.ID -  Kejadian langka di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kotawaringin Barat, kalimantan Tengah. Orangutan betina di kawasan konservasi orangutan terbesar di dunia ini diketahui melahirkan lebih dari satu bayi alias kembar.

Humas Balai TNTP, Efan Ekananda mengatakan, orangutan betina yang melahirkan bayi kembar ini merupakan satwa liar bernama Linda yang beberapa kali terlihat berkeliaran di sekitar Resort Pesalat, Satuan Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) III Tanjung Harapan, TNTP.

Kelahiran kembar orangutan ini diketahui saat Linda berkeliaran di hutan sekitar Resort Pesalat dengan membawa dua bayi pada Desember 2019.

"Linda ini orangutan liar usianya diperkirakan sekitar 25 sampai 30 tahun. Jadi agak sulit untuk kita mendokumentasikan keberadaan bayi orangutan kembar itu. Baru pada Sabtu (18/7/2020) kemarin kita akhirnya berhasil mendapatkan dokumentasi foto dan videonya," kata Efan Ekananda, Kamis (23/7/2020).

Orangutan Linda bersama dua bayi kembar yang dilahirkannya berhasil didokumentasikan di TN Tanjung Puting./Foto: Efan Ekananda

Efan mengatakan, menurut staf TNTP dan petugas dari Orangutan Foundation International (OFI) yang bertugas di Resort Pesalat, saat pertama kali terlihat, dua bayi orangutan ini diperkirakan baru berusia 1 bulan atau lahir pada sekitar November 2019.

"Sejauh ini dua bayi orangutan kembar ini belum dikasih nama. Sudah ditawarkan kepada ibu Menteri LHK tapi belum ada tanggapan."

Berdasarkan pengamatan, kedua bayi orangutan kembar ini kondisinya terlihat sehat dan tumbuh dengan baik. Akan tetapi Linda terlihat tidak terlalu diterima atau terasingkan oleh orangutan lain yang setiap hari datang di Feeding Station Resort Pesalat. Itu sebabnya, khusus bagi Linda dan kedua bayinya, petugas memberikan pakan di tempat terpisah.

"Mungkin karena Linda ini menggendong dua bayi sekaligus, membuatnya terlihat aneh bagi orangutan lain. Jadi untuk mendapatkan makan, Linda ini biasanya akan mencegat petugas yang akan membawa makanan ke feeding station Pesalat."

Menurut Efan, bukan hal yang mudah bagi individu orangutan untuk merawat dua bayi sekaligus. Selain harus mendapatkan makanan yang lebih, serangan terhadap bayi orangutan oleh satwa lain juga sangat rentan terjadi.

"Karena ada kejadian bayi orangutan mati diseruduk babi. Karakter induk orangutan terhadap anaknya itu berbeda-beda sebenarnya. Ada yang begitu melahirkan tidak mau mengurus anaknya. Ada yang sayang banget sama anaknya, bahkan sampai bayinya mati tetap ditunggui. Kalau Linda ini kelihatanya sayang dengan kedua anaknya, dia membagi makanan dengan anak-anaknya."

Biasanya, kata Efan, bayi atau orangutan muda akan menempel pada induknya hingga berusia 8-10 tahun. Selama itu anak orangutan akan sangat bergantung pada induknya, terutama dalam hal mendapatkan makanan. Kebergantungan anak orangutan terhadap induknya ini berdampak pada repoduksi orangutan.

"Tapi semua bergantung pada ketersediaan makanan juga. Beda dengan di Sumatera yang lebih tersedia pakan alaminya. Kalau di Kalimantan rata-rata anak orangutan sekitar 8 sampai 10 tahun sudah mulai lepas dari induknya. Tingkat reproduksinya lebih lama."

Kelahiran orangutan kembar terakhir kali tercatat pada 2018 di Batang Toru, Sumatera Utara yang merupakan habitat Orangutan Tapanuli. Sebelumnya, kejadian serupa juga pernah di TNTP pada 2010.

"Pada 2010 juga pernah ada kelahiran orangutan kembar di TNTP. Saat itu orangutan yang melahirkan bernama Tut. Tapi salah satu bayi yang dilahirkan meninggal."

Kejadian kelahiran kembar orangutan ini sangat langka. Karena orangutan biasanya hanya akan melahirkan satu bayi saja di satu waktu. Efan menuturkan, berdasarkan hasil penelitian, peluang terjadinya kelahiran kembar orangutan di Kalimantan hanya 1,2 persen saja. Sedangkan orangutan di Sumatera lebih besar yakni 1,4 persen.

Pelaksana Tugas Kepala Balai TNTP Eko Susanto mengatakan, kabar tentang orangutan yang melahirkan bayi kembar tersebut sungguh mengembirakan. Karena kejadian serupa tidak banyak yang terekam.

"Alam selalu beregenerasi meski di kondisi pandemi seperti saat ini. Hal ini membuktikan bahwa Taman Nasional Tanjung Puting memainkan peran penting bagi keberlangsungan hidup orangutan," kata Eko Susanto, Selasa (21/7/2020).