Pemanasan Global: Satwa Dasar Laut Migrasi ke Arah yang Salah

Penulis : Betahita.id

Perubahan Iklim

Kamis, 10 September 2020

Editor : Y. Y. Akhmadi

BETAHITA.ID - Pemanasan global yang memicu perubahan iklim memaksa banyak satwa termasuk  spesies penghuni dasar laut mencari tempat baru agar bisa bertahan hidup. Mereka merespons menghangatnya air laut dengan bermigrasi mencari perairan yang lebih dingin.

Masalahnya, spesies dasar laut bukanlah perenang andal. Sebuah studi yang diterbitkan jurnal Nature Climate Change menemukan beberapa spesies di landas kontinen Atlantik Barat Laut seperti kerang, siput, bintang laut, dan cacing bahkan bermigrasi ke arah yang salah, yang justru mengancam keberlangsungan hidupnya.

Baca juga: Terumbu Karang Punah pada Tahun 2100 Akibat Pemanasan Global

Para peneliti menemukan bahwa migrasi yang salah dipicu oleh peningkatan suhu yang berdampak ketika tiba musim bertelur. Peningkatan suhu itu menyebabkan spesies bertelur lebih awal. Telur yang menjadi larva akan terpapar pola angin dan arus laut yang membawa mereka ke arah daratan dan perairan yang lebih hangat--yang tidak mereka alami pada musim bertelur normal.

Ilustrasi pemanasan global sebabkan suhu air laut naik. (carbonbrief.org)

Akibatnya kesempatan mereka untuk hidup sangat kecil. "Hal itu akan meningkatkan kemungkinan mereka semakin langka dan berpotensi punah oleh perubahan iklim,” ujar ahli ekologi kelautan di University of California di Santa Barbara, AS, Steve Gaines, yang tidak terlibat dalam penelitian itu.

Anggota tim penelitinya, Heidi Fuchs dari Rutgers University, New Jersey, AS, mengatakan spesies-spesies tersebut cenderung melepaskan larva kecil ketika air menghangat pada suhu tertentu. Pelepasan larva tersebut biasanya terjadi di akhir musim semi atau awal musim panas di pertengahan Samudera Atlantik.

Tapi, selama beberapa dekade, suhu laut rata-rata di Samudera Atlantik telah meningkat sekitar 2 derajat Celsius, sehingga spesies bentik tersebut melepaskan larvanya lebih awal, sekitar satu bulan sebelum waktu normal.

Selain itu, para peneliti tersebut juga mempelajari data 60 tahun terakhir dari 50 spesies invertebrata yang tinggal di dasar laut yang sama. Mereka menemukan sekitar 80 persen telah menghilang dari George Bank dan lana kontinen terluar terluar antara Semenanjung Delmarva dan Cape Cod, termasuk di lepas pantai New Jersey.

Baca juga:
Data 6 Institusi: Tahun Ini Diperkirakan Menjadi Tahun Terpanas

"Sangat mengkhawatirkan bahwa begitu banyak spesies yang dulunya sangat berlimpah telah hilang di sana," kata Fuchs. Beberapa spesies yang paling banyak mengalami penyusutan adalah sand dollar biasa serta kerang biru, dua spesies yang memiliki nilai ekonomis dan anggota kunci komunitas perairan pasang surut.

SCIENCE MAG | SCIENCE DAILY | TEMPO.CO | TERAS.ID